Podium “Jati Tuwo” Moehammadijah dalam Sejarah Kajian Ahad PahingMu Masjid Almanar

Kyai Yoyon Mudjiono, memberikan tausiah Ahad PahingMu Masjid Almanar pada Podium “Jati Tuwo” Moehamadijah.
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Podium kayu bertuliskan ukiran “Moehammadijah” yang kini berdiri kokoh di Masjid Almanar Nglencong, bukan sekadar perabot mimbar biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan dakwah dan pendidikan Muhammadiyah di wilayah barat daya Kabupaten Ngawi sejak pertengahan abad ke-20.

Podium tersebut dibuat pada era 1960-an, menggunakan kayu jati kuno—atau yang oleh warga setempat disebut “jati tuwo”—yang banyak tumbuh di kebun penduduk Desa Nglencong, Kauman, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Pada masa itu, kayu jati dikenal sebagai material unggulan karena kekuatannya yang mampu bertahan lintas generasi.

Ukiran “MOEHAMMADIJAH” dan di bawahnya juga ada ukiran Sinar Sang Surya, pada bagian depan podium menggunakan ejaan lama, mencerminkan identitas persyarikatan pada periode awal sebelum penyempurnaan ejaan Bahasa Indonesia.

Ejaan tersebut juga menjadi penanda bahwa podium ini dibuat dalam semangat mempertahankan warisan tradisi organisasi yang berdiri sejak 1912 di Yogyakarta dan terus berkembang hingga pelosok desa.

Pada dekade 1960-an, perkembangan Muhammadiyah di pedesaan Jawa Timur, termasuk Ngawi, bertumpu pada gerakan pendidikan dan pengajian rutin. Podium ini kerap digunakan oleh para tokoh Muhammadiyah Nglencong tempo dulu untuk menyampaikan khutbah, ceramah, dan pengajian, khususnya di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) setempat.

Pernah “Tersembunyi” Puluhan Tahun

Seiring renovasi beberapa bagian gedung MIM sekitar akhir 1990-an hingga awal 2000-an, podium bersejarah ini sempat disimpan di gudang madrasah. Selama puluhan tahun, keberadaannya nyaris terlupakan. Namun kondisi kayu jati tua yang kokoh membuatnya tetap terjaga meski tak lagi digunakan secara aktif.

Titik balik terjadi pada Agustus 2009. Bertepatan dengan dimulainya kajian rutin Ahad pagi yang diselenggarakan setiap 35 hari sekali—tepat pada Ahad Pahing—podium tersebut dipindahkan ke Masjid Almanar Nglencong. Sejak saat itu, kajian tersebut dikenal luas dengan nama “Ahad PahingMu Masjid Almanar”.

Kehadiran kembali podium klasik ini menjadi simbol kebangkitan semangat dakwah berbasis tradisi lokal Muhammadiyah. Ia tidak hanya difungsikan sebagai tempat berdiri penceramah, tetapi juga sebagai pengingat sejarah perjuangan para pendahulu.

Posisi Strategis Masjid Almanar

Masjid Almanar Nglencong berada di lokasi strategis, tepat di tengah-tengah antara MIM dan SMP Muhammadiyah 2 Ngawi. Letaknya di pinggir jalan desa menuju Kecamatan Sine, sekitar 7 kilometer dari pusat kecamatan, dan serta sekitar 2 kilometer dari jalan raya Walikukun–Ngrambe. Posisi ini menjadikannya pusat aktivitas keagamaan sekaligus simpul pertemuan warga desa dan pelajar Muhammadiyah.

Dalam beberapa tahun terakhir, kajian Ahad PahingMu berkembang menjadi forum silaturahmi lintas generasi. Peserta tidak hanya berasal dari Nglencong, tetapi juga dari desa-desa sekitar Kecamatan Sine dan wilayah perbatasan Ngawi–Sragen. Momentum ini memperkuat kembali peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.

Simbol Warisan dan Identitas

Secara historis, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang menekankan pendidikan, kesehatan, dan dakwah berkemajuan. Di tingkat nasional, hingga pertengahan dekade 2020-an, Muhammadiyah telah mengelola ribuan amal usaha, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga sosial. Spirit inilah yang juga tercermin dalam sejarah kecil di Nglencong.

Podium “Moehammadijah” menjadi artefak lokal yang menyambungkan masa lalu dan masa kini. Ia mengingatkan bahwa dakwah Muhammadiyah di desa tidak lahir secara instan, melainkan melalui kerja keras, gotong royong, dan ketekunan generasi terdahulu.

Kini, setiap kali kajian Ahad PahingMu digelar di Masjid Almanar, podium “jati tuwo” itu kembali menjalankan fungsinya. Ukiran ejaan lama di bagian depannya seolah menjadi pesan lintas zaman: bahwa gerakan dakwah yang kokoh harus berakar pada sejarah, namun tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search