Tingkat kepercayaan publik pada Muhammadiyah semakin tinggi seiring dengan langkah organisasi ini yang selalu memberikan rasa kebermanfaatan pada masyarakat. Bahkan berdasarkan survei yang dilakukan oleh media Kompas pada tahun 2024 lalu, Muhammadiyah mendapat nilai nyaris sempurna, yaitu 91 persen.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa menjaga kepercayaan publik sangat penting bagi keluarga besar Muhammadiyah. Mengapa kepercayaan publik begitu besar pada Muhammdiyah?
Menurut Haedar Nashir, karena Muhammadiyah memiliki lima prinsip dan akan terus dijaga. Prinsip yang pertama adalah jujur dan amanah. Prinsip ini sesuai dengan sifat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. “Prinsip jujur dan amanah menjadi sesuatu yang mahal di masa sekarang,” tegasnya.
Kedua, adalah prinsip profesional. Profesionalitas yang dibangun Muhammadiyah menjadi basis gerakan sehingga pelayanan Muhammadiyah di berbagai bidang dirasakan oleh masyarakat banyak dan sangat berdampak. Lebih-lebih dalam pengelolaan pendidikan tinggi, 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) menjadi bukti profesionalitas Muhammadiyah. PTMA tidak dikelola sembarangan, ada insan ahli sesuai bidang yang ditempatkan.
“PTMA sudah memiliki habitat atau kebiasaan dan culture atau kebudayaan yang profesional bahwa kita akan mengelola dunia pendidikan. Profesionalitas di Muhammadiyah dibangun dengan landasan meritokrasi,” imbuh Haedar.
Prinsip ketiga yang dipegang Muhammadiyah sehingga menjadi organisasi kemasyarakat terpercaya adalah modern. Muhammadiyah menempatkan agama Islam selalu kontekstual dengan perkembangan zaman.
“Kemodernan kita akan selalu menghadapi perkembangan zaman, menjawab tantangan zaman dengan nilai-nilai Islam yang kita miliki, yakni Islam Berkemajuan,” ungkap Haedar.
Keempat adalah prinsip berkemajuan, prinsip ini mendorong institusi pendidikan Muhammadiyah, khususnya PTMA untuk selalu di depan. Untuk berada selalu di posisi depan dibutuhkan kolaborasi dan sinergi multipihak.
Prinsip berkemajuan tidak hanya tercermin dalam gerak amal usaha, tapi juga dalam pemikiran warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah. Kemajuan yang diinginkan Muhammadiyah tentu berdasar pada nilai-nilai Islam.
Kelima atau prinsip yang terakhir adalah sistematik. Muhammadiyah selalu mengelola amal usahanya dengan sistem yang kokoh. Sistem ini tidak hanya berjalan di pusat, tapi juga di wilayah, daerah, cabang, sampai ranting.
“Berbagai orang masuk menjadi pimpinan dengan keragamannya, dengan dinamikanya, tapi semuanya diikat oleh sistem bahkan sebuah keputusan pun ketika terjadi banyak perbedaan diikat oleh sistem,” katanya. (*/tim)
