Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, berharap Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) mandiri secara ekonomi, sehingga tidak hanya bertumpu pada UKT Mahasiswa.
“PTMA kita dorong bisa bertumpu pada dana abadi maupun dana wakaf seperti yang dilakukan Oxford University dan Al Azhar University,” kata Syafiq Mughni, dalam Milad ke-37 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Senin (9/2/2026).
Dalam sambutannya, Syafiq menyebut banyak perguruan tinggi di dunia ini tumbuh dan berkembang yang tumpuan utamanya tidak pada dana beasiswa. Bahkan di beberapa gerakan organisasi keagamaan seperti Gereja Mormon yang berpusat di Amerika Serikat juga hidup dari donasi jemaahnya. Gereja Mormon ini menjadi ormas keagamaan paling kaya di dunia.
Syafiq menceritakan, Gereja Mormon memiliki ciri gerak yang mirip dengan Muhammadiyah. Pendanaan selain dari sumbangan anggota, mereka juga memiliki semacam ‘amal usaha’ yang berkembang.
“Tiga fenomena itu memberikan pelajaran bagi kita semua, yang sangat relevan bagi milad sekarang ini, yaitu hubungan kemajuan yang terus dibangun dalam rangka peringatan milad ini,” jelasnya.
Menurutnya, semangat filantropi yang dimiliki warga Muhammadiyah menjadi bekal berharga untuk memajukan institusi pendidikan. Bahwa keuangan untuk memajukan kampus tidak hanya dari biaya mahasiswa. “Kita harus mulai berpikir, bagaimana kita tidak hanya menggantungkan dana dari mahasiswa. Tapi secara pelan-pelan dan bertahap,” imbuhnya.
Secara khusus dia berharap UMSIDA ke depan semakin maju, dan mengembangkan diri dengan tidak lagi bertumpuan utama pada dana yang dibayarkan mahasiswa. Harapan itu didukung oleh Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Bambang Setiaji. Dia menyoroti supaya ada kemudahan bagi seorang yang ingin menyalurkan filantropi.
Saat ini usaha menjadikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) berdampak – khususnya melalui riset, hal itu memerlukan dana yang tidak sedikit. Bambang menjelaskan, salah satu alasan yang membuat Amerika Serikat begitu digdaya adalah anggaran risetnya yang sangat mahal. Dibandingkan dengan Indonesia, angka itu begitu jauh.
Posisi kampus Indonesia, sambungnya, sampai saat ini masih berada pada posisi yang belum memuaskan. Karena itu pihaknya mendorong PTMA untuk ambil bagian dalam penelitian hilirisasi.
“Kami harapkan Sidoarjo memilih bidang-bidang dengan uang yang sedikit, tetapi pas bidang apa yang bisa kontribusikan di dalam percaturan dunia riset yang kita kenal,” katanya. (*/tim)
