Malam pertama Ramadan 1447 H, Selasa, 17 Februari 2026, suasana khusyuk menyelimuti Masjid Hamas School. Dalam kultum bakda tarawih, Ustadz Muhammad Thola’at Wafa, S.Pd. mengingatkan pentingnya menghiasi bulan suci dengan ibadah terbaik, khususnya shiyam dan qiyam.
Di hadapan jamaah yang terdiri dari siswa, guru, dan masyarakat sekitar, ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum pembinaan iman dan penyucian jiwa. “Ramadan adalah bulan yang harus kita hiasi dengan ibadah terbaik. Di antara hiasan terindah Ramadan adalah shiyam dan qiyam,” tuturnya.
Menurutnya, shiyam atau puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga. Puasa merupakan latihan pengendalian diri secara menyeluruh: menjaga lisan dari perkataan kasar, menundukkan pandangan dari hal yang tidak baik, serta membersihkan hati dari iri dan dengki. Puasa yang bernilai di sisi Allah adalah puasa yang dilandasi iman dan keikhlasan.
Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah ﷺ, “Man shāma Ramadhāna īmānan wa ihtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dzambih,” yang menegaskan bahwa siapa yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Penekanan pada iman dan ihtisab (mengharap pahala) menjadi inti pesan agar ibadah tidak bersifat formalitas, melainkan menghadirkan kesadaran spiritual yang mendalam.
Selain shiyam, qiyam menjadi hiasan berikutnya dalam menghidupkan Ramadan. Siang hari diisi dengan puasa, malam hari ditegakkan dengan berdiri di hadapan Allah melalui tarawih, witir, dan tahajud. Qiyam, lanjutnya, adalah wujud cinta seorang hamba kepada bulan yang penuh rahmat. Melalui ibadah malam, hati menjadi lebih lembut dan peluang ampunan semakin terbuka.
Kultum tersebut juga menekankan kedekatan dengan Al-Qur’an sebagai ciri Ramadan yang hakiki. Mengutip firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, ia menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Karena itu, sangat disayangkan jika bulan suci berlalu tanpa interaksi yang intens dengan kitab suci.
“Perbanyak membaca, memahami, dan mengamalkan isinya. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat terbaik di bulan yang mulia ini,” pesannya.
Menutup tausiyahnya, Ustadz Muhammad Thola’at Wafa mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai ruang pembuktian kualitas iman. Jika siang dihiasi dengan shiyam, malam dengan qiyam, dan hari-hari dipenuhi tilawah serta tadabbur Al-Qur’an, maka Ramadan akan menjadi bulan penuh keberkahan dan ampunan.
Malam pertama itu menjadi awal yang penuh harap, menandai tekad jamaah Masjid Hamas School untuk menjalani Ramadan dengan kesungguhan ibadah dan pembaruan spiritual. (*/tim)
