Prof. Kun Harismah, Inovator UMS yang Olah Bahan Alam Jadi Karya Bernilai Global

Prof. Kun Harismah, Inovator UMS yang Olah Bahan Alam Jadi Karya Bernilai Global
www.majelistabligh.id -

Dulu dikenal sebagai atlet senam berprestasi, kini Prof. Dra. Kun Harismah, M.Si., Ph.D. menjadi sosok penting di balik berbagai inovasi dari bahan alam di sekitar kita.

Lewat riset-riset terapan dan pendekatan edukatif, Guru Besar Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini menjadikan laboratorium sebagai ladang amal jariah yang terus mengalirkan manfaat bagi masyarakat.

Perempuan yang akrab disapa Kun itu tumbuh di Rejosari, Semarang Utara, dari keluarga pendidik. Mendiang ayahnya pernah menjadi dosen olahraga di Universitas Negeri Semarang (UNNES), sementara ibunya mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah di Semarang.

“Orang tua saya mendampingi dengan memberi ruang dan menekankan prinsip. Ibu terutama, sangat menekankan pentingnya pendidikan untuk perempuan,” kenang Kun kala ditemui di Laboratorium Proses Kimia, Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), awal Juli lalu.

Kun remaja aktif sebagai atlet senam prestasi, terutama senam lantai. Ia kerap mengikuti perlombaan daerah dan beberapa kali pulang membawa gelar juara.

Kun juga pernah menjadi pelatih senam dan juri dalam kejuaraan senam tingkat Jawa Tengah, mengikuti jejak sang ayah. Namun ketika hendak menentukan jurusan kuliah, ibunya menyarankan untuk mengambil jalur keilmuan yang berbeda.

“Kata beliau, saya tetap bisa melatih senam, dan kemudian disarankan masuk Pendidikan Teknik Kimia,” ujarnya.

Kun mengikuti nasihat itu. Ia menempuh pendidikan sarjana di UNNES, lalu melanjutkan studi magister kimia di Universitas Gadjah Mada (UGM). Kecintaannya pada bidang kimia, terutama kimia bahan alam, mulai tumbuh sejak masa studi S2.

Tahun 2004, Kun terpilih sebagai salah satu dosen Teknik Kimia UMS yang menerima beasiswa Technological and Professional Skills Development Sector Project (TPSDP). Ia lantas memilih University of Sheffield, Inggris, untuk mengejar studi doktoral kimianya.

Di Sheffield, pengalaman risetnya mengalami lompatan besar. Ia tidak hanya memperdalam studi kimia bahan alam, tetapi juga belajar bagaimana sistem riset dijalankan secara profesional.

Salah satu yang paling membekas adalah tata kelola limbah laboratorium. Tiap mahasiswa wajib memilah limbah kimia sesuai jenisnya: pelarut organik, pelarut anorganik, limbah beracun dan sebagainya. Semuanya harus diproses di ruang pemrosesan limbah.

“Botol-botol limbah itu kami kumpulkan sendiri untuk dituang pada drum sebagai penampungan sementara. Tidak bisa sembarangan, karena setiap jenis zat harus dibuang ke tempat yang sesuai. Kalau salah, bisa bahaya,” kenang Kun.

Ia juga belajar langsung dari mentornya, David F. Pickup, seorang peneliti senior asal Inggris yang sabar dan sistematis. Selama tiga bulan pertama, Kun menjalani semacam masa adaptasi intensif.

“Saya nyantri sama David, dia tunjukkan semua prosedur kerja laboratorium dari awal sampai akhir,” katanya. Setelah itu, giliran Kun menjadi mentor mahasiswa baru dengan metode serupa.

Pengalaman itu membuatnya memandang riset sebagai sebuah disiplin, etika dan tanggung jawab. Memengaruhi cara Kun membangun ekosistem laboratorium dan penelitian di UMS, terutama dalam pendekatan berkelanjutan, edukatif, dan aplikatif.

Prof. Kun Harismah, Inovator UMS yang Olah Bahan Alam Jadi Karya Bernilai Global

“Kalau di sana, semua mahasiswa tahu limbah harus diolah. Di sini (Teknik Kimia UMS), sudah mulai mengarah ke sana juga,” jelas Guru Besar Program Studi Teknik Kimia UMS itu.

Minat Meriset Bahan Alam di Sekitar
Sewaktu menempuh studi magister, Kun pernah meneliti kandungan senyawa kulit jeruk. Penelitian itu membuatnya ketagihan untuk menelusuri potensi tanaman lokal lain. Daun stevia dan minyak daun cengkeh menjadi dua bahan yang paling sering ia teliti.

“Minyak cengkeh banyak diproduksi di Boyolali, Karanganyar, hingga Wonogiri. Tapi seringnya hanya dijual curah. Padahal di dalamnya ada senyawa eugenol yang sangat berharga,” jelas Kun.

