Dakwah perempuan tidak lagi terbatas pada pelayanan karitatif, tetapi bergerak menuju advokasi sistemik yang menyentuh akar persoalan sosial, keadilan gender, dan keberlanjutan kehidupan di era digital. Kiprah Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah, gerakanperempuan Muhammadiyah menjawab tantangan zaman.
Menurut Siti Syamsiyatun, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat Aisyiyah, gerakan perempuan Muhammadiyah memiliki fondasi ideologis yang kuat. Identitas Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah, berakar pada keteladanan Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok perempuan berpengetahuan luas, berintegritas, peduli pada lingkungan sosial, serta aktif terlibat dalam dinamika masyarakat.
“Transformasi dakwah Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah berlangsung dari pendekatan pelayanan charity-karitatif menuju advokasi sistemik. Perjuangan perempuan tidak lagi berhenti pada pemenuhan kebutuhan praktis, tetapi diarahkan pada pembelaan kepentingan gender strategis yang berkelanjutan, terutama dalam konteks relasi kuasa, kebijakan publik, dan ruang digital,” kata Siti Syamsiyatun, dalam acara Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) III Jawa Timur yang digelar di SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya, 26-28 Desember 2025.

Ia menambahkan, landasan ideologis gerakan ini bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an. QS Al-Ma’un menjadi dasar keberpihakan kepada kaum mustadh‘afin, QS An-Nahl ayat 97 menegaskan kesetaraan nilai amal dan iman laki-laki serta perempuan, sementara QS At-Taubah ayat 71 menjadi pijakan relasi kesalingan (mubadalah) antara perempuan dan laki-laki beriman. Dalam praktiknya, fikih perempuan dan keluarga terus dikembangkan secara progresif, melampaui isu domestik menuju kesetaraan gender yang komprehensif.
Pada ranah strategis, Aisyiyah mengelola jaringan pendidikan formal dari PAUD hingga perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah, sekaligus menguatkan pendidikan nonformal melalui pengajian, study group, Sekolah Wirausaha Aisyiyah, serta pelatihan kader seperti Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA).
Sektor kesehatan dan kesehatan reproduksi juga menjadi perhatian serius. Melalui Program Pashmina, Gerakan Zero Stunting, dan Lumbung Hidup, kader Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah aktif memastikan hak kesehatan perempuan dan anak terpenuhi tanpa diskriminasi.
Di bidang ekonomi, gerakan perempuan Muhammadiyah mendorong kemandirian dan keberdayaan melalui BUANA dan BUEKA. Selain inkubasi usaha, advokasi kebijakan tempat kerja ramah perempuan—seperti ruang menyusui, cuti melahirkan, dan lingkungan kerja yang aman—terus diperjuangkan sebagai bagian dari keadilan struktural.
Penguatan keluarga tangguh dan sakinah aktif mencegah perkawinan anak, mengadvokasi pencatatan perkawinan, mengampanyekan prinsip monogami berkeadilan, serta mendorong relasi suami-istri yang adil melalui praktik mu‘asyarah bil ma‘ruf. Perlindungan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga dilakukan melalui layanan konsultasi dan pendampingan hukum.
Selain itu, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah menginisiasi gerakan penyelamatan lingkungan dan pangan lokal bergizi. Literasi pengelolaan sampah berbasis 3R, gerakan Green Muhammadiyah, serta penguatan ketahanan pangan melalui Lumbung Hidup menempatkan perempuan sebagai aktor utama pelestarian lingkungan dan pengambil kebijakan di tingkat lokal.
Memasuki era digital, Nasyiatul Aisyiyah mengembangkan strategi dakwah digital berkemajuan melalui literasi digital, produksi konten moderat dan bermartabat, serta digitalisasi layanan konseling kesehatan dan hukum.
Ke depan, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah harus menjadi gerakan perempuan Muslim berkemajuan yang berakar kuat pada nilai Islam, responsif terhadap tantangan zaman, dan berorientasi pada keadilan serta kemanusiaan. Gerakan ini mengajak kader perempuan untuk terus bergerak, berdaya, dan berjuang dengan gembira serta penuh makna. (Hervina Emzulia)
