Angka perceraian di Kota Surabaya sepanjang 2025 menunjukkan tren yang terus meningkat. Alasan ekonomi menjadi pemicu utama dalam perkara gugatan perceraian. Pihak istri mengajukan gugatan cerai karena suami dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan nafkah keluarga, atau kondisi keuangan rumah tangga yang semakin berat.
Psikolog sekaligus pengajar Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Marini, menilai alasan ekonomi tersebut tidak bisa dipahami secara sederhana hanya sebagai persoalan pendapatan. Dari sudut pandang psikologi, tekanan ekonomi merupakan sumber stres berkepanjangan yang secara perlahan menggerus ketahanan psikologis pasangan.
“Tekanan ekonomi yang berlangsung lama dapat memengaruhi kondisi emosi, cara berpikir, hingga pola interaksi dalam rumah tangga,” ujar Marini, Kamis (29/1/2026).
Ia menilai, meningkatnya angka perceraian seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa persoalan keluarga tidak bisa dilihat semata dari sisi materi. Upaya memperkuat ketahanan keluarga perlu menyentuh aspek psikologis, termasuk kemampuan pasangan dalam berkomunikasi, mengelola stres, serta saling menjadi sumber dukungan emosional.
Menurut Marini, pendidikan pranikah, layanan konseling keluarga, dan literasi kesehatan mental masih kerap dianggap sebagai pelengkap, padahal justru merupakan fondasi penting dalam menghadapi tekanan hidup modern. Tanpa fondasi tersebut, pernikahan menjadi rentan ketika dihadapkan pada krisis, termasuk krisis ekonomi.
“Perceraian tidak selalu mencerminkan kegagalan cinta. Dalam banyak kasus, ia menjadi tanda bahwa ketahanan psikologis pasangan telah terkikis oleh tekanan hidup yang terlalu lama ditanggung tanpa bantuan,” pungkas Marini.
Sejumlah penelitian psikologi keluarga menunjukkan bahwa tekanan ekonomi berkorelasi dengan meningkatnya stres, kecemasan, kelelahan emosional, serta konflik relasional.
Stres akibat persoalan ekonomi tidak bersifat sementara, melainkan menetap dan menguras energi psikologis individu. Dalam kondisi ini, seseorang menjadi lebih mudah tersinggung, sulit mengendalikan emosi, dan kehilangan kesabaran. Akibatnya, kemampuan berkomunikasi secara empatik dengan pasangan ikut menurun, sehingga persoalan kecil pun kerap berujung pada pertengkaran berulang.
Lebih lanjut, Marini mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi juga berkaitan erat dengan identitas diri, khususnya bagi laki-laki. Dalam konstruksi sosial yang masih kuat, peran sebagai pencari nafkah utama kerap dilekatkan pada laki-laki. Ketika peran tersebut tidak terpenuhi, muncul perasaan gagal, rendah diri, dan tidak berdaya.
Sementara itu, bagi perempuan, masalah ekonomi sering dimaknai sebagai ancaman terhadap rasa aman keluarga. Ketidakpastian finansial memicu kecemasan akan masa depan anak, keberlangsungan rumah tangga, dan stabilitas hidup. Jika berlangsung lama, kecemasan ini dapat berubah menjadi kelelahan mental. Dalam kondisi tersebut, pernikahan tidak lagi dirasakan sebagai ruang perlindungan, melainkan justru menjadi sumber tekanan tambahan.
“Dalam praktiknya, alasan ‘masalah ekonomi’ sering menjadi permukaan dari persoalan yang lebih dalam, seperti komunikasi yang buntu, emosi yang tidak terkelola, dan kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi,” jelasnya. (*/tim)
