Bayangkan jika Nabi Muhammad saw hidup di zaman ini. Zaman ketika orang bangun tidur bukan lagi mencari air wudu, melainkan mencari ponsel. Jari lebih dulu mengusap layar daripada mengusap wajah, dan notifikasi lebih cepat dibuka daripada mushaf Al-Qur’an. Timeline media sosial lebih sering dibaca daripada ayat-ayat Tuhan.
Apa yang akan beliau katakan saat melihat kebiasaan itu. Mungkin beliau akan tersenyum lembut, lalu mengingatkan bahwa hati manusia mudah teralihkan oleh hal yang berkilau. Dunia digital hanyalah alat, bukan tujuan. Namun manusia sering terbalik menempatkan prioritas hidupnya.
Bayangkan pula jika Abu Bakar Ash-Shiddiq hidup hari ini. Di saat orang mengukur keberhasilan dari aset, portofolio investasi, atau luas properti. Ia mungkin tetap menjadi orang paling tenang. Hartanya tetap ringan dilepas demi menolong sesama. Baginya, kekayaan bukan sesuatu yang harus digenggam, melainkan sesuatu yang harus dialirkan.
Lalu bayangkan jika Umar bin Khattab hidup di masa algoritma dan kecerdasan buatan. Keberaniannya mungkin muncul dalam bentuk melawan manipulasi informasi dan ketidakadilan digital. Ia akan berdiri tegak menghadapi kebohongan yang dibungkus kecanggihan teknologi. Sebab kebenaran tetaplah kebenaran, meski dunia berubah bentuk.
Namun kenyataannya, kita hidup di zaman ini sebagai manusia biasa. Kita bukan nabi dan bukan sahabat, melainkan insan yang hatinya mudah kotor dan gelisah. Kita lelah oleh ritme hidup yang terlalu cepat. Karena itulah Ramadan selalu datang seperti hadiah langit yang penuh makna.
Ramadan terasa seperti tombol reset bagi jiwa yang terlalu lama bekerja tanpa jeda. Ia hadir setahun sekali membawa kesempatan memperbaiki diri. Setelah tiga puluh hari, ia akan pergi kembali meninggalkan pesan sunyi. Pertanyaannya, apakah kita memanfaatkannya atau justru melewatinya begitu saja.
Dunia bergerak semakin cepat sementara hati manusia sering tertinggal. Hari ini belanja tidak perlu ke pasar karena cukup menyentuh layar. Makanan datang sendiri, bisnis berjalan otomatis, dan investasi bisa dilakukan dari tempat tidur. Namun anehnya, semakin modern kehidupan, semakin banyak orang merasa kosong.
Seorang pengusaha muda pernah bercerita tentang hidupnya. Usianya belum 35 tahun, tetapi ia sudah memiliki properti, bisnis sukses, dan investasi bernilai fantastis. Namun suatu malam ia berkata bahwa hidupnya terasa hampa tanpa alasan jelas. Di media sosial ia terlihat bahagia, tetapi di kamar tidurnya ia sering menangis sendirian.
Masalahnya bukan pada uang atau teknologi. Tetapi hati yang tidak pernah di-reset. Hati manusia seperti ponsel yang terus dipakai tanpa dimatikan. File sampah menumpuk, aplikasi berjalan diam-diam, dan baterai cepat habis.
Ramadan datang seperti restart bagi jiwa. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa bulan ini adalah waktu turunnya petunjuk bagi manusia. Ayat itu juga menegaskan bahwa ibadah tidak dimaksudkan untuk menyulitkan, melainkan memudahkan. Karena itu, Ramadan bukan beban, melainkan kesempatan.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan menahan diri dari kebohongan, keserakahan, dan kebencian. Jika kita mampu menahan yang halal, seharusnya lebih mampu menahan yang haram. Namun puasa tidak akan mengubah apa pun jika hati tetap dibiarkan kotor.
