Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan besar untuk berperan aktif dalam pengembangan teknologi yang beretika dan berkemajuan. Sebab pada saat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan arus digital global banyak menjadi rujukan masyarakat dunia, maka berpotensi mengubah sikap moral manusia.
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat (MPI PP) Muhammadiyah, Ismail Fahmi, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang digelar pada Jumat malam (23/1/2026), mengatakan bahwa 20 tahun ke depan, ada tiga fese yang yang harus dilalui. Kalau Muhammadiyah tidak mengantisipasi tiap fasenya, maka akan ketinggalan.
Fase 1, The Great Transition (2026–2029)
Pada fase pertama disebut sebagai The Great Transition, yaitu masa ketika AI telah mampu menyamai kecerdasan rata-rata manusia dalam berbagai tugas kognitif, meskipun belum memiliki kesadaran. Hal ini pernah diprediksi oleh salah satu tokoh tokoh Google, Ray Kurzweil, yang menyatakan bahwa pada tahun 2029, AI diperkirakan akan lulus Turing Test yang valid dan mencapai tingkat kecerdasan setara manusia.
“Ini berarti hanya tinggal sekitar tiga tahun lagi. Dampaknya sangat besar. Ketika mesin sudah pintar, sebagian peran manusia akan mulai tergantikan, dan informasi yang benar maupun salah akan semakin sulit dibedakan,” jelas Fahmi.
Dalam konteks ini, Fahmi menegaskan peran penting Muhammadiyah sebagai “The Digital Verifier”, yakni rujukan utama dalam memverifikasi kebenaran informasi di tengah banjir hoaks dan disinformasi digital.
Fase 2, The Superintelligence Emergence (2030 – 2035)
Memasuki fase kedua, Fahmi menyebut era ini sebagai The Superintelligence Emergence, yaitu masa ketika kecerdasan AI melampaui kecerdasan manusia secara eksponensial.
“Posisi AI pada fase ini bisa mencapai 10 ribu kali lipat lebih pintar dari otak manusia. Bahkan, berbagai persoalan besar yang sebelumnya sulit dipecahkan mulai menemukan solusinya,” ujarnya.
Pada fase ini, Fahmi menilai bahwa kemajuan teknologi tersebut harus diimbangi dengan fondasi nilai yang kuat. Pasalnya, walaupun AI memiliki kecerdasan yang dahsyat, AI tetaplah teknologi yang tidak memiliki standar moral seperti halnya manusia.
Oleh karena itu, Muhammadiyah diharapkan hadir sebagai “The Moral Anchor” atau jangkar moral. Muhammadiyah harus hadir untuk membina umat agar terus memegang nilai etika dan moral kehidupan. “Ketika kecerdasan mesin melesat sangat jauh, standar moral tidak boleh ikut larut. Manusia harus tetap memegang nilai etika. Di sinilah Muhammadiyah berperan sebagai jangkar moral peradaban,” tegasnya.
Fase 3, The Era of Hybrid Humanity (2036–2045)
Fase ketiga adalah The Era of Hybrid Humanity, yakni era ketika manusia hidup berdampingan dan terintegrasi langsung dengan mesin. “Di fase ini, ada hybrid antara manusia dan mesin. Jadi itu sudah nempel,” ujar Fahmi.
Ia menggambarkan fase ini sebagai masa Homo Deus, sebuah konsep evolusi manusia masa depan yang ditopang oleh teknologi canggih seperti AI, dan rekayasa genetika. Namun, Fahmi mengingatkan adanya tantangan serius di balik kemajuan tersebut.
“Manusia berpotensi semakin stres, kehilangan kebahagiaan, dan terjebak dalam kelebihan informasi,” katanya.
Karena itu, Muhammadiyah diharapkan berperan sebagai “Guardian of Fitrah”, penjaga kemanusiaan dan benteng terakhir nilai-nilai fitrah yang tidak dapat disimulasikan oleh mesin. “Kita harus menjaga nilai kemanusiaan murni. Nilai yang tidak bisa direplikasi oleh teknologi,” tambahnya.
Rekomendasi untuk Muhammadiyah
Ismail Fahmi menekankan urgensi integrasi dan akselerasi data sebagai langkah strategis Muhammadiyah dalam menghadapi perkembangan AI.
“Seratus persen referensi Chat GPT hari ini masih mengarah ke kompetitor. Ketika umat bertanya kepada AI tentang Islam, algoritma belum menyajikan perspektif Muhammadiyah karena data kita belum terstruktur,” ungkapnya.
Menurut Fahmi, “jihad data” menjadi keniscayaan. Dalam hal ini, informasi melalui konten digital memiliki peran strategis sebagai pusat data dan referensi digital Muhammadiyah.
“Data dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kajian keislaman, khutbah, Himpunan Putusan Tarjih (HPT), hingga profil tokoh harus kita integrasikan dan sajikan secara sistematis,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa transformasi digital ini bukan pilihan, melainkan keharusan. (*/tim)
