Aroma bawang goreng, cabai hijau, dan bumbu khas Nusantara setiap hari menyeruak dari dapur besar milik Uhud Taibah for Catering di Madinah, Arab Saudi. Dapur ini menjadi pusat penyediaan makanan bagi ribuan jamaah haji asal Indonesia, menghadirkan menu otentik khas Tanah Air dengan bumbu asli yang didatangkan langsung dari Indonesia.
Pada Minggu malam (4/5), pukul 23.00 WAS, Media Center Haji Daker Madinah berkesempatan meninjau langsung aktivitas produksi makanan di dapur yang berlokasi di Jalan Pangeran Nayef Bin Abdulaziz tersebut. Dapur terbagi dalam beberapa ruang, mulai dari dapur kering untuk meracik bumbu, hot room dengan panci-panci besar untuk memasak, hingga cold room dan ruang penyimpanan buah yang dilengkapi pendingin.
Chef Muhammad Suhendi, koki utama asal Cisarua, Bogor, menyampaikan bahwa 90 persen bumbu masakan dibawa langsung dari Indonesia dalam bentuk pasta siap pakai.
“Kami membawa bumbu khas seperti gepuk dan cabai hijau langsung dari Indonesia. Rasanya tetap otentik Indonesia dan lebih ringan dibandingkan masakan Arab,” jelasnya.
Menu untuk jamaah disusun oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan disajikan secara rotasi. Pada hari Jumat, jamaah disuguhi nasi Arab, ayam panggang, dan kurma. Sementara di hari lain, menu khas Indonesia seperti nasi uduk, orek tempe, telur dadar, dan sambal menjadi andalan. Setiap porsi juga dilengkapi buah segar seperti jeruk, pisang, atau puding, dengan kurma khusus disediakan pada Jumat.
Dadang Suratman, tenaga ahli pengawasan konsumsi dari Poltekpar NHI Bandung dan perwakilan PPIH Arab Saudi, menjelaskan bahwa proses produksi dan distribusi makanan dilakukan dengan standar tinggi.
“Proses memasak dimulai sejak malam. Sarapan harus sudah tiba di hotel pukul 06.00 dengan suhu terjaga pada 80°C. Semua makanan dikemas menggunakan aluminium foil untuk menjaga kualitas,” ujarnya.
Sebelum dikirim ke hotel, makanan harus melalui uji sampel di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Setelah tiba, petugas hotel kembali melakukan pemeriksaan untuk memastikan kelayakan konsumsi.
PPIH juga menerapkan aturan waktu konsumsi ketat demi menjaga kesehatan jamaah. Sarapan harus dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WAS, makan siang sebelum pukul 16.00, dan makan malam sebelum pukul 21.00.
“Jika melewati waktu tersebut, makanan harus dimusnahkan demi mencegah gangguan kesehatan,” kata Dadang.
Uhud Taibah for Catering merupakan salah satu dari 22 perusahaan katering yang lolos seleksi ketat Kementerian Agama RI melalui sistem lelang. Perusahaan ini diperkuat oleh tim sebanyak 60 orang, termasuk sembilan warga negara Indonesia dan minimal tiga chef utama.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga profesional, dan penyedia layanan katering, kehadiran dapur ini tidak hanya menjamin kebutuhan gizi jamaah haji, tetapi juga membawa rasa rumah di tengah ibadah di Tanah Suci.
“Meski sedang beribadah jauh dari Tanah Air, kami ingin jamaah tetap merasa seperti di rumah,” tutup Chef Suhendi. (afifun nidlom)
