Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga momentum bagi bangsa untuk kembali merenung dan mempererat tali persaudaraan. Seluruh elemen bangsa harus terus bersatu dan memupuk tekad yang kuat dalam membangun negeri, karena kekuatan sebuah bangsa terletak pada kerukunan rakyatnya.
Hal ini diungkapkan Presiden Prabowo Subianto, dalam taklimat pada Istighasah Kubra dan pengukuhan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, di Masjid Istiqlal, Sabtu (7/2/2026).
”Mari kita terus bersatu, mari kita bertekad, kita berdoa selalu. Bangsa kita berada dalam perlindungan Allah Swt,” ucap Presiden.
Presiden memandang bahwa stabilitas nasional adalah kunci utama kemajuan. Hal tersebut hanya bisa dicapai jika setiap warga negara memiliki jiwa yang sabar dan pemaaf. Doa ini menjadi representasi keinginan pemimpin negara agar rakyatnya hidup dalam kedamaian.
Terkait dinamika sosial yang ada, Presiden berpesan agar setiap perbedaan diselesaikan dengan cara-cara yang bijak. Warga harus mengedepankan prinsip musyawarah mufakat sebagai jalan keluar terbaik atas setiap permasalahan yang muncul. Bagi Presiden, dialog yang santun adalah ciri kepribadian bangsa Indonesia yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
Presiden Prabowo mengingatkan seluruh jamaah menjelang kedatangan bulan penuh keberkahan untuk mempersiapkan batin dengan memperkuat niat dan kesucian hati, serta berdoa agar selalu dalam lindungan Allah Swt.
Presiden lalu menyampaikan harapan agar bangsa Indonesia dijauhkan dari segala bentuk perpecahan dan bencana. “Bangsa Indonesia semoga dijauhkan dari perpecahan dan bencana. Kita selesaikan semua perbedaan dengan baik, dengan musyawarah mufakat. Dan semoga Allah Swt senantiasa memberi rahmat dan ridhonya bagi bangsa kita dan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden mendoakan agar rahmat dan rida Allah SWT senantiasa menyertai langkah setiap individu rakyat Indonesia. Keberkahan yang diharapkan tidak hanya untuk kesejahteraan materi, tetapi juga ketenangan batin bagi seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Presiden meyakini bahwa dengan rahmat Tuhan, Indonesia akan mampu menghadapi segala ujian zaman.
Presiden juga memberikan apresiasi tinggi atas peran para ulama dalam menjaga kesejukan suasana di tengah masyarakat. Kehadiran pemimpin di acara istighasah ini mempertegas komitmen pemerintah untuk selalu menyelaraskan kebijakan negara dengan doa dan bimbingan spiritual. Hal ini menciptakan harmoni antara kepemimpinan nasional dan nilai-nilai religiusitas. (*/tim)
