Perguruan Tinggi Islam Harus Melahirkan Generasi Cendekia yang Religius

Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid.
www.majelistabligh.id -

Perguruan Tinggi Islam sangat potensial melahirkan cendekiawan religius yang unggul, cinta bangsa, berwawasan global, berlandaskan nilai kebangsaan dan keislaman, serta berkontribusi pada pencapaian SDGs yang dicanangkan PBB sejak 2015. Sebab dari data yang ada, sebanyak 907 perguruan tinggi di bawah Kemenag mengalami perkembangan yang luar biasa.

“Ruang bagi pendidikan tinggi Islam untuk berkontribusi mempersiapkan hadirnya generasi Milenial atau Gen Z yang cendekia, unggul, modern, dan berwawasan global, tapi tetap berbasis pada prinsip-prinsip ajaran Islam, cinta bangsa dan negara,” kata Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW), dalam rilisnya, Senin (19/01/2026).

Rilis tersebut juga telah disampaikan HNW dalam kuliah umum dengan tema ‘Pendidikan Tinggi Islam dan Kenegaraan Berbasis SDGs: Membangun Cendekia yang Unggul, Modern, dan Berwawasan Global’ di Institut Asy-Syukriyyah, Tangerang.

Ia menambahkan, pendidikan tinggi Islam harusnya tidak memubadzirkannya, bahkan harus memaksimalkan potensi dan peluang yang dimilikinya. Dalam konteks keindonesiaan, terealisasinya program-program pendidikan tinggi Islam tidak bisa dilepaskan dari landasan konstitusional UUD 1945 hasil amandemen sebagaimana tuntutan reformasi, yaitu dalam Pasal 31 ayat 3, ayat 4, dan ayat 5.

Pasal 31 ayat 3 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Nilai keagamaan dan kenegaraan menyatu dalam pasal tersebut.

Kemudian, Pasal 31 ayat 4, menegaskan tentang pemerintah menyiapkan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN/APBD untuk merealisasi tujuan pendidikan nasional. Untuk tahun 2026, pemerintah menganggarkan sebesar Rp 754 triliun untuk pendidikan.

Ditambah dengan Pasal 31 ayat 5, ditegaskan bahwa dalam hal negara memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetap dengan menjunjung tinggi agama dan persatuan nasional.

“Indonesia sering disebut sebagai negara yang jumlah umat Islamnya terbesar di dunia dari sisi jumlah penduduknya, tapi sesungguhnya juga terbesar dari sisi jumlah masjid, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam,” tandasnya.

Perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, jumlahnya 2.970 perguruan tinggi. Sedangkan Perguruan tinggi yang berada di bawah Kementerian Agama, jumlahnya 907 perguruan tinggi.

Bila ditarik dari sejarah kebangkitan Indonesia dan umat Islam memang dimulai dari keberpihakan pada pendidikan yang berkeunggulan. Dalam konteks Islam, firman atau wahyu pertama justru tentang membaca/belajar tapi yang religius maka perintah pertamanya adalah ‘Iqra bismi Rabbika’. Artinya, pendidikan lah yang dijadikan Islam sebagai asas dasar kebangkitan umat, bangsa dan peradaban umat.

Hal ini bisa dilihat dari jejak sejarah nama-nama cendekiawan atau intelektual muslim, seperti Al-Khawarizmy (bidang matematika), Ibnu Sina (kedokteran) dan lain-lain. Karena itu, hadirnya para cendekiawan muslim unggulan/kelas dunia seperti itu, perlu menjadi spirit dan inspirasi bangsa bagi pendidikan tinggi Islam.

“Pendidikan tinggi Islam sesuai jati diri dan juga bagian dari target SDGs, juga perlu berkolaborasi dengan masyarakat global, seperti pendidikan tinggi Islam di Timur Tengah atau lainnya,” jelasnya. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search