Eugenol merupakan senyawa analgesik dan antiseptik yang banyak digunakan dalam dunia kedokteran dan kosmetik. Harga 10 mililiter eugenol murni bisa mencapai Rp500 ribu, seperti produk eugenol berkualitas tinggi dari merek Merck Sharp & Dohme.

“Bandingkan dengan harga 1 liter minyak cengkeh curah yang cuma sekitar Rp400 ribu. Kalau kita bisa olah, nilainya jauh lebih tinggi,” resahnya.

Bersama mahasiswa, ia mengembangkan aromaterapi dari minyak cengkeh dan virgin coconut oil, salep antinyeri, sabun stevia, hingga pemanis rendah kalori. Sebagian produk buatannya sudah mendapatkan sertifikat paten sederhana. Ia juga berhasil mempresentasikan karyanya ke sejumlah forum internasional.

Membawa produk buatannya tentu membekas di benak Kun. Tahun ini ia memboyong aromaterapi hasil kolaborasi dengan mahasiswa ke Istanbul, Turki tahun 2025. Responsnya luar biasa.

“Panitianya tertarik dan minta tambahan. Bahkan moderator menanyakan apakah masih ada stok untuk dibagikan lagi. Aduh! Sayangnya cuma bawa empat saja waktu itu,” ujarnya menyayangkan. Ia tak menyangka bahwa inovasi sederhana dari bahan lokal bisa diterima di forum internasional.

Namanya hidup memang tak selalu mulus. Pernah pada awal 2000-an, Kun dan tim melakukan pelatihan teknologi distilasi etanol untuk petani tebu di Pati. Mereka memanfaatkan tetes tebu dan limbah pabrik gula untuk diolah menjadi etanol berkadar tinggi.

Semua tampak lancar hingga beberapa tahun kemudian, sepucuk surat dari kepolisian terdampar di tangannya. Surat itu menyebut etanol dari salah satu pengrajin yang mereka dampingi disalahgunakan dan menyebabkan kematian. Kun, bersama dua koleganya, diminta menjadi saksi.

“Waktu itu kami hanya niat memberdayakan. Tapi akhirnya harus ikut diperiksa dan diminta menjadi saksi,” kata Kun. Sejak peristiwa itu, ia lebih hati-hati. Setiap kegiatan pengabdian yang melibatkan produksi bahan sensitif kini dilengkapi perjanjian tertulis antara tim akademik dan mitra masyarakat.

Mendorong Budaya Inovasi di Kampus

Kini Kun menjabat Kepala Bidang Inovasi dan Produk Unggulan di Lembaga Riset dan Inovasi (LRI) UMS. Perannya mengawal hasil riset dosen dan mahasiswa agar tak berhenti di laporan akademik.

Dia membantu proses perlindungan kekayaan intelektual, pengurusan hak paten, desain industri, hak cipta, merek hingga hilirisasi ke industri.

“Kami tidak membimbing secara teknis, tapi memfasilitasi. Kadang mahasiswa punya ide bagus, tapi tidak tahu prosedur legalnya. Di situlah peran kami dalam membantu mereka,” jelas Kun.

Sejak ia menjabat, jumlah paten, hak cipta, desain industri, dan merek dari UMS meningkat. Hasilnya pun diakui. Pada 2023, Kun mendapat Anugerah Academic Leader Tingkat LLDIKTI Wilayah VI sebagai peringkat 1 Bidang Sains.

Sebelumnya, ia juga diganjar penghargaan sebagai dosen dengan artikel terbanyak pada jurnal internasional bereputasi (2021–2022), bahkan sebagai Inovator Terbaik UMS pada 2024.

Kun percaya, riset tak perlu dimulai dari hal yang rumit. “Kalau bahannya tumbuh di sekitar kita, itu justru ideal. Kita tidak perlu impor, dan bisa langsung kita uji,” katanya.

Ia kerap mengajak mahasiswa meneliti tanaman seperti stevia, daun sirsak, atau cengkeh, yang memang tersedia di lingkungan sekitar. Prinsipnya sederhana: menjawab kebutuhan lokal dengan sumber daya lokal.

Ditanya apakah pernah merasa jenuh meneliti, Kun menggeleng mantap. “Tentunya nggak pernah bosan. Meriset dan membimbing mahasiswa itu membuat saya ikut belajar,” ujar dia.

Bagi Kun, riset bukan semata urusan karier dan tanggung jawab sebagai pendidik. Ia memandangnya sebagai bagian dari warisan. “Kalau kita meninggal, yang tersisa adalah amal jariah. Salah satunya ilmu yang bermanfaat. Kalau hasil riset dimanfaatkan orang lain, itu seperti pahala yang terus mengalir,” pungkasnya. (genis dwi gustati)

Tinggalkan Balasan

Search