Ramadan, Kebuli, dan Cerita Loyang yang Melayang

*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
www.majelistabligh.id -

Pada suatu sore di pertengahan bulan Ramadan, di sebuah warung sederhana milik Mbak Wati, berkumpul para anggota Majelis Tabligh (MT) PWM. Mereka datang dengan satu tujuan: berbuka puasa bersama, mempererat silaturahmi, dan menikmati sajian khas yang telah mereka pesan sebelumnya. Warung itu, meskipun sederhana, selalu menjadi saksi kebersamaan mereka. Meja-meja kayu tanpa taplak, bangku panjang yang tertata rapih yang menciptakan suasana yang hangat dan akrab.

Di tengah suasana yang penuh canda dan kebersamaan, Dr. Solihin Fanani, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan kini menjadi Wakil Ketua PWM Jatim, telah menyiapkan lima loyang menu andalan yang dipesan dari Resto Noor Ayla di Jalan KH Mas Mansur, Surabaya. Menu ini terdiri dari nasi kebuli dan lauk kambing oven yang kaya akan rempah. Setiap loyang disiapkan untuk 4-5 orang. Harapannya, semua yang hadir dapat menikmati hidangan ini dengan penuh kebersamaan.

Seiring waktu berbuka yang semakin dekat, pembicaraan pun semakin ramai. Dari topik ringan hingga diskusi seputar program keislaman yang sedang mereka jalankan, semua mencair dalam suasana penuh keakraban. Para anggota tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga cerita, tawa, dan kebersamaan yang semakin mempererat persaudaraan di antara mereka. Setiap piring yang tersaji bukan sekadar hidangan, melainkan simbol dari perjuangan dan komitmen dalam menjalankan ajaran Islam yang telah mereka yakini bersama.

Namun, ada satu kejadian yang menjadikan momen berbuka puasa itu lebih berkesan, bahkan bertahun-tahun kemudian tetap dikenang dan diceritakan kembali dengan penuh semangat. Sosok yang menjadi pemicu kejadian ini adalah Hairul Warizin, atau yang akrab disapa KW. Pria ini dikenal di kalangan anggota sebagai seseorang yang ceplas-ceplos, berani mengungkapkan pendapat dengan gaya khasnya yang sering kali mengundang tawa. KW adalah pribadi yang jujur dan spontan, dan sifatnya inilah yang menjadi pemicu salah satu peristiwa legendaris dalam sejarah kebersamaan mereka.

Saat makanan mulai dinikmati, Abah Solihin bertanya kepada KW tentang kualitas kelezatan menu Ayla. Hal ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, ada cerita bahwa KW memiliki tetangga yang juga berjualan nasi kebuli, dan makanan dari tempat itu cukup terkenal dengan rasanya yang luar biasa. Maka, sebagai bentuk perbandingan, Abah Solihin pun bertanya dengan santai, “Bagaimana rasanya, KW? Enak tidak dibanding nasi kebuli tetanggamu itu?”

Tanpa ragu dan dengan ekspresi khasnya, KW menjawab, “Oh, ini? Kebuli Ayla ini kalah enak dibanding dengan kebuli tetangga saya.”

Ucapan KW sontak mengundang gelak tawa di antara para anggota yang hadir. Tertawa bukan hanya karena kejujuran KW, tetapi juga karena keberaniannya berbicara apa adanya, bahkan di depan orang-orang yang telah berupaya memesan hidangan tersebut untuk dinikmati bersama. Namun, respons paling menarik justru datang dari Abah Solihin sendiri.

Sebagai sosok yang dikenal bijaksana dan penuh humor, Abah Solihin justru merespons pernyataan KW dengan cara yang tidak terduga. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengambil salah satu loyang yang sudah tersaji dan melemparkannya ke samping! Semua yang ada di sana terkejut sejenak, tetapi detik berikutnya, tawa pecah lebih keras dari sebelumnya. Loyang melayang itu seakan menjadi simbol spontanitas dan keakraban yang tak terduga.

Aksi Abah Solihin tidak dimaksudkan sebagai bentuk kemarahan, melainkan sebagai bagian dari humor khasnya yang membuat suasana semakin cair. Sikapnya mengajarkan bahwa kebersamaan bukan hanya tentang keseriusan, tetapi juga tentang bagaimana menikmati momen dengan cara yang menyenangkan.

Peristiwa “loyang melayang” ini pun menjadi kisah legendaris yang terus diceritakan dalam setiap pertemuan mereka. Setiap kali ada momen berkumpul, kisah ini pasti kembali diangkat, lengkap dengan berbagai versi tambahan yang semakin memperkaya cerita. Bahkan, bagi anggota baru yang belum pernah menyaksikan kejadian itu secara langsung, mereka tetap bisa merasakan atmosfer kehangatan dan keakraban yang terpancar dari cerita tersebut.

Namun, di balik tawa dan candaan, ada pelajaran mendalam yang bisa diambil dari kejadian ini. Kebersamaan yang erat bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan hasil dari hubungan yang dibangun dengan kejujuran, keterbukaan, dan sikap menerima satu sama lain. KW dengan gaya ceplas-ceplosnya mungkin menyampaikan sesuatu yang tidak terduga, tetapi sikap Abah Solihin yang merespons dengan humor justru memperkuat jalinan persahabatan di antara mereka.

Lebih jauh lagi, peristiwa ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan, kita harus berani bersikap spontan, menikmati momen dengan hati terbuka, dan tidak selalu terjebak dalam formalitas yang kaku. Terkadang, tawa dan kebersamaan adalah cara terbaik untuk mempererat hubungan dan menciptakan kenangan yang tak terlupakan.

Majelis Tabligh PWM bukan sekadar tempat untuk berdiskusi tentang keislaman, tetapi juga wadah bagi anggotanya untuk saling mendukung dan berbagi kehidupan dengan segala warna dan dinamika yang ada. Dalam perbedaan pendapat, selalu ada ruang untuk bercanda. Dalam keberagaman karakter, selalu ada kesempatan untuk saling memahami.

Kisah “loyang melayang” pun akhirnya menjadi simbol dari semua itu. Kisah ini tidak hanya mengukir sejarah kecil dalam kebersamaan mereka, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk melihat bahwa persahabatan sejati adalah tentang bagaimana kita bisa tertawa bersama, menerima perbedaan, dan tetap bersatu dalam setiap keadaan.

Dan di setiap bulan Ramadan berikutnya, saat Majelis Tabligh PWM kembali mengadakan buka puasa bersama, cerita tentang “loyang melayang” selalu kembali dikenang. Sebuah kisah sederhana yang mengajarkan bahwa tawa, spontanitas, dan kehangatan adalah bumbu utama dalam menjalani kehidupan yang penuh makna. (*)

Surabaya, 15 Maret 2025

 

Tinggalkan Balasan

Search