Prof. Sri Yunanto Resmi Dikukuhkan Jadi Guru Besar FISIP UMJ

Prof. Drs. Sri Yunanto, M.Si., Ph.D., saat orasi ilmiah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Prof. Drs. Sri Yunanto, M.Si., Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ) dalam bidang kepakaran Politik dan Humaniora. Pengukuhan ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 43628/M/KPT.KP/2025, pada Selasa (13/1/2025).

***

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Dari Variabel Nilai ke Variabel Kebijakan: Pengembangan Soft Power Menuju Indonesia Emas 2045”, Sri Yunanto menetapkan sejumlah indikator utama untuk mewujudkan Indonesia Emas. Ia menyebut tingkat kemiskinan harus ditekan hingga nol persen, pendapatan perkapita berada pada kisaran USD23.000 hingga USD30.300 pertahun, serta Indonesia memiliki pengaruh global dengan menempati peringkat 15 besar Global Power Index (GPI).

Ia menambahkan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju dan berpengaruh pada saat memasuki usia satu abad kemerdekaan pada 2045. Namun peluang tersebut tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam (SDA) dan jumlah penduduk yang besar. Soft power harus menjadi fondasi utama pembangunan nasional, yang berupa kekuatan nilai, budaya, demokrasi, serta kualitas kebijakan publik.

Indonesia berada pada persimpangan sejarah. Di satu sisi, memiliki modal besar untuk melompat menjadi negara maju. Di sisi lain, berbagai persoalan struktural masih membayangi dan berpotensi menghambat pencapaian visi besar tersebut.

“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang menjadi soal adalah bagaimana potensi itu dikelola. Di sinilah peran soft power menjadi sangat penting,” kata Yunanto di hadapan civitas akademika UMJ dan para undangan.

Dalam orasi ilmiahnya, Yunanto mengutip QS Al-Hasyr ayat 18 yang menekankan pentingnya menyiapkan masa depan dengan belajar dari apa yang telah dilakukan di masa lalu. Menurutnya, pesan tersebut relevan dalam konteks Indonesia yang tengah menatap masa depan sebagai bangsa berusia 100 tahun, yangdikenal dengan Indonesia Emas 2045.

Pemerintah, lanjut Yunanto, telah menetapkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju, modern, berdaulat, berkeadilan, dan berpengaruh di dunia internasional. Visi tersebut mencakup pembangunan manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerataan ekonomi, serta ketahanan nasional.

Optimisme terhadap visi ini juga diperkuat oleh proyeksi ekonomi global. Laporan Goldman Sachs Global Economics Paper memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu dari tujuh negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045, sejajar dengan Amerika Serikat, China, India, Jepang, Jerman, dan Inggris. Optimisme ini bukan sekadar mimpi. Indonesia memiliki dasar objektif untuk mencapainya, sepanjang dikelola dengan strategi yang tepat.

Dalam orasinya, Yunanto menguraikan dua modal utama Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, yakni sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Dari sisi demografi, Indonesia memiliki populasi sekitar 286 juta jiwa dan berada di peringkat keempat negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Pada 2035, Indonesia diperkirakan memasuki puncak bonus demografi, di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif.

Bonus demografi ini bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bisa menjadi beban jika tidak diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja.

Dari sisi sumber daya alam, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dunia, produksi batu bara dan timah yang signifikan, kawasan hutan tropis yang luas, serta potensi kelautan yang diperkirakan bernilai hingga USD1,5 triliun per tahun. Kekayaan alam tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kekuatan ekonomi, tetapi juga dapat diolah menjadi soft power yang menarik kerja sama internasional, investasi, dan pengaruh diplomatik. (*)

Tinggalkan Balasan

Search