Sering kali ibadah berjalan, tetapi hati tidak ikut berubah. Ada orang rajin salat dan puasa, tetapi tetap licik dalam pekerjaan. Ia tekun beribadah, namun gemar menjatuhkan orang lain. Di sinilah letak masalah yang jarang disadari.
Rasulullah pernah mengingatkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa dalam tubuh ada segumpal daging bernama hati. Jika hati itu baik, seluruh tubuh menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh amal ikut rusak. Karena itulah hati adalah pusat kehidupan manusia.
Ramadan datang untuk memperbaiki pusat itu. Taubat menjadi langkah pertama membersihkan luka lama. Zikir menjadi ruang sunyi di tengah kebisingan dunia. Membaca Al-Qur’an menghadirkan jawaban bagi kegelisahan yang tak mampu dijawab teknologi.
Salat khusyuk dan qiyamul lail menjadi saat paling intim antara hamba dan Tuhannya. Ketika dunia tertidur, seorang mukmin bangun membawa air mata doa. Dalam sunyi itulah hati dilembutkan. Dalam gelap itulah jiwa diterangi.
Puasa juga melatih kendali diri yang sering hilang dalam kehidupan modern. Banyak orang gagal bukan karena kurang peluang, melainkan karena tidak mampu menahan nafsu. Dunia mendorong kita membeli lebih banyak dan mengejar lebih cepat. Ramadan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari memiliki.
Muhasabah mengajak manusia berhenti menyalahkan orang lain. Ia memaksa kita bercermin dan bertanya apa yang harus diperbaiki. Orang yang sibuk memperbaiki diri biasanya tidak sempat mencela. Dari situlah kedewasaan hati lahir.
Sedekah dan silaturahmi menjadi obat bagi hati yang keras. Memberi membuat jiwa ringan dan menyambung hubungan menghapus dendam. Banyak orang kaya hidup dalam ketakutan kehilangan hartanya. Sebaliknya, orang sederhana sering merasa cukup karena hatinya lapang.
Lingkungan juga menentukan warna hati seseorang. Berteman dengan orang pesimis menularkan keluh kesah. Berteman dengan orang saleh menularkan semangat ibadah. Ramadan adalah waktu terbaik memilih lingkungan yang menumbuhkan iman.
Mengapa reset hati semakin mendesak saat ini. Karena dunia berubah cepat sementara kebutuhan hati tetap sama. Manusia tetap membutuhkan makna, ketenangan, dan harapan. Tanpa itu semua, kemajuan hanya melahirkan kehampaan.
Ramadan mengingatkan bahwa kekayaan sejati adalah hati yang damai. Ia menjadi stasiun pengisian energi iman bagi jiwa yang lelah. Tanpa pengisian ulang, manusia secanggih apa pun akan runtuh. Sebab yang menopang hidup bukan teknologi, melainkan ketenangan batin.
Setiap Ramadan datang, pertanyaannya bukan sekadar menu berbuka. Pertanyaannya adalah apa yang berubah dalam hati kita. Jika setelahnya kita tetap kasar dan curang, mungkin puasa hanya sebatas lapar. Namun jika hati menjadi lembut, itulah tanda ibadah diterima.
Bayangkan jika ini Ramadan terakhir kita. Apakah kita siap pulang atau masih sibuk mengejar dunia. Dunia boleh semakin maju dan kompleks. Namun pada akhirnya manusia tetap mencari ketenangan hati.
Ketenangan itu tidak dijual di pasar dan tidak dibangun dari beton. Ia tumbuh dari hati yang bersih dan jiwa yang tunduk. Saat manusia kembali kepada Tuhan, yang dibawa bukan jabatan atau saldo. Yang ikut hanyalah amal dan keadaan hati.
Maka sebelum Ramadan pergi, mari gunakan waktunya untuk mereset hidup. Hapus dendam, kurangi keserakahan, dan perbanyak syukur. Perbaiki hubungan dengan Tuhan serta manusia. Sebab yang dinilai bukan seberapa mewah hidup kita, melainkan seberapa bersih hati kita saat kembali kepada-Nya. (*)
