Perempuan dalam Dakwah: Mengukir Peran di Tengah Zaman

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Himmatul Ulya Nur
Bendahara KM3da IMM Jawa Timur

Dalam lintasan sejarah umat manusia, perempuan selalu memegang peran penting. Ia bukan hanya penjaga kehidupan, tapi juga penopang peradaban. Namun dalam narasi besar dakwah Islam, sering kali perempuan hanya dimaknai sebagai objek yang harus dibina, dinasihati, atau diarahkan. Padahal, jika kita menilik lebih dalam, perempuan adalah ruh yang menghidupkan dakwah islam baik melalui lisannya, keteladanannya, maupun perjuangannya yang senyap.

Sejak Islam datang, perempuan telah berdiri kokoh di barisan depan berperan dalam dakwah. Bisa dilihat beberapa tokoh perempuan seperti Khadijah binti Khuwailid yang bukan hanya istri Nabi, tapi juga pendukung moral dan finansial dakwah Islam pada fase paling genting. Keteguhan hatinya menjadi sumber kekuatan Nabi Muhammad SAW saat seluruh dunia memusuhi. Ia adalah contoh bahwa perempuan bisa menjadi pelindung risalah, bukan sekadar pengikut.

Adapun Aisyah ra., seorang perempuan muda yang cerdas dan kritis, penghafal ribuan hadis, guru para sahabat, dan rujukan para ulama. Suaranya didengar, pendapatnya diperhitungkan, dan warisannya masih abadi dalam ilmu-ilmu keislaman hingga hari ini. Ia menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya bisa hadir dalam ruang-ruang domestik, tetapi juga dapat menjadi otoritas dalam keilmuan dan spiritualitas.

Baca juga: Perempuan Perkasa, Sang Perisai Nabi

Dengan terus bergantinya zaman bentuk-bentuk dakwah mulai berubah. Dari mimbar ke layar, dari panggung ke media sosial. Namun peran perempuan tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan. Kini, perempuan tak hanya berbicara dalam forum tertutup. Ia menulis buku, membuat konten dakwah, menjadi pengajar, pendamping umat, bahkan pemimpin di lembaga keagamaan.

Namun jalan perempuan dalam dakwah tidak selalu mulus. Masih ada tantangan yang menghadang: budaya patriarkal yang meragukan kapasitas perempuan, tafsir-tafsir keagamaan yang menyempitkan perannya, hingga stigma yang menempel ketika seorang perempuan tampil di ruang publik menyuarakan kebaikan. Tapi di tengah segala itu, masih ada perempuan yang tetap melangkah dengan hati yang teguh dan niat yang lurus dalam berdakwah.

Perempuan dalam dakwah adalah simbol keseimbangan. Dakwah tidak hanya tentang menyerukan kebenaran dengan lantang, tapi juga menyentuh hati dengan kelembutan. Perempuan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan realitas hidup, menghidupkan kasih sayang dalam seruan, dan menghadirkan empati dalam nasihat.

Dakwah yang melibatkan perempuan secara aktif bukan hanya akan lebih inklusif, tetapi juga lebih kontekstual dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Karena siapa yang lebih tahu tentang kondisi perempuan, jika bukan perempuan sendiri? Siapa yang lebih mampu menyuarakan problematika keluarga, anak, pendidikan, dan sosial, jika bukan mereka yang menjalani langsung?

Perempuan dalam dakwah bukan hanya penting, tetapi mendesak. Karena banyak persoalan umat yang hanya bisa dipahami secara utuh melalui kacamata perempuan. Isu kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan reproduksi, dan peran ganda perempuan dalam masyarakat  semuanya butuh narasi yang jujur dari mereka yang mengalaminya langsung.

Maka saat kita bicara tentang dakwah hari ini, kita tidak bisa lagi meninggalkan perempuan di belakang. Sudah saatnya narasi dakwah diisi juga oleh suara-suara perempuan, bukan sekedar sebagai pelengkap, tapi sebagai penggerak. Karena dakwah adalah tugas bersama, bukan milik satu gender semata. Ia adalah kewajiban kolektif yang ditujukan kepada seluruh umat, tanpa membedakan jenis kelamin. Sudah jelas dalam sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 71:

Dan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar...”

Ayat ini menjadi dasar bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran setara dalam amar ma’ruf nahi munkar. Namun dalam praktik sosial, narasi dakwah masih didominasi laki-laki, sementara perempuan lebih sering diposisikan sebagai objek dakwah, bukan subjek yang turut menyebarkan nilai-nilai Islam.

Perempuan yang berkontribusi dalam dakwah. Bukan semata-mata sebagai bentuk emansipasi, tetapi sebagai bentuk realisasi nilai keadilan dan kesetaraan yang memang diajarkan Islam sejak awal. Karena dakwah yang ideal bukanlah dakwah yang dibatasi oleh gender, melainkan dakwah yang digerakkan oleh keikhlasan, ilmu, dan niat tulus untuk menyebarkan kebaikan.

Perempuan dalam dakwah adalah keniscayaan sejarah dan kebutuhan zaman. Mengabaikan suara mereka berarti kehilangan separuh potensi umat. Maka mari kita hadirkan kembali suara perempuan dalam dakwah, tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak yang menyampaikan, membimbing, dan menerangi jalan umat menuju kebaikan bersama.

Perempuan berdakwah bukan untuk menggantikan sebuah peran tapi untuk menyempurnakan. Dan diharapkan dalam langkah kaki perempuan yang tenang, dalam suaranya yang lembut tapi teguh, kita bisa menemukan arah baru menuju dakwah yang lebih adil, bijaksana, dan penuh kasih. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search