Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat dan kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan. Namun, bagaimana agar Ramadan benar-benar menjadi berkah bagi kita?
Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa ibadah adalah sebuah perlombaan:
“Maka berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebajikan atau ibadah.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Jika ibadah diibaratkan sebagai perlombaan, maka Ramadan adalah “olimpiade” bagi para ahli takwa. Sebagaimana seorang atlet tidak mungkin memenangkan olimpiade tanpa latihan, pemanasan, dan persiapan matang, begitu pula dengan ibadah di bulan Ramadan.
Masuk ke bulan penuh berkah tanpa persiapan hanya akan membuat kita kewalahan dan sulit mencapai tujuan ketakwaan.
Sekarang, Ramadan tinggal enam hari lagi. Coba tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah kita sudah menjadi ahli tahajud?
- Apakah kita sudah terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari?
- Apakah kita sudah ahli dalam berpuasa dengan penuh kesabaran?
- Apakah kita sudah terbiasa bersedekah dan berinfak?
Jika jawabannya belum, maka kita harus segera memulai pemanasan dari sekarang! Ibadah di bulan Ramadan itu seperti lari maraton, bukan sprint.
Jika kita langsung berlari tanpa pemanasan, bisa-bisa kita mengalami kram di tengah jalan dan menyerah sebelum mencapai garis akhir.
Lihatlah para ulama terdahulu, mereka sudah mulai meningkatkan ibadah sejak bulan Sya’ban. Imam Al-Mula’i rahimahullah, seorang ulama besar, menutup tokonya selama dua bulan, dari Sya’ban hingga Syawal, hanya untuk fokus membaca Al-Qur’an, memperbanyak qiyamul lail, dan meningkatkan sedekah.
Tak heran jika Utsman bin Affan RA mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu hari. Semua ini karena ada persiapan matang, bukan sekadar niat sesaat.
Promo Mal vs Bukber Ukhuwah
Tantangan di bulan Ramadan semakin berat. Di satu sisi, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberikan pahala dan ampunan yang melimpah.
Di sisi lain, pusat perbelanjaan menawarkan diskon besar-besaran, membuat kita tergoda untuk lebih sibuk belanja daripada beribadah.
Sebagai solusi, alangkah baiknya jika kita mengutamakan memperkuat ukhuwah Islamiyah melalui buka bersama teman lama, kolega, atau saudara. Menjalin silaturahmi dapat membawa keberkahan dalam hidup kita. Namun, pastikan untuk tetap menjaga kewajiban ibadah:
- Salat Maghrib sebelum atau sesudah buka puasa bersama.
- Jangan tinggalkan sholat Isya dan Tarawih.
- Fenomena Tahunan: Semangat yang Menurun
Setiap tahun, kita melihat fenomena yang sama di masjid. Malam pertama Ramadan, shaf jamaah penuh sesak. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah jamaah semakin berkurang hingga akhirnya, di akhir Ramadan, yang tersisa hanya imam dan muazin. Penyebabnya? Kurangnya persiapan dan godaan dunia yang mengalihkan fokus ibadah.
Oleh karena itu, jangan menunggu 1 Ramadan untuk mulai beribadah. Mulailah sekarang! Bangun kebiasaan membaca Al-Qur’an, sholat malam, bersedekah, dan memperbanyak amal saleh. Dengan begitu, kita tidak akan kewalahan ketika memasuki bulan suci ini.
Mari jadikan Ramadan tahun ini sebagai ajang untuk meraih “medali takwa” dengan persiapan yang maksimal. Jangan tergoda oleh promo dunia, tetapi kejarlah pahala dan keberkahan yang sesungguhnya! (*)
