Di atas kertas, ini soal tarif. Soal ekspor, impor, defisit neraca. Tapi kalau dilihat lebih dekat, perang dagang antara Donald Trump dan Xi Jinping bukan sekadar urusan ekonomi.
Ini ego dua negara besar, dua cara melihat dunia, dua pemimpin dengan gaya yang nyaris bertolak belakang.
Trump datang dengan misi “Make America Great Again”. Ia melihat Tiongkok bukan sebagai mitra dagang, tapi ancaman yang mencuri peluang kerja warga Amerika.
Jadi dia naikkan tarif untuk barang-barang Tiongkok. Alasannya sederhana: kalau produk Tiongkok jadi mahal, orang Amerika akan beli produk lokal. Terdengar logis. Tapi dunia tidak sesederhana itu.
Xi Jinping gak membalas dengan teriakan. Tapi dia balas. Diam-diam tapi tajam. Produk pertanian Amerika kena tarif balasan.
Petani-petani di negara bagian pendukung Trump mulai resah. Xi tahu di mana harus menekan. Dia tidak harus main keras di panggung, cukup menyentuh titik politik lawannya.
Secara psikologis, ini duel antara impulsif vs terstruktur. Trump adalah pengambil keputusan cepat, kadang tanpa prediksi jangka panjang.
Sedangkan Xi adalah perencana — kalem, tapi penuh strategi. Trump main cepat. Xi main sabar. Tapi dua-duanya sama-sama keras kepala.
Dan rakyat jadi taruhannya. Harga barang naik. Pasar global goyang. Negara-negara lain ikut kena imbas. Indonesia?
Kena juga. Investor ragu, ekspor terganggu. Dunia seperti papan catur besar, dan dua pemain utamanya sedang adu ego.
Islam mengingatkan bahwa persaingan dan perdagangan tak boleh merusak keadilan dan kesejahteraan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Celakalah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1–3)
Dalam hadis, Rasulullah saw juga bersabda:
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada di akhirat.” (HR. Tirmidzi)
Tapi kalau dagang berubah jadi senjata politik, nilai keadilan bisa lenyap. Ketika dua raksasa ekonomi menjadikan dunia sebagai ladang unjuk kekuatan, yang menderita justru mereka yang hanya ingin hidup tenang dan bekerja dengan jujur.
Perang dagang ini belum selesai, bahkan ketika Trump sudah turun dari kursi presiden. Dampaknya masih terasa.
Dan mungkin, yang tersisa dari perang ini bukan siapa menang siapa kalah. Tapi pelajaran bahwa ekonomi dunia sekarang bisa diguncang hanya oleh dua suara dari dua ruangan di dua negara yang jauh. (*)
