Majelis Tabligh (MT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur telah menjadi wadah bagi anggota Muhammadiyah untuk berdiskusi, berbagi ide, dan membuat keputusan. Rapat-rapat yang diadakan oleh MT selalu dihadiri oleh anggota-anggota yang bersemangat dan berkomitmen untuk memajukan Muhammadiyah.
Namun, ada satu hal yang membuat rapat-rapat MT menjadi tidak efektif, yaitu ketika rapat diadakan tanpa adanya makanan dan jajanan yang lezat. Rapat seperti ini disebut Rapat Sahara. Karena suasana rapat menjadi kering dan tidak bersemangat seperti padang pasir Sahara.
Amsikul Ma’arif alias BS, salah satu anggota MT, dikenal sebagai orang yang selalu menyiapkan makanan istimewa untuk rapat-rapat MT. Buah-buahan seperti nanas, mangga, pepaya, dan bengkoang diiris kecil-kecil dan disajikan dengan rujak paciran yang pedas-segar. Makanan dan jajanan ini membuat suasana rapat menjadi gayeng. Ide-ide segar pun bermunculan. Bahkan para senior pun terkadang lebih bersemangat makan jajanan daripada fokus pada rapat. Keakraban benar-benar terbangun. Mungkin mereka teringat masa kecil saat “nakal-nakalnya” bersama komplotan ciliknya.
Namun, ketika BS tidak hadir dalam rapat, suasana langsung berubah. Rapat menjadi tidak menarik lagi. Peserta mulai berkurang.Yang hadir pun tidak bersemangat. Ridwan Abu Bakar (RAB), salah satu anggota yang dikenal kreatif dan penuh ide brilian, selalu pamit lebih awal jika terjadi Rapat Sahara. Saat makanan tersedia, RAB selalu aktif dan penuh gagasan. Tapi jika rapat “tandus”, ia diam seribu bahasa.
Fauzan, yang sering disebut Kacong, juga sering kali pamit tidak ikut rapat jika rapat Sahara. Padahal, dia biasanya sangat aktif dan selalu menyempatkan hadir di tengah kesibukannya. Namun, begitu terjadi rapat tanpa makanan, semangatnya turun drastis. Bahkan, ia sering mencari-cari alasan untuk tidak hadir, dengan dalih bahwa telah terjadi Sahara di kantor PWM.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa rapat MT harus lengkap dengan makanan dan buah-buahan. Jika tidak, banyak yang malas datang dengan berbagai alasan. Rapat Sahara membuat peserta merasa tidak nyaman dan tidak fokus. Mereka mulai berbicara ngalor-ngidul, bahkan tak bisa diajak berdiskusi serius. Akibatnya, rapat menjadi tidak efektif.
Ide-ide brilian yang biasanya muncul dalam rapat tidak dapat dikembangkan karena suasana yang tidak kondusif. Rapat Sahara membuat MT kehilangan arah, serta menghilangkan kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi ide secara efektif.
Namun, jika rapat dilengkapi dengan berbagai menu beragam—seperti rawon lengkap dengan daging, telur asin, tempe goreng, atau ikan bakar dengan peyek dan urap-urap—maka rapat menjadi lebih hidup. Bahkan, jika menu berat itu tersedia tetapi tanpa jajanan khas BS, tetap saja dianggap Sahara.
“BS boleh tidak hadir, tapi jajanannya wajib hadir!” Itu celetukan khas yang sering terdengar dalam rapat MT. BS pun sering merasa tertuduh jika ada rapat tanpa jajanan, sehingga ia terpaksa mengirim makanan via ojek online jika berhalangan hadir. Ia tak mau dijadikan kambing hitam akibat rapat yang lesu.
Kacong dan RAB adalah duo yang paling kritis terhadap Rapat Sahara. Yang satu memilih tidak hadir dengan alasan ada kegiatan luar kota, sementara yang lain tetap datang tetapi pamit saat break dengan dalih ada tamu, urusan umroh, atau sekadar kangen istri.
Pada bulan Ramadhan, fenomena Rapat Sahara semakin sering terjadi. Banyak anggota MT yang malas datang karena waktunya mepet dan lebih memilih berbuka di rumah. Namun, dasar anggota MT yang tak ingin kehilangan kesempatan berdiskusi, mereka selalu mencari cara agar ada acara buka bersama (bukber).
Biasanya, ada orang yang bersedia mendapat pahala dengan mentraktir. Tapi, tahun ini, orang yang biasa mentraktir sedang sakit lambung. Akibatnya, pemalakan untuk bukber jadi agak ngerem. Namun, namanya pemalakan ya tetap pemalakan. Mereka tetap menggelorakan semangat bukber meski hingga 10 hari terakhir belum juga ada yang mengundang.
Pada akhirnya, rapat MT lebih efektif jika ada makanan pendamping. Makanan bukan sekadar pengganjal perut, tetapi juga penghangat suasana. Dengan makanan, ide-ide brilian lebih mudah keluar. Meski demikian, produktivitas MT tetap berjalan, baik dalam skala besar nasional maupun regional.
MT bukan sekadar wadah diskusi. Ia adalah rumah bagi gagasan, tempat berbagi, sekaligus ruang membangun persaudaraan. Dan rupanya, kehangatan itu tak hanya berasal dari semangat anggotanya, tetapi juga dari sepiring jajanan yang menemani. (*)
