Puluhan tahun hidup dalam keterbatasan air bersih, warga Dusun Mamburit di Pulau Mamburit, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, akhirnya mulai merasakan harapan baru.
Berkat inovasi teknologi pemanenan air hujan yang dirancang oleh Ramadhani Jaka Samudra, mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan Universitas Airlangga sekaligus kader Muhammadiyah, impian lama mereka untuk mendapatkan akses air bersih yang layak mulai terwujud.
“Kami di sini sudah lama bermimpi punya akses air bersih yang bisa langsung dipakai tanpa harus jalan jauh atau masak dulu setiap hari. Alhamdulillah, sekarang mimpi itu mulai terwujud,” ungkap Slamet, Kepala Dusun Mamburit, usai menerima prototipe pemanen air hujan.
Solusi ini merupakan hasil nyata dari penelitian tesis Ramadhani yang menyoroti krisis air bersih dan tingginya angka diare balita di wilayah kepulauan, khususnya Pulau Kangean, Madura.
Dalam penelitiannya, Ramadhani menemukan bahwa 8 dari 10 sumber air utama warga tercemar bakteri Escherichia coli (E. coli), yang menjadi salah satu penyebab utama diare pada anak usia dini.
“Mayoritas pengasuh balita belum menerapkan perilaku hidup bersih secara konsisten. Infrastruktur sanitasi sangat terbatas, dan masih banyak yang menggunakan air mentah untuk kebutuhan sehari-hari. Ini yang mendorong saya untuk tidak hanya meneliti, tapi juga menghadirkan solusi konkret,” jelas Ramadhani, pada Kamis (24/7/2025).
Solusi yang dia tawarkan adalah prototipe Pemanenan Air Hujan (PAH) dengan sistem slow sand filter dan roughing filter.
Kata dia, teknologi ini dirancang agar bisa menghasilkan air yang memenuhi standar kualitas fisika, kimia, dan biologi, namun tetap dapat dioperasikan dengan mudah oleh masyarakat di tingkat rumah tangga.
“Selain menjadi solusi teknis, alat ini juga menjadi simbol perubahan budaya air bersih dan perilaku sehat di masyarakat,” tandas mantan ketua Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Surabaya ini.

Penelitian Ramadhani yang berjudul “Analisis Curah Hujan, Kualitas Sumber Air Bersih, dan Perilaku dengan Kejadian Diare pada Balita di Pulau Kangean” tak hanya berdampak pada dunia akademik, tetapi juga langsung menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Inisiatif ini mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, di antaranya Dinas Kesehatan Sumenep, Puskesmas Arjasa, PCNU Kangean, PC Muhammadiyah Arjasa, hingga Yayasan Rumah Literasi Kangean.
Ramadhani merupakan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) RI.
Dosen pembimbingnya, Dr. R. Azizah, S.H., M.Kes., menegaskan bahwa karya mahasiswa bimbingannya ini merupakan contoh nyata bagaimana ilmu dapat menjadi alat transformasi sosial.
“Penelitian ini membuktikan bahwa ilmu tak hanya berhenti di ruang akademik,” tegasnya.
Tak berhenti pada aspek teknis, Ramadhani juga menyusun rekomendasi kebijakan berbasis pendekatan pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, dan media, untuk membangun sistem sanitasi dan edukasi berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Dengan penuh keyakinan, Ramadhani menyampaikan harapannya, “Akses air bersih bukan kemewahan, tapi hak dasar. Dan saya percaya, teknologi sederhana yang berbasis lokal bisa jadi solusi luar biasa jika didukung kolaborasi yang kuat.”
Dia mengungkapkan, rekomendasi kebijakan ini nantinya akan diserahkan kepada pemerintahan mulai dari tingkat desa hingga kementerian terkait seperti Kemendes PDT, Kementerian Lingkungan Hidup, Kemenkes, dan Kementerian PU. (wh)
