Rawat Anak-Anak Kita, Muliakan Guru-Gurunya

www.majelistabligh.id -

*)Oleh:Machnun Uzni, SIKom
Wakil Sekertaris PW. Muhammadiyah Kaltim

Wahai Ayah Bunda, belajarlah kita pada embun pagi

Embun pagi tak pernah memilih di mana dirinya akan terbentuk. Embun pagi pun tak pernah memilih pada dedaunan mana akan berpijak. Embun itu begitu sederhana, tak berwarna, dan dapat berubah bentuk sesuai apa yang dilaluinya.

Itulah yang membuat dedaunan begitu menyukainya. Bisakah kita belajar dari sebuah embun? Belajar untuk bisa menerima dengan sukacita dimanapun menempatkan anak-anak kita.

Anak merupakan sebuah amanah bagi setiap orang tua. Karena itulah sudah menjadi kewajiban bagi keduanya untuk mendidik anak-anaknya menjadi orang yang shaleh dan tumbuh berkembang dengan sebaik-baiknya. Anak yang terjaga penuh kasih sayang di masa kecilnya, tertata disaat remajanya dan berlimpah prestasi disaat mudanya.

Ada ungkapan menarik yang patut kita ikuti, “Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata krama, adab atau ahlak yang baik.” Selanjutnya kita diingatkan pula sebagai orangtua, “Sungguh di dalam surga itu ada rumah yang disebut rumah kebahagiaan yang tidak dimasuki kecuali orang yang membahagiakan anak-anak kecil.”

Karena waktu itu akan terasa cepat berlalu dalam membersamai anak-anak kita. Jangan lelah dengan sikapnya, jangan mudah emosi dengan segala tingkahnya, Karena waktu akan terasa cepat berlalu jangan bosan menemani rutinitasnya, hingga tak terasa saat mereka beranjak dewasa nanti mereka sudah tidak mengganggumu lagi, mereka punya kesibukan sendiri dan berganti kita akan ditinggalkannya dengan dunianya.

Tidak mudah merawat dan mengasuh generasi Z. Mereka tak cukup dibimbing untuk sukses, namun perlu diberikan ruang untuk bahagia dan bertumbuh resiliensinya (Mark McCrindle, 2019). Anak-anak kita hari ini tidak lagi sekedar dibersamai kasih sayang orangtua, celupan lautan ilmu dari para guru, namun juga dibesarkan oleh media sosial yang diikutinya. Ada dunia nyata lain yang boleh jadi lebih banyak dimasuki oleh anak-anak kita dalam terbentuknya karakter selama ini.

Kuatkan anak-anak kita semenjak dini dari lingkungan keluarga. Keluarga adalah sebuah mikrosistem, yang menjadi lingkungan utama dalam perkembangan individu. Maka keluarga memiliki kontribusi sangat besar terhadap pencapaian resiliensi anak (Duncan dkk, 2005; Reich, 2009).

Pengasuhan yang tepat, diketahui merupakan faktor krusial dalam menumbuhkan resiliensi anak (Simuforosa, 2013; Przybylski dkk, 2014). Demikian pula, lingkungan tumbuh kembang yang positif, membuat anak berdaya, mampu mengelola diri sendiri dan menjadi individu resilien (Duncan dkk, 2005; Reich, 2009; Simuforosa, 2013; Przybylski dkk, 2014).

Jauh sebelum Adversity Quotient (AQ) yaitu kecerdasan seseorang mampu bertahan dalam menghadapi rintangan atau kesulitan diperkenalkan, Paul G. Stoltz pada tahun 1997, maka ribuan tahun yang lalu sosok teladan Nabi Ibrahim a.s. beserta istrinya Hajar dan putranya Ismail telah memberi contoh bagaimana rangkaian AQ adalah memaksimalkan usaha yang diiringi dengan tawakkal.

Di tengah padang gersang, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail dengan untaian doa dalam Surat Al BAqarah; 126, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,

Ibu Hajar berlari-lari untuk mendapatkan air untuk putranya yang masih bayi, ismail. Berlari dari bukti Shafa ke Marwa, sebuah usaha didorong kasih sayang sebagai seorang Ibu, tak kenal lelah apalagi menyerah. Maka benarlah Ibu adalah Taman kesabaran, disanalah cinta dan kerinduan diciptakan.

Wahai Anak-anakku, Hormati dan Doakan Gurumu.

Islam memberikan penghargaan stinggi terhadap guru. Ia adalah salah satu pemilik ilmu pengetahuan. Tingginya kedudukan guru dalam Islam, menurut Ahmad Tafsir, tak bisa dilepaskan dari pandangan bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber pada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Baqarah ayat 32; “Mereka menjawab, Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana.”

Muhammad Nafi mengemukakan pada buku Pendidik dalam Konsepsi Imam Al-Ghazali, bahwa guru merupakan spiritual father bagi seorang murid yang memberinya santapan jiwa serta rohani melalui ilmu dan pendidikan akhlak. Guru adalah peletak dasar akan potensi yang ditemukan dalam diri anak-anak kita, penguat tekad agar bertumbuh semangat belajarnya.

Guru menjadi bagian utama yang akan mengantar anak-anak pada derajat kemuliaan, sebagaimana Al-Qur’an menuliskan dalam Surat Al Mujadilah ayat ke-11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Wahai Bapak Ibu, Suatu saat nanti, kita akan tinggal kenangan bagi orang-orang yang hadir dalam hidup kita. Maka ukirlah kenangan yang indah. Bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan ketulusan, kebaikan dan cinta yang akan terus dikenang.

Teruslah melangitkan doa sebagaimana dalam Quran Surat Al Furqon; 74, walladzîna yaqûlûna Rabbanâ hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyâtinâ qurrata a‘yuniw waj‘alnâ lil-muttaqîna imâmâ, Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

#Disampaikan pada silaturahmi dan pengukuhan siswa kelas VI Angkatan ke-51 SD Muhammadiyah 1 Kota Samarinda, Sabtu (24/5/2025)

 

Tinggalkan Balasan

Search