Pelatihan Instruktur Madya (PIM) DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur, Senin (30/06/2025) membahas sejumlah agenda penting. Setelah shalat Subuh dengan suasana yang syahdu terdapat kajian pagi dengan pembahasan isu perempuan dari kelompok 4 forum keislaman. Mereka terdiri atas Immawan Muzaki, Immawan Amroe, Immawan Mahbub, Immawan Mitsal, Immawan Zaidan dan Immawati Aminah.
Pembahasan dimulai dengan isu-isu perempuan yakni tentang kesetaraan gender, kekerasan terhadap perempuan, perempuan dan kesehatan reproduksi, perempuan dalam dunia kerja, budaya patriarki, dan peran perempuan dalam perubahan.
Pembahasan salanjutnya untuk mendudukan terlebih dahulu bagaimana Islam memandang kedudukan perempuan. Ajaran Islam ternyata tidak membedakan laki-laki dan perempuan, kecuali ketakwaannya (Al Hujurat : 13). Secara fitrah dan kemanusiaan juga sederajat karena perempuan dan laki-laki berasal dari sumber yang sama (An Nisa : 1). Bahkan laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama untuk meraih kedudukan tinggi di sisi Allah ( An Nisa: 124).
Misi penciptaan manusia dalam Al Baqarah : 30 juga menunjukkan bahwa yang menjadi khalifah bukan dari satu jenis manusia namun juga tugas besar bersama (yakni laki-laki dan perempuan). Pandangan Muhammadiyah juga sama, bahwa kedudukan perempuan sudah dijelaskan sangat jelas terutama dalam Risalah Perempuan Berkemajuan (RPB).
Point-point Komitmen Perempuan Berkemajuan yakni:
1. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2.Pelestarian Lingkungan
3. Penguatan Keluarga Sakinah
4. Pemberdayaan Masyarakat
5. Filantropi Berkemajuan
6. Aktor Perdamaian
7. Partisipasi Publik
8. Kemandirian Ekonomi
9. Peran Kebangsaan
10. Kemanusiaan Universal
Selanjutnya kelompok 4 menyinggung mengenai gerakan perempuan itu sendiri, sejarah gerakan perempuan Indonesia seperti perjuangan Marsinah yang belum terorganisir menjadi semangat pergerakan perempuan untuk mengorganisir diri, yang selanjutnya menjadi tokoh penyadaran gerakan perempuan.
Selanjutnya gerakan perempuan di tiap daerah dan tumbuh hingga mengadvokasi baik secara sosial dan politik gerakan perempuan.
Latar belakang muncul di abad XIX, karena ada gerakan pendidikan nasional sehingga mempengaruhi cara berfikir, termasuk untuk melawan kolonialisme, perempuan mulai masuk dunia pendidikan. Sedangkan pada abad XX, mengenal gerakan perempuan internasional yang menuntut kesetaraan gender.
Pembahasan ditutup dengan gerakan immawati progresif sehingga kongkrit untuk gerakan IMM. Implementasi immawati progresif adalah upaya untuk mewujudkan kader perempuan yang memiliki pola pikir kritis, berdaya, dan berkontribusi aktif dalam gerakan sosial, politik, dan ekonomi, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah. Ini melibatkan pengembangan potensi diri, pengarusutamaan gender, dan respons terhadap isu-isu kemanusiaan melalui berbagai program dan kegiatan.
Merujuk Konsep Dasar Islam Progresif:
Memahami ajaran Islam secara terbuka, mempertimbangkan konteks sosial, historis, dan budaya, serta mencari penafsiran yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pengarusutamaan Gender:
Memastikan kesetaraan hak dan kesempatan bagi perempuan dalam berbagai bidang, termasuk di lingkungan IMM dan Muhammadiyah.
Pemberdayaan Perempuan:
Meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan IMMawati agar dapat berperan aktif dalam berbagai sektor kehidupan.
Kontribusi Sosial:
Menciptakan dampak positif bagi masyarakat melalui program-program yang relevan dengan isu-isu kemanusiaan dan pemberdayaan perempuan. (moch muzaki)
