Setiap Mukmin, yang ia harapkan dan yang paling besar pengharapannya adalah mendapatkan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena keridaan Allah baginya segala-galanya. Sebab apabila Allah rida kepadanya, maka Allah pasti berikan kepadanya berbagai macam inayah, taufik, rahmat dan kasih sayangNya.
Sebaliknya apabila Allah murka kepadanya, maka apalah kehidupannya untuk manfaat di dunia dan akhiratnya? Sebab kalau Allah murka Allah pasti halangi dirinya dari rahmat dan hidayah-Nya.
Maka seorang Mukmin berusaha sekuat tenaga mencari rida Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap gerak-gerik hidupnya, dalam setiap aktivitasnya, karena tujuan hidupnya memang akan kembali kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
Ada sebuah amal yang apabila kita amalkan dan kita jaga akan menjadi halal keridhoan Allah kepada kita.
Disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang Muslim atau manusia atau seorang hamba berkata ketika menjelang sore dan pagi hari; “Radhiitu billahi rabba wabil islaami diina wabimuhammadi nabiyya (aku ridho kepada Allah sebagai Robbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai Nabi), kecuali Allah berhak untuk meridhoinya pada hari Kiamat.” (HR. Ibnu Majah)
Ucapan ini ucapan yang sangat ringan di lisan kita namun pahalanya sangat besar dan maknanya pun sangat dalam sekali. Seseorang hamba yang berkata:
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا
“Aku ridho Allah sebagai Rabb.”
Pernyataan yang membutuhkan pada konsekuensi ketika ia menyatakan “aku rida Allah sebagai Rabbku.” berarti dia harus hidup dengan ketentuan-ketentuan yang Allah tentukan dalam hidupnya, dengan semua takdir yang Allah berikan kepadanya dan dia yakin bahwasanya semua yang Allah tentukan untuk dirinya itu yang terbaik dalam hidupnya. Karena ia yakin bahwa Allah tidak mungkin mendzalimi hamba-hambaNya.
Ketika ia berkata “Aku ridho Allah sebagai Rabb”, berarti dia sudah siap untuk senantiasa Sami’na wa Atha’na kepadaNya, untuk senantiasa patuh dan tunduk kepada semua perintah-perintahNya, dan siap untuk menjauhi larangan-laranganNya.
Dia yakin bahwa semua perintah Allah pasti maslahat dalam hidupnya, dia yakin pasti semua larangan-larangan Allah mengandung mudharat yang besar dalam hidupnya. Maka ia senantiasa tunduk dan patuh karena ia ridho Allah sebagai Rabbnya yang ia senantiasa taati dalam hidupnya.
Berbeda dengan orang yang ucapannya berakata “Radhiitu billahi rabba”, tapi ternyata ia lebih rida hawa nafsu sebagai pengaturnya, ia lebih rida untuk diatur oleh selain Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalah, ia lebih riha dengan syahwatnya, maka ia tidak akan tunduk kepada Allah. Maka hakikatnya orang ini berkata secara dusta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا
“Aku ridho Allah sebagai Rabb.”
Maka kita senantiasa ridho dengan shalat-shalat kita, kita ridho ketika mendengarkan adzan untuk senantiasa mendirikan shalat dan kemudian pergi ke masjid dengan penuh keridhoan dan kegembiraan karena kita ridho Allah sebagai Rabb kita, satu-satunya Zat yang berhak disembah.
Maka kita tidak ridho apabila Allah disekutukan, kita tidak ridho kepada Tuhan-Tuhan yang disembah selain Allah, karena kita hanya ridho Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Karena Allah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada yang sebanding dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
“Aku rida Islam sebagai agama.”
Keridhoan yang berkonsekuensi ia berusaha untuk menjalankan semua syariat Islam dalam hidupnya, dalam pakaiannya, dalam makannya, dalam aqidahnya, dalam ibadahnya, bahkan dalam seluruh sisinya ia ingin mengaplikasikan Islam. Ia merasa senang bahkan ia merasa bangga Islam sebagai agamanya. Karena itulah agama yang diridhoi oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّـهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-Imran[3]: 19)
Allah berfirman:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٨٥﴾
“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, tidak akan diterima oleh Allah. Dan pada hari kiamat nanti ia termasuk orang-orang yang merug.” (QS. Ali-Imran[3]: 85)
Ia merasa senang dengan Islam, karena ia tahu bahwa ia adalah agama yang Allah ridhoi untuk manusia seluruhnya. Maka ia berusaha mengkaji Islam, mempelajari Islam, menjalankan dalam kehidupan sehari-harinya, terlihat pakaiannya Islam, terlihat ia dalam tingkah lakunya tingkah laku Islam, terlihat dalam adabnya adab Islam, terlihat didalam keyakinannya keyakinan Islam, bahkan dalam seluruhnya ia betul-betul ingin menjadi Islam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang Muslim yang menyatakan “Aku ridho Islam sebagai agama”, maka akankah ia kemudian tidak merasa ridho dengan aturan yang Allah turunkan berupa aturan Islam yang sangat indah ini? Seorang Muslim tentu ia sangat ridho dengan Islamnya.
Karena kalau kita perhatikan, Islam itu agama yang sangat indah sekali, yang senantiasa memerintahkan segala macam kebaikan dan melarang dari berbagai macam keburukan.
Islam mengajarkan kepada kita keadilan, Islam memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada manusia, berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahim, berkata yang baik, dan tidak menjadikan kita sebagai orang-orang yang senantiasa mengharapkan kehidupan dunia, karena orientasi Islam adalah kehidupan akhiratnya.
Ketika seseorang mengharapkan kehidupan akhirat, maka Allah pun perbaiki kehidupan dunianya.
Ummatal Islam,
Kemudian ia berkata:
وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
“Dan aku rida Nabi Muhammad sebagai Nabiku”
Maka ia jadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam hidupnya. Allah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan Allah dan kehidupan akhirat dan senantiasa berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)
Ia rida Rasulullah sebagai Nabinya, maka ia pun berusaha menghidupkan sunnah-sunnahnya. Terlihat dalam pakaiannya sunnah Rasulullah, terlihat didalam salatnya sunnah Rasulullah, terlihat dalam makanannya sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ia berusaha untuk mempelajari hadits-haditsnya, bahkan dia merasa gembira dengan mempelajari hadits-hadits Rasul. Karena ia mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wsaallam.
Ia rida Nabi Muhammad sebagai Nabinya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di dadanya menjadi sesuatu yang luar biasa yang sangat ia cintai dari seluruh manusia.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ia dahulukan pendapatnya dibandingkan pendapat seluruh manusia di dunia ini. Ia tidak pernah ridho untuk mendahulukan pendapat manusia diatas pendapat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Itulah orang-orang yang ridho Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Nabinya. Yang senantiasa ia merasa bahwasannya dia adalah pengikut Rasulullah.
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
“aku rida kepada Allah sebagai Robb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi.”
