Pidato di IBF 2025, Haedar Nashir Ajak Bangsa Bangun Literasi Bermartabat

www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir mendorong pentingnya penguatan budaya literasi sebagai upaya strategis dalam memperbaiki keadaban publik di tengah arus zaman yang penuh distraksi dan krisis nilai.

Hal ini disampaikan Haedar Nashir dalam pidatonya saat membuka Islamic Book Fair (IBF) 2025 yang digelar di Jakarta, pada Rabu (18/6/2025).

Menurut Haedar, literasi bukan hanya soal kebiasaan membaca dan menulis, melainkan sebuah fondasi yang akan menentukan kualitas kecerdasan, kemuliaan akhlak (adab), dan kekayaan budaya suatu bangsa.

“Ketika budaya literasi menguat, maka akan lahir masyarakat yang berpikir jernih, berperilaku santun, dan mampu menciptakan peradaban yang unggul,” katanya.

Namun sebaliknya, imbuh Haedar, jika budaya literasi melemah, masyarakat akan kehilangan arah dalam berpikir, menjadi permisif terhadap perilaku tidak beradab, dan mengalami kemerosotan budaya.

Haedar mencontohkan fenomena rendahnya literasi dapat terlihat dari perilaku masyarakat di ruang-ruang publik, termasuk forum-forum resmi.

Dia mengkritisi kebiasaan sebagian orang yang lebih senang berbincang ngalor-ngidul tanpa arah, bahkan saat berada dalam forum penting seperti seminar atau ceramah.

“Ketika seseorang sedang menyampaikan pidato atau orasi ilmiah, tak sedikit yang justru asyik mengobrol sendiri, tak memperhatikan pembicara, atau sibuk bermain dengan gawainya,” ujarnya.

Menurut Haedar, distraksi dari perangkat digital, seperti ponsel pintar yang kini dimiliki hampir setiap orang bahkan lebih dari satu unit, juga turut memperparah degradasi perhatian dan kebiasaan berpikir mendalam.

Fenomena ini secara tak langsung mencerminkan betapa rendahnya tingkat literasi yang sesungguhnya dimiliki oleh masyarakat.

“Literasi itu tidak mudah. Menulis dan membaca memerlukan struktur berpikir yang sistematis. Padahal berpikir saja sudah tidak mudah, apalagi menulis yang butuh kemampuan merangkai gagasan secara tertib,” ujar Haedar mengutip hasil penelitian Perpustakaan Nasional pada 2017 yang menunjukkan bahwa rata-rata waktu membaca masyarakat Indonesia hanya sekitar 30 hingga 59 menit per hari.

Haedar juga mengatakan bahwa membangun budaya literasi bukan sekadar untuk meningkatkan minat baca, melainkan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang memiliki keadaban tinggi dan mampu menjunjung nilai-nilai kemanusiaan serta spiritualitas.

“Literasi harus menjadi jalan menuju puncak peradaban yang berakar dari nilai-nilai keislaman,” katanya.

Lebih lanjut, Haedar mengingatkan bahwa Islam sejak awal telah membawa pesan literasi yang sangat kuat melalui wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu perintah “Iqra” atau bacalah.

Namun, makna dari ‘iqra’ dalam pandangan Haedar tidak terbatas pada membaca teks, tetapi juga mencakup kegiatan berpikir kritis, merenung, memahami konteks, dan menyadari keterhubungan dengan Tuhan.

“‘Iqra’ dalam Islam itu lebih dari sekadar membaca. Ia merupakan aktivitas berpikir menyeluruh dalam berbagai dimensi kehidupan. Bahkan, membaca dalam Islam dilakukan atas nama Tuhan, bukan atas nama kepentingan dunia semata. Maka saya menyebutnya sebagai literasi yang berpayungkan langit,” tutur Haedar.

Inilah yang menurutnya membedakan literasi dalam tradisi Islam dengan literasi sekuler.

Literasi Islam bukan sekadar alat untuk memperoleh pengetahuan duniawi, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menjaga harmoni dengan alam semesta, dan menciptakan masyarakat yang adil dan berperikemanusiaan.

Haedar pun menyitir perubahan besar yang terjadi di Jazirah Arab setelah datangnya Islam.

“Tradisi yang sebelumnya meminggirkan perempuan, menyelesaikan konflik dengan kekerasan, dan membenarkan praktik riba, berhasil dikikis habis melalui semangat literasi Islam yang diawali dari perintah “iqra”,” terangnya.

Dalam waktu singkat, masyarakat Arab mengalami transformasi peradaban yang luar biasa.

Bahkan, keadaban publik yang lahir dari Islam tersebut kemudian tersebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, menjadikan Islam sebagai agama yang kosmopolit dan rahmatan lil alamin.

Haedar mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya umat Islam, untuk kembali menumbuhkan semangat literasi sebagai upaya kolektif membangun bangsa yang maju, berbudaya luhur, dan berperadaban tinggi. (*/wh)

 

Tinggalkan Balasan

Search