Salah satu keutamaaan bulan Ramadan adalah adanya lailatul qadar, yakni satu malam diturunkannya al-Qur’an, yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan.
Kata القدر memiliki banyak arti. Bisa berarti ketetapan, ketentuan, takdir, dan bisa juga berarti sempit. Sehingga ليلة القدر dapat dimaknai sebagai sebuah malam di mana Allah menentukan kehidupan hamba-Nya untuk tahun-tahun berikutnya.
Sementara itu, القدر yang berarti sempit dimaknai bahwa pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi. Sehingga menjadikan malam itu bumi menjadi sempit karena dipenuhi oleh malaikat yang turun untuk mencatat amal-amal manusia.
Menurut beberapa hadis, malam lailatul qadar ditengarai jatuh di hari-hari ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Maka tak heran, jika setiap hamba beriman menantikan untuk memperoleh kemuliaan malam ini dengan memperbanyak amalan ibadah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial di 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Hal ini sebagaimana pesan Rasulullah melalui hadisnya:
Dari Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
تَحَرَّوْا ليلة القدرِ في الوِتْرِ، من العشرِ الأواخرِ من رمضانَ
“Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadar (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan”.
Lailatul Qadar untuk Perempuan
Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, apakah lailatul qadar hanya didapatkan oleh orang-orang yang khusyuk beribadah di masjid pada 10 malam terakhir di bulan ramadan? Bagaimana dengan perempuan-perempuan yang berhalangan syar’i atau para ibu yang harus menjaga anak-anaknya yang masih butuh pengasuhan?
Bagaimana dengan orang yang di malam-malam terakhir ramadan justru memiliki tugas-tugas kemanusiaan? Misalnya tenaga kesehatan; dokter dan perawat di rumah sakit, pengemudi transportasi umum yang jasanya sangat dibutuhkan bagi para pemudik. Atau mungkin petugas keamanan, polisi, satpam yang harus menjaga keamanan masyarakat? Bahkan relawan yang berada di lokasi bencana. Apakah orang-orang semacam ini bisa mendapatkan kemuliaan lailatul qadar?
Dalam hal ini, menarik untuk mengutip perkataan syaikh Ahmad Isa al-Mi’sharawi. Ulama’ Ahli Qiraat dari Mesir itu mengatakan:
لا تبحثوا عن ليلة القدر بين أعمدة المساجد فحسب. بل ابحثوا عنها فى رضا أب و أم و أخ و أخت فى صلة رحم و إطعام مساكين و كسوة عارى وتأمين خائف ورفع مظلمة وكفالة يتيم ومساعدة مريض.
ابحثوا عنها فى رضا الرب و الإقلاع عن الذنب فى ضمائركم قبل مساجدكم فصنائع المعروف تقى مصارع السو
“Jangan mencari lailatul qadar hanya di tiang-tiang masjid saja, tetapi carilah ia dalam kerelaan bapak, ibu, saudara-saudari dengan menyambung silaturahim; memberi makan fakir miskin, memberi pakaian orang telanjang, memberi keamanan pada orang yang dalam ketakutan, menyantuni yatim, menolong orang sakit. Carilah Ridha Tuhan dan lepaskan dosa dalam nuranimu sebelum ke masjid.”
Raih Keutamaan dengan Beragam Amalan
Kita perlu memahami bahwa Rahman-Rahim Allah begitu luas. Demikian halnya dalam memaknai ibadah. Hadis nabi yang mengatakan bahwa “Setiap bumi adalah masjid (كل أرض مسجد)”, secara implisit mengandung makna bahwa ibadah sesungguhnya bisa dilakukan di bumi Allah manapun.
Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِيْ مَصَارِعَ السُّوْءِ وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ (رواه الطبراني)
Artinya: “Perbuatan-perbuatan baik akan melindungi kita dari berbagai keburukan dan sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi akan menghindarkan diri kita dari siksa Tuhan” (HR ath-Thabarani).
Oleh karena itu, bagi perempuan-perempuan yang di malam-malam terakhir Ramadan sedang berhalangan atau tengah disibukkan dengan balita dan anak-anak yang perlu dijaga sehingga mereka tidak bisa beri’tikaf di masjid, tidak perlu berkecil hati.
Menjaga anak-anak di rumah juga termasuk ibadah. Selain itu, lakukan amalan-amalan lain seperti memperbanyak zikir, istighfar dan sedekah. Insya Allah hal ini juga akan mendapatkan keutamaan dari Ramadan. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
