Allah Ta’ala berfirman:
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dan dia seorang mukmin maka sungguh Kami akan karuniakan kepadanya “hayatan thayyibah” (kehidupan yang baik) dan Kami akan beri ganjaran untuk mereka berupa pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Al-Hafidzh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
وعن علي بن أبي طالب أنه فسرها بالقناعة وكذا قال ابن عباس وعكرمة ووهب بن منبه
“Ali bin Abi Thalib menafsirkan “hayatan thayyibah” dengan makna “al-qanaah”, demikian juga yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Wahb bin Munabbih.” (Umdatut Tafsir: 2/398)
Qanaah yaitu rida atas pemberian Allah, merasa cukup, kaya jiwa, dan lapang dada.
Qanaah adalah merasa puas atas pemberian yang sudah diterimanya. Puas itu ditunjukkan dengan syukur dan menghindari kerakusan.
Selain itu, mengekang diri dalam memburu apa yang diinginkannya karena merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh.
Rasulullah saw pernah berkata kepada Hakim bin Hizam, “Harta memang indah dan manis, barang siapa mengambilnya dengan lapang dada maka dia mendapatkan berkah.
Sebaliknya, barang siapa menerimanya dengan kerakusan maka harta itu tidak akan memberikan berkah kepadanya layaknya orang makan yang tak pernah kenyang.”
Qanaah adalah merasa puas atas pemberian yang sudah diterimanya. Puas itu ditunjukkan dengan syukur dan menghindari kerakusan.
Selain itu, mengekang diri dalam memburu apa yang diinginkannya karena merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh.
Qanaah merupakan salah satu jalur alternatif mengendalikan diri di tengah gemerlap dunia yang semakin menggiurkan. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh seorang Muslim pada umumnya dan Muslim pejabat pada khususnya. Hal itu mengingat derasnya cobaan yang silih berganti menawarkan isi dunia.
Bukankah kita sudah maklum bahwa pada akhirnya nanti uang, harta, dan takhta juga akan sirna. Uang akan usang, harta akan binasa, dan jabatan akan digantikan.
Mengapa diri ini selalu tertarik untuk mengumpulkannya, bukankah itu sama artinya menimbun busa yang akan lenyap diterpa udara?
Orang yang cerdas pastilah lebih suka mencari sesuatu yang lebih tahan lama, sesuatu yang tidak cepat punah dan habis hanya karena pergantian masa. Adakah hal yang demikian itulah qanaah.
Kita perlu bersandar pada hadis Rasulullah saw:
“Jadilah kamu orang yang wara’, pasti kamu menjadi orang yang rajin beribadah, dan jadilah kamu orang yang qanaah, pastilah kamu menjadi orang yang banyak bersyukur (HR.Bukhari).”
Janganlah salah mengartikan qanaah dengan berpangku tangan, berserah diri tanpa usaha, namun penuh harap akan rahmat Allah SWT.
Tidak, bukan demikian maksud qanaah tersebut. Manusia tidak dilarang mencari rezeki, bahkan Allah SWT memerintahkan manusia untuk berusaha. Karena hasil usahalah yang akan menopang ibadah seseorang. Usahalah yang menjadi modal perjuangan agama.
Tanpa ada hasil usaha, tidak akan ada masjid mewah, tidak ada panti asuhan, tidak ada madrasah dan mushalla. Semua itu memerlukan usaha dan harta.
Hanya saja yang perlu disadari dunia usaha bagaikan hutan belantara yang gelap tanpa arah. Apabila kita berjalan tanpa senjata dan tidak berhati-hati, akan diterkam binatang buas atau tersesat di dalamnya.
Sehingga kita tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal ataupun mendapatkannya, tetapi bukan hasil yang halal. Bukankah nafsu syaitan selalu mengarahkan kita ke dalam sesat keharaman.
Oleh karena itu, marilah kita persenjatai diri dalam belantara usaha dengan qanaah, insya Allah dia akan memberikan rambu-rambu ke arah yang benar walaupun tidak disertai dengan hasil maksimal.
Bila demikian, adanya usaha yang kita lakukan akan memilki nilai ibadah. Karena, segala macam kegiatan manusia yang disandarkan niatnya kepada Allah SWT akan dihitung sebagai ibadah.
Ibadah tidak terbatas bertekur dan berzikir di dalam masjid saja, tetapi menyingkirkan duri dari jalanan juga termasuk ibadah.
Di sinilah kehebatan qanaah, dia tidak mengenal takut dan gentar. Apa pun kondisi yang ada harus kita hadapi dengan sabar dan penuh keyakinan.
Seperti janji Allah SWT dalam surah Hud ayat 6, “Tiada sesuatu yang melata di bumi ini, melainkan di tangan Allah rezekinya.”
Memang pada kenyataannya hidup ini tidaklah selalu mulus dan mujur. Terkadang malang dan terkadang berkelok. Dan, ketika berkelok itulah tanda-tanda keberuntungan kita.
Rasulullah saw bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang Islam dan rezekinya pas-pasan dan dia merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.” (*)
