Salah satu peserta Khotmul Qur’an dan Imtihan ke-3 SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya mengalami kendala saat uji publik, membuat para tamu undangan ikut tegang. Acara ini berlangsung pada Sabtu, 31 Mei 2025.
Khotmul Qur’an dan Imtihan yang mengusung tema “Bersama Al-Qur’an Menjemput Masa Depan Gemilang” digelar di lantai 6 Tower SMAMDA Surabaya.
Kegiatan ini diperuntukkan bagi siswa yang telah menyelesaikan program Tartil, Tahfidz, dan Tilawah (Tujuman).
Wajah-wajah ceria tampak dari para peserta. Mereka mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh semangat dan hikmah.
Salah satu sesi yang paling dinanti adalah uji publik. Ini menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menegangkan, karena para peserta akan diuji secara acak oleh orang tua dan tamu undangan yang hadir.
“Bapak-Ibu, kami persilakan untuk menguji para peserta dengan cara memberikan pertanyaan sesuai jenjang program yang diikuti,” ujar Achmad Mufti Hidayat, M.H.I.
“Silakan pilih salah satu peserta dari masing-masing kategori. Boleh putra-putri sendiri, boleh juga peserta lainnya,” lanjutnya.
Tak lama berselang, seorang ibu mengangkat tangan tinggi-tinggi.
“Silakan, Bunda. Mau pilih nomor berapa?” tanya Lutfi—sapaan akrab Achmad Mufti Hidayat.
“Saya pilih nomor 11,” ujar Ferina Martha Zulaikha singkat.
Ternyata, peserta bernomor dada 11 adalah Ori Yusuf Mahiswari, siswa kelas 1-B, yang tidak lain adalah putrinya sendiri.
Ferina kemudian meminta Ori melantunkan Surah An-Naba’. Tanpa ragu, peserta Tahfidz Juz 30 dari jenjang kelas paling rendah ini pun melantunkan ayat-ayat dengan lantang dan lancar.
Seluruh mata tertuju pada gadis mungil itu. Setelah membaca beberapa ayat, Lutfi meminta Ori melanjutkan bacaan yang terakhir dibacakan. Dengan percaya diri, Ori menyambung ayat tersebut dengan lancar dan jelas.
Sang ibu menyimak dengan khusyuk, bahkan terlihat haru.
“Baik, Bunda. Mau memberi nilai berapa untuk putrinya?” tanya Lutfi.
“Saya beri nilai 99,” jawab Ferina dengan penuh keyakinan.
Tak kalah harunya, M. Fadllullah Zamzami—guru mengaji Ori—spontan maju ke depan, mengucapkan selamat, dan memberikan amplop hadiah. Aksi itu disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.
Antusiasme para orang tua untuk ikut serta dalam uji publik sangat luar biasa. Mereka ramai-ramai mengangkat tangan, dan seluruh peserta yang diuji mampu menjawab dengan tepat.
Namun, terjadi satu insiden ketika seorang anak tiba-tiba terhenti membaca saat diminta melantunkan ayat Al-Qur’an. Suasana pun mendadak tegang.
“Kenapa berhenti?” tanya perwakilan dari Ummi Foundation Cabang Surabaya.
“Saya tidak bisa melihat tulisannya dengan jelas, Ustaz,” jawab Dzakira Nabila Isnanda, siswa kelas 4-ICP.
Lutfi kemudian memindahkan tampilan ke layar yang lebih besar. Ternyata, Dzakira—peserta kategori Tartil—bisa membaca dengan lancar setelah tulisan diperbesar. Penonton pun merasa lega dan menyambutnya dengan tepuk tangan.
“Allahummarham bil Qur’an!” seru Lutfi sembari bertepuk tangan.
“Maaf, biasanya Nabila pakai kacamata. Hari ini dia tidak mengenakannya,” ujar ayahnya dari barisan belakang.
Sesi uji publik pun ditutup dengan hasil yang sangat memuaskan. Para orang tua yang hadir merasa bangga mendampingi putra-putri mereka yang berhasil menunjukkan kemampuan terbaik. (basirun)
