Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur mengajak umat Islam mempersiapkan diri secara matang, baik secara spiritual, intelektual, maupun fisik.
Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur, Dr. Sholihin Fanani, menegaskan pentingnya mengisi Ramadan sesuai dengan tuntunan syariat dan meneladani praktik ibadah Rasulullah. Menurutnya, Muhammadiyah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan penjelasan yang gamblang kepada masyarakat terkait penetapan awal Ramadan. Tahun ini, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
“Muhammadiyah harus menjelaskan secara terbuka dan argumentatif mengapa 1 Ramadan ditetapkan pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan itu tentu melalui metode hisab yang selama ini menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid,” ujar Kyai Shol, sapaan akrab Sholihin Fanani, saat memberikan sambutan pengantar pada sosialisasi KHGT yang berlangsung secara daring, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan, perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan hal yang lumrah dalam khazanah fikih Islam. Karena itu, edukasi kepada umat harus dikedepankan agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia memiliki beragam tradisi dalam menyambut Ramadan, seperti megengan dan berbagai kegiatan sosial-keagamaan lainnya. Kyai Shol menilai tradisi tersebut sebagai bagian dari budaya dan kearifan lokal yang perlu disikapi secara bijak.
“Muhammadiyah harus memberikan penjelasan bahwa tradisi menjelang Ramadan boleh saja dilakukan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Namun, yang terpenting adalah substansi persiapan ruhani dan pemahaman keagamaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan lima persiapan penting yang perlu dilakukan menjelang Ramadan.
Pertama, persiapan ilmu. Menurutnya, pembekalan ilmu tentang Ramadan sudah semestinya dilakukan sejak bulan Rajab dan Sya’ban, berlanjut hingga Ramadan dan Syawal. “Apa saja yang dilakukan Rasulullah selama Ramadan harus kita pelajari dan jadikan pedoman. Bahkan jika perlu dibuat buku pegangan. Ilmu itu sangat penting agar ibadah kita tidak asal-asalan,” katanya.
Kedua, memperbanyak ibadah dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Puasa, lanjutnya, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi harus mengikuti tuntunan Rasulullah secara utuh.
Ketiga, persiapan fisik dan sarana ibadah. Hal ini mencakup menjaga kesehatan serta menyiapkan fasilitas ibadah seperti membersihkan masjid, memastikan kebersihan lingkungan, hingga memperbaiki sound system agar pelaksanaan ibadah berjalan khusyuk.
Keempat, persiapan logistik. Umat Islam dianjurkan merencanakan kebutuhan berbuka dan sahur dengan baik agar tidak mengganggu konsentrasi ibadah selama Ramadan.
Kelima, menetapkan target peningkatan kualitas ibadah. “Harus ada target pribadi, misalnya meningkatkan amal, memperbanyak tilawah, iktikaf, dan salat tarawih. Ramadan adalah momentum peningkatan diri,” ujarnya.
Kyai Shol berharap Ramadan tahun ini menjadi sarana pembinaan umat yang lebih terarah dan berkualitas. “Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi madrasah ruhani untuk membentuk pribadi yang bertakwa,” pungkasnya. (nun)
