Anggota Lembaga Pondok Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LP2 PPM), Cecep Taufiqurrohman, mengajak umat untuk tidak sekadar merayakan berakhirnya Ramadan, tetapi menjadikannya momentum evaluasi diri. Sejauh mana ibadah yang telah dilakukan benar-benar diterima oleh Allah Swt.
Dalam acara Gerakan Subuh Mengaji, Cecep mengatakan bahwa sikap yang patut diteladani adalah sikap generasi terbaik umat Islam, yakni para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka tidak menyambut akhir Ramadan dengan rasa puas, melainkan dengan kesedihan dan kekhawatiran.
Bukan tanpa alasan, kekhawatiran itu muncul dari ketulusan iman—takut jika amal yang telah mereka lakukan selama Ramadan tidak diterima oleh Allah Swt. Padahal, mereka adalah generasi yang dijamin kualitas keimanannya dan dipuji dalam Al-Qur’an.
Mengutip keterangan dalam kitab karya Ibnu Rajab al-Hanbali, dijelaskan bahwa para salaf menghabiskan enam bulan sebelum Ramadan dengan berdoa agar dipertemukan dengan bulan suci tersebut. Setelah Ramadan berlalu, enam bulan berikutnya mereka isi dengan doa agar seluruh amal ibadah mereka diterima oleh Allah Swt.
“Pola ini menunjukkan bahwa bagi mereka, yang paling penting bukan sekadar beramal, tetapi bagaimana amal itu diterima,” tutur Cecep.
Pesan ini diperkuat dengan nasihat dari Ali bin Abi Thalib yang mengatakan: “Hendaklah kalian lebih memperhatikan diterimanya amal daripada amal itu sendiri.” Nasihat tersebut kemudian dipertegas dengan firman Allah Swt: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
“Ayat ini menegaskan bahwa kualitas amal tidak semata diukur dari kuantitasnya, tetapi dari sejauh mana amal tersebut mampu mengantarkan pelakunya kepada derajat takwa,” kata Cecep.
Dalam penjelasannya, Cecep juga menyoroti keteladanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Meskipun dikenal sebagai sosok dengan keimanan yang sangat tinggi, Abu Bakar tidak pernah merasa cukup dengan amal salehnya. Ia justru semakin haus untuk berbuat kebaikan dan tidak pernah terjebak dalam rasa bangga atas amal yang telah dilakukan.
“Sikap ini menjadi pelajaran penting agar umat Islam tidak merasa puas, apalagi membanggakan amalnya sendiri,” terang Cecep.
Allah Swt sendiri memuji orang-orang yang beramal dengan penuh kerendahan hati dalam Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun ayat 60: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”
Menariknya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, ketika ayat ini turun, Aisyah binti Abu Bakar sempat bertanya kepada Rasulullah saw, apakah yang dimaksud adalah orang-orang yang berbuat dosa. Namun Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud justru adalah orang-orang yang rajin berpuasa, salat, dan bersedekah, tetapi tetap merasa takut amalnya tidak diterima.
Ia juga mengingatkan bahwa salah satu tanda diterimanya amal adalah kemampuan untuk terus melanjutkan kebaikan setelahnya. Prinsip ini sejalan dengan kaidah ulama: “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara hukuman keburukan adalah keburukan setelahnya.”
Dengan demikian, konsistensi dalam beramal setelah Ramadan menjadi indikator penting diterimanya ibadah selama bulan suci. (*/tim)
