Riuh tepuk tangan memecah kekhidmatan sidang wisuda di Universitas Muhammadiyah Jakarta tahun 2025/2026. Di tengah barisan toga yang tertata rapi, sebuah momen tak terduga mengubah seremoni akademik menjadi peristiwa penuh energi dan semangat persatuan.
Sholeh Sofian, salah satu wisudawan Mahasiswa Magister yang merupakan aktivis Pengurus Besar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PB LDNU), tampil bukan hanya sebagai lulusan, tetapi sebagai jembatan simbolik dua ormas besar Islam Indonesia. Panggung wisuda mendadak menjadi ruang dialog ideologis yang hangat antara tradisi dan pembaruan.
Dalam sambutannya mewakili wisudawan, pria asal Tegal dengan penuh keyakinan memperkenalkan dirinya sebagai aktivis di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menegaskan bahwa hubungan antara NU dan Muhammadiyah bukanlah hubungan kompetisi, melainkan relasi sinergi yang saling menguatkan sejak awal berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912.
Ia menggambarkan relasi tersebut dengan narasi yang menggugah dan penuh makna sosial. “Ketika Muhammadiyah mendirikan rumah sakit, NU menyediakan pasiennya. Ketika Muhammadiyah mendirikan kampus, NU menyediakan mahasiswanya sekaligus menjadi penerima beasiswa,” ujarnya dengan penuh percaya diri.
Pernyataan itu sontak menggema di ruangan yang menghadirkan refleksi mendalam tentang peran kolektif umat dalam membangun peradaban. Pidato tersebut tidak hanya menjadi refleksi historis, tetapi juga menjadi seruan moral bagi generasi muda Islam untuk melanjutkan tradisi kolaborasi.
Sholeh menegaskan bahwa masa depan umat tidak dapat dibangun melalui fragmentasi, melainkan melalui sinergi yang berbasis pada visi keumatan. Ia memposisikan dirinya sebagai representasi generasi baru yang menjembatani nilai-nilai tradisi NU dengan semangat tajdid Muhammadiyah.
Pesan itu terasa kuat karena disampaikan bukan sekadar sebagai teori, tetapi sebagai pengalaman nyata seorang kader NU yang ditempa dalam institusi pendidikan Muhammadiyah. Di titik itu, panggung wisuda berubah menjadi ruang dakwah intelektual yang menyatukan dua arus besar gerakan Islam Indonesia.
Namun, momentum paling dramatis terjadi ketika Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Ma’mun Murod, tiba-tiba bangkit dari kursinya. Dengan langkah tegas, ia menuju podium dan mengambil mikrofon, menarik perhatian seluruh hadirin. “Biar imbang, saya harus mengomentari,” ujarnya membuka tanggapan.
Ia menyatakan sepakat dengan seluruh isi pidato Sholeh Sofian, khususnya tentang pentingnya sinergi antara NU dan Muhammadiyah. Namun, ia merasa perlu memberikan jawaban nyata, bukan sekadar persetujuan verbal.
Dengan suara tegas, Dr. Ma’mun Murod kemudian mengumumkan keputusan yang menggetarkan seluruh ruangan. “Sebagai Rektor, saya menyatakan Mas Sholeh bisa melanjutkan S3 dan menjadi penerima beasiswa,” ujarnya.
Seketika itu juga, ruangan meledak oleh tepuk tangan dan sorak-sorai audiens yang hadir. Keputusan tersebut bukan hanya penghargaan akademik, tetapi simbol pengakuan terhadap integritas, visi, dan komitmen dakwah seorang kader muda. Beasiswa itu menjadi manifestasi nyata dari nilai Muhammadiyah yang menjunjung tinggi ilmu, dakwah, dan kolaborasi umat.
Mendapat kehormatan tersebut, Sholeh Sofian tampak terharu namun tetap menunjukkan semangat juangnya. Ia berdiri tegap, mengepalkan tangan, dan dengan suara lantang menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih Pak Rektor. Hidup UMJ!” pekiknya, disambut kembali dengan riuh tepuk tangan. Momentum itu menjadi lebih dari sekadar pengumuman beasiswa; ia menjelma menjadi simbol kebangkitan generasi dakwah intelektual yang siap melanjutkan perjuangan umat melalui jalur pendidikan tinggi.
Sosok Sholeh Sofian kini tidak hanya menjadi wisudawan, tetapi juga simbol harapan baru bagi penguatan dakwah, persatuan umat, dan masa depan Islam Indonesia yang lebih berkemajuan. || m. roissudin
