PPIH Terapkan Sistem Estafet untuk Hadapi Kepadatan Terowongan Mina

www.majelistabligh.id -

Wukuf di Arafah tinggal menghitung hari. Di balik persiapan pergerakan lebih dari 200 ribu jemaah haji Indonesia menuju Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), satu tantangan besar yang menjadi perhatian utama adalah skenario evakuasi darurat di kawasan padat seperti terowongan Mina.

Kepala Satuan Operasional Armuzna, Kolonel Laut Harun Ar Rasyid, menjelaskan bahwa strategi utama yang digunakan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) adalah sistem estafet evakuasi jemaah. Sistem ini terbukti efektif dalam menghadapi keterbatasan akses ambulans dan tingginya konsentrasi jemaah di lokasi-lokasi sempit.

“Ambulans tersedia di titik-titik tertentu, namun karena padatnya jemaah, pergerakan kendaraan medis seringkali terhambat. Maka evakuasi dilakukan secara bertahap atau estafet, dengan penanganan awal di titik terdekat,” ujar Harun saat orientasi lapangan bersama tim PPIH Daker Madinah, Rabu (28/5) dini hari.

Dalam skema ini, jika ditemukan jemaah yang kelelahan, pingsan, atau memerlukan pertolongan darurat, maka petugas di Pos Ad Hoc atau Mobile Crisis Rescue (MCR) akan langsung memberikan penanganan awal. Jika kondisi memburuk dan membutuhkan perawatan lanjutan, barulah jemaah dievakuasi lebih lanjut ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit melalui jalur yang lebih memungkinkan.

“Di Mina ada beberapa terowongan panjang, masing-masing lebih dari 1 km. Di titik-titik terbuka tersedia jalur evakuasi darurat yang bisa digunakan ambulans atau akses ke tenda medis Misi Haji Indonesia,” terang Harun.

Tak hanya tim kesehatan dari Indonesia, evakuasi juga didukung layanan dari Kementerian Haji Arab Saudi, yang telah bersinergi dengan PPIH dalam penempatan tenaga medis dan ambulans tambahan di titik rawan.

Orientasi yang dilakukan tidak hanya menyisir lokasi tenda dan jalur terowongan, tetapi juga menjangkau lantai 3 Mina, yang tahun ini ditetapkan sebagai area kerja utama PPIH Daker Madinah. Petugas berjalan menyusuri jalur dari tenda hingga ke kompleks Jamarat, titik sentral pelaksanaan lempar jumrah.

“Tujuannya agar seluruh petugas mengenali setiap sudut lokasi secara langsung. Jika ada jemaah yang terpisah dari rombongan atau memerlukan pertolongan, petugas bisa cepat bertindak,” ujar Harun.

Sepanjang jalur yang ditempuh, ia menandai checkpoint penting yang harus menjadi fokus pengamanan dan antisipasi selama puncak haji: mulai dari Pos Ad Hoc, MCR, hingga jalur keluar-masuk darurat.

Dengan estimasi kepadatan tinggi pada 10 Dzulhijjah (6 Juni), terutama saat pelaksanaan Jumratul Aqabah, kesiapan fisik, mental, dan strategi menjadi kunci utama. Harun menekankan bahwa skenario evakuasi bukan hanya urusan teknis logistik, tetapi menyangkut penyelamatan nyawa manusia.

“Kami ingin pastikan semua petugas siap secara menyeluruh. Ini bukan sekadar pekerjaan, ini amanah. Semua harus all out,” pesannya.

Harun berharap, dengan pemahaman medan yang mendalam dan kesiapan sistem estafet yang matang, proses evakuasi dapat berjalan lancar, aman, dan tidak mengganggu kekhusyukan ibadah para jemaah.

“Intinya satu: keselamatan jemaah adalah prioritas tertinggi. Setiap langkah kita bermuara pada itu,” pungkasnya. (afifun nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search