Suasana teduh dan penuh semangat ilmu kembali memenuhi Aula Gedung Baru RS PKU Muhammadiyah Surabaya, Rabu (19/11/2025). Bimbingan Rohani (BIMROH) rumah sakit menggelar Kajian Rutin Reboan untuk kali kedua pada bulan November. Mengangkat tema “Jagalah Lisammu, Selamatkan Akhiratmu”, kajian ini membahas hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: tanggung jawab lisan.
Ustadz Abdullah Musa, pemateri tunggal, menjelaskan bahwa tema ini merupakan kelanjutan dari kajian sebelumnya. Menurutnya, persoalan lisan adalah isu sentral dalam pembentukan karakter seorang muslim.
“Ini bukan tema ringan. Lisan bisa mengangkat derajat seseorang, tapi juga dapat menjerumuskannya,” ujar beliau membuka materi.
Dengan gaya bertutur yang mengalir, Ustadz Musa –panggilan akrabnya, memulai pembahasan dengan mengangkat kisah dua paman Nabi Muhammad SAW: Abu Lahab dan Abu Thalib. Keduanya dekat dengan Nabi, namun berakhir dengan nasib berbeda.
“Abu Lahab jelas disebut sebagai penghuni neraka dalam surat Al-Lahab karena penentangannya terhadap dakwah,” jelasnya.
Sementara Abu Thalib, meski membela Nabi sepanjang hidupnya, tetap tidak beriman hingga wafat. Ini menunjukkan bahwa kedekatan nasab saja tidak cukup tanpa deklarasi iman melalui lisan dan keyakinan hati.
Pesan ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak merasa aman hanya karena status keturunan atau lingkungan saleh.
Hadits Kunci Surga: Mulut dan Kemaluan
Materi berlanjut pada hadits populer tentang penjagaan diri. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahang gigi dan dua kakinya, maka aku jamin baginya surga.”
Menurut Ustadz Musa, dua hal ini adalah sumber besar dari banyak dosa: berdusta, ghibah, memfitnah, berkata kasar, hingga perilaku keji lainnya.
“Menjaga lisan itu bukan sekadar tidak berbicara. Ini latihan spiritual,” tegasnya.
Untuk memperkuat argumen, beliau mengajak peserta mendalami ayat-ayat surah Al-Qalam, terutama ayat 10–11 yang mengecam perilaku suka mencela dan menyebar fitnah.
“Ini teguran langsung dari Allah. Lisan yang buruk bukan hanya dosa sosial, tetapi dosa teologis,” ungkapnya.
Beliau juga menyinggung pesan tauhid dan hari kebangkitan dalam Surah Yasin yang berkaitan erat dengan pertanggungjawaban lisan di akhirat.
Bagian paling berkesan saat Ustadz Musa mengulang dialog Nabi dengan sahabat Muadz bin Jabal RA. Dalam dialog itu, Rasulullah menyebutkan amal-amal utama yang memasukkan seseorang ke surga, lalu menutupnya dengan satu kalimat penting: “Kunci dari semua itu adalah (menjaga) lisan.”
“Ini inti ajaran. Rasul sendiri yang menegaskan bahwa lisan adalah kunci semua kebaikan,” kata Ustadz Musa.
Kajian yang dihadiri puluhan karyawan RS PKU Muhammadiyah Surabaya ini berlangsung interaktif. Peserta aktif bertanya dan berdiskusi, menandakan tema ini menyentuh masalah yang mereka hadapi sehari-hari. Di akhir acara, Ustadz Musa mengajak jamaah menyiapkan infaq terbaik sebagai bentuk pembersihan harta dan pelengkap amal.
BIMROH RS PKU Muhammadiyah Surabaya berharap Kajian Reboan dapat menjadi program berkelanjutan dalam pembinaan spiritual pegawai. Selain memperkuat profesionalisme, kegiatan ini diharapkan menumbuhkan lingkungan kerja yang dipenuhi nilai ukhuwah dan akhlakul karimah. (Muhammad Jamaluddin, M.Ag.)
