Islam adalah agama tauhid, agama yang menegaskan keesaan Allah SWT sebagai pusat keyakinan, orientasi hidup, dan sumber nilai. Namun dalam praktik kehidupan beragama, tauhid sering kali dipersempit hanya pada aspek ritual dan teologis, tanpa implikasi nyata dalam kehidupan sosial. Akibatnya, lahir keberagamaan yang tampak saleh secara individu, tetapi abai terhadap persoalan kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan penderitaan sosial.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan menghadirkan pemahaman tauhid sosial, yaitu tauhid yang tidak berhenti pada keyakinan, tetapi melahirkan amal nyata, keberpihakan sosial, dan gerakan pembebasan. Tauhid sosial inilah yang menjadi jiwa nilai kekaderan Muhammadiyah.
Makna Tauhid dalam Islam
Tauhid berarti mengesakan Allah SWT dalam keyakinan, ibadah, dan pengabdian.
Al-Ikhlas: 1–2
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
Artinya: Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu.
Tauhid bukan sekadar konsep akidah, melainkan fondasi etika dan orientasi hidup. Tauhid membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT.
Tauhid Sosial dalam Islam
Tauhid sosial adalah pemahaman tauhid yang diturunkan ke dalam kehidupan sosial. Ia menegaskan bahwa keimanan kepada Allah harus tercermin dalam Kepedulian terhadap sesama, Keberpihakan kepada kaum lemah, dan Perjuangan menegakkan keadilan.
Al-‘Ashr: 1–3
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan beramal saleh.
Ayat ini menegaskan bahwa iman selalu dipasangkan dengan amal saleh. Tanpa amal, iman kehilangan makna sosialnya.
Tauhid Sosial dan Kekaderan Muhammadiyah
Dalam Muhammadiyah, tauhid sosial menjadi basis ideologis kader. Kader tidak hanya dituntut taat secara personal, tetapi hadir sebagai agen perubahan sosial.
Al-Bayyinah: 5: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas”.
Kader Muhammadiyah berjuang bukan karena jabatan, popularitas, atau kepentingan pribadi. Melainkan karena amanah tauhid.
Tauhid Melahirkan Keadilan dan Keberpihakan
An-Nahl: 90
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan”.
Tauhid sosial menolak segala bentuk penindasan, ketimpangan sosial, serta eksploitasi manusia. Seorang Kader harus berdiri pada pihak Mustadh’afin.
Tauhid Melahirkan Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
QS Ali ‘Imran: 104: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan.”
Amar ma’ruf nahi munkar dalam Muhammadiyah Tidak berhenti pada ceramah, Tetapi diwujudkan dalam pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Tauhid sosial adalah bukti keimanan yang hidup dan membumi. Dalam nilai kekaderan Muhammadiyah, tauhid bukan hanya keyakinan teologis, tetapi energi gerakan untuk membangun peradaban Islam yang berkeadilan dan berkemajuan.
Ber-Muhammadiyah berarti mentauhidkan Allah sekaligus memanusiakan manusia.
Nashrumminallah…
