Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia menghadirkan harapan baru melalui program bertajuk “Ruang Harapan”, sebuah inisiatif kemanusiaan yang menyasar pengungsi Palestina dan Suriah di Yordania. Program yang diinisiasi oleh Direktorat Pergerakan dan Pengabdian Masyarakat PPI Dunia itu membantu pengungsi di tengah keterbatasan.
Aksi ini pertama kali dilaksanakan pada 26 Februari 2026 di Camp Marka, salah satu kamp pengungsian yang dihuni warga Palestina. Dalam kegiatan tersebut, relawan menyalurkan 100 unit heater (penghangat ruangan) dan 983 potong pakaian musim dingin. Langkah itu menjadi terobosan penting. Jika sebelumnya bantuan lebih bersifat konsumtif, kali ini PPI Dunia menghadirkan solusi jangka lebih panjang.
Heater diharapkan mampu membantu para pengungsi menghadapi suhu dingin ekstrem, terutama pada malam hari, kondisi yang kerap mengancam kesehatan anak-anak dan lansia. Banyak keluarga hidup dalam ruang sempit dengan fasilitas minim. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran penghangat ruangan bukan sekadar alat, melainkan penyelamat kenyamanan dan kesehatan.
Koordinator PPI Dunia, Andika Ibrahim Nasution, menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa Indonesia membawa pesan lebih dari sekadar bantuan material. “Bantuan yang kami berikan tentu tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi para pengungsi. Tetapi kami percaya kehadiran mahasiswa Indonesia di sini setidaknya dapat membantu meringankan sebagian beban mereka sekaligus menunjukkan bahwa isu kemanusiaan ini tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
Aksi berlanjut pada 28 Februari 2026, digelar di kamp pengungsi Palestina lainnya di wilayah Yordania. Para relawan membagikan paket hygiene kit berisi kebutuhan dasar seperti sabun, sampo, sikat gigi, hingga pembalut perempuan. Bantuan tersebut menjadi sangat penting di tengah terbatasnya akses sanitasi di kamp. Kebersihan diri yang kerap dianggap sepele justru menjadi tantangan besar bagi para pengungsi.
Tak hanya itu, relawan juga meluangkan waktu berinteraksi dengan anak-anak pengungsi. Tawa dan permainan sederhana menjadi momen langka yang menghadirkan kebahagiaan di tengah kehidupan yang keras.
Kegiatan ditutup dengan pembagian 150 paket berbuka puasa. Relawan dan warga kamp duduk bersama menanti azan maghrib, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh makna.
Ketua Panitia Program Ruang Harapan, Muhammad Ridwan Abdullah, menegaskan pendekatan humanis menjadi ruh utama program tersebut. “Sering kali bantuan hanya datang dalam bentuk distribusi barang. Kami mencoba menghadirkan pendekatan yang sedikit berbeda, tidak hanya memberi, tetapi juga hadir, mendengar cerita mereka, dan berbagi waktu bersama,” jelasnya.
Rangkaian aksi berlanjut pada 12 Maret 2026 di Camp Jaoufah, yang dihuni pengungsi Suriah. Di lokasi ini, relawan fokus pada kerja bakti membersihkan fasilitas sanitasi, terutama toilet di area masjid dan sekolah. Relawan juga memberikan peralatan kebersihan agar fasilitas tersebut dapat dirawat secara berkelanjutan oleh warga kamp.
Tak berhenti di situ, PPI Dunia tengah menyiapkan aksi lanjutan berupa pemasangan kaki palsu bagi para penyintas konflik yang kehilangan anggota tubuh. Saat ini proses pembuatan masih berlangsung dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penerima. Inisiatif tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam memulihkan kemandirian para penyintas, sekaligus menghidupkan kembali harapan yang sempat redup akibat konflik. (*/tim)
