Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), mengubah wajah Desa Sumbergedang, Pasuruan. Melalui pendampingan intensif, lahan desa yang sebelumnya belum digarap, kini disulap menjadi sentra agrowisata produktif yang mengintegrasikan peternakan, pertanian modern, dan wisata edukasi.
Desa yang terletak di Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan ini memiliki lahan kas desa strategis seluas enam hektare. Pemanfaatan lahan ini menjadi strategi kunci pemerintah desa dan UMM untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian bernilai tambah yang terintegrasi. Program pendampingan melalui skema P3M merancang sistem ekonomi desa yang berkelanjutan.
“Pada tahap awal, kami memperkuat ekonomi dasar masyarakat melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta UMKM berbasis hasil pertanian seperti keripik pisang dan minuman tradisional,” kata Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., ketua tim program.
Langkah ini dinilai krusial agar masyarakat memiliki pengalaman usaha dan kesiapan sebelum mengelola agrowisata yang lebih kompleks. Setelah ekosistem dasar terbentuk, barulah fokus dialihkan pada pengembangan agrowisata. Daya tarik utama agrowisata Sumbergedang saat ini adalah budidaya melon lavender yang menerapkan teknologi smart farming. Budidaya dilakukan di dalam greenhouse berukuran 11×40 meter yang menampung sekitar 1.450 tanaman. Sistem hidroponik yang diterapkan dilengkapi dengan pengendalian irigasi dan nutrisi digital.
“Penerapan teknologi digital memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara presisi. Kebutuhan nutrisi dan pengairan dapat dikontrol melalui ponsel, sehingga risiko kesalahan perawatan dapat diminimalkan. Ini sekaligus menjadi sarana edukasi pertanian modern bagi warga,” jelas Sujono.
Selain melon, tim UMM juga mengembangkan perkebunan pisang di lahan seluas 1,5 hektare. Sebanyak 1.500 pohon pisang dari varietas unggul seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish telah ditanam. Kebun ini diproyeksikan memperkuat identitas Sumbergedang sebagai sentra pertanian sekaligus pendukung wisata edukasi.
Secara ekonomi, hasil budidaya ini menunjukkan potensi besar. Sujono memaparkan, pada usia tanaman 65 hari, berat melon rata-rata sudah mencapai 1,5 kilogram dengan target 2 kilogram saat panen. “Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton per siklus tanam, agrowisata ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa,” tambahnya.
Ke depan, greenhouse dirancang untuk berproduksi secara berkelanjutan dengan empat kali siklus tanam dalam setahun. Sujono berharap pengembangan agrowisata ini terus meluas dengan penambahan wahana edukasi lainnya, menjadikan Desa Sumbergedang tidak hanya sekadar desa wisata, tetapi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan. (*/tim)
Temukan lebih banyak informasi. Follow Instagram kami di @majelistablighmedia
