Delegasi Lembaga Bantuan Hukum Advokasi Publik (LBH AP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang kembali dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LBH AP Muhammadiyah se-Indonesia di Yogyakarta dengan tekad memperkuat tata kelola dan integritas organisasi.
Ketua LBH AP PDM Lumajang, H. Widyo Rahardyantoko, bersama Sekretaris Syahrul Ramadhan, mengikuti agenda yang dibuka oleh tokoh nasional sekaligus mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dr. M. Busyro Muqoddas.
Dalam pemaparannya, Busyro mengutip pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Kebenaran yang tidak solid akan dihancurkan oleh kebatilan yang sistemik.”
Busyro menekankan pentingnya pembenahan internal di samping gerakan eksternal.
“Jangan hanya fokus bergerak secara eksternal. Kita juga harus aktif melakukan pembenahan internal, agar sistem yang kita miliki benar-benar kuat, bersih, dan amanah,” ujarnya, yang disambut anggukan para peserta.
Pesan tersebut menjadi refleksi bagi peserta Rakornas bahwa perjuangan menegakkan keadilan membutuhkan sistem organisasi yang kokoh, kerja sama solid, dan integritas terjaga di setiap lini.
Sebelum kembali ke Lumajang, H. Widyo sempat merenung di lobi Hotel SM Tower, membaca kutipan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir:
“Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah itu berdasarkan sistem, bukan atas hasrat dan kehebatan individual.”
Bagi H. Widyo, pesan itu mengingatkan pentingnya menjaga perjuangan advokasi agar tidak bergantung pada ego pribadi, melainkan pada sistem yang sehat.
Momen perenungan berlanjut saat rombongan mengunjungi makam pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Dalam suasana hening, H. Widyo berdiri memandang nisan sederhana dan berucap lirih:
“Ini seakan ingin menangis. Inilah ujung perjalanan hidup kita semua tempat kita berpulang.”
Kunjungan tersebut meneguhkan kesadaran bahwa jabatan dan popularitas bersifat sementara, sementara amal kebaikan adalah warisan abadi.
Pesan untuk Berbenah
Sebelum meninggalkan makam, H. Widyo berpesan kepada Sekretaris LBH AP PDM Lumajang:
“Yuk, kita berbenah untuk amal kita nanti, jika sudah berpulang. Jangan sampai waktu habis tanpa meninggalkan manfaat bagi umat.”
Pesan itu ditegaskan sebagai komitmen bagi seluruh anggota LBH AP PDM Lumajang bahwa kerja pendampingan hukum adalah bagian dari ibadah dan ladang amal jariyah.
Dalam perjalanan pulang, Ketua dan Sekretaris LBH AP PDM Lumajang sepakat untuk memperkuat tata kelola organisasi, memperluas jaringan advokasi, dan menjaga integritas.
Refleksi dari Yogyakarta memberi pelajaran penting: kebenaran harus dijaga dalam bingkai sistem yang kokoh.
Tanpa itu, kebatilan akan mudah meruntuhkannya. Pada akhirnya, perjuangan akan diukur dari satu hal — apakah kita pulang membawa amal terbaik untuk kehidupan setelahnya. (syahrul ramadhan)
