Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum reflektif untuk meninjau kembali perjalanan dan kualitas pendidikan di tanah air. Peringatan Hardiknas tahun 2025 ini mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Tema tersebut mengandung makna mendalam tentang pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam membangun sistem pendidikan yang unggul, adil, dan dapat diakses oleh semua kalangan.
Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Dr Hidayatulloh menyambut baik tema Hardiknas tahun ini.
Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan situasi pendidikan nasional yang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal kualitas dan pemerataan.
“Jika kita cermati bersama, kondisi pendidikan di Indonesia masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Kualitas pendidikan kita belum sepenuhnya mampu bersaing dengan negara-negara maju. Ini menjadi tantangan bersama yang harus kita hadapi dengan serius,” jelas Dr Hidayatulloh seperti dilansir di laman resmi Umsida, pada Sabtu (3/5/2025).
Sebagai bentuk implementasi amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ketersediaan lembaga pendidikan yang bermutu merupakan suatu keniscayaan.
Hidayatulloh menegaskan bahwa hanya dengan pendidikan yang bermutu, bangsa Indonesia bisa membangun sumber daya manusia yang tangguh dan berdaya saing.
Menurut dia, tema Hardiknas 2025 menekankan bahwa pencapaian pendidikan yang bermutu tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata.
“Tema ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk terlibat aktif. Pemerintah, penyelenggara pendidikan, masyarakat, dunia usaha, bahkan keluarga harus saling bersinergi dan berkolaborasi. Hanya dengan keterlibatan semua pihak, visi pendidikan yang adil dan merata bisa terwujud,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kerja sama nasional adalah kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang merata dan inklusif.
Pendidikan tidak boleh lagi menjadi barang mewah yang hanya dinikmati oleh sebagian kalangan. Anak-anak dari daerah terpencil, keluarga kurang mampu, hingga anak-anak pekerja migran Indonesia di luar negeri, harus memiliki akses yang setara terhadap pendidikan berkualitas.
Hidayatulloh yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur ini menambahkan bahwa Hardiknas seharusnya menjadi momentum untuk membangkitkan semangat nasional dalam memperjuangkan pendidikan.
“Momentum ini harus melahirkan kesadaran kolektif dan komitmen tinggi dari kita semua untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan. Hanya dengan pendidikan yang maju, Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang kuat, bermartabat, dan memiliki jati diri,” tegasnya.
Dia juga mengajak semua pihak, baik dari sektor pemerintahan, swasta, hingga komunitas lokal, untuk terus berkontribusi sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Kontribusi tersebut bisa berupa pemikiran, tenaga, dukungan program, hingga pendampingan terhadap lembaga pendidikan di wilayah-wilayah yang masih tertinggal.
Tak hanya berbicara soal partisipasi, Dr Hidayatulloh juga menekankan nilai-nilai luhur yang harus menjadi ruh dalam proses pendidikan.
“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan. Di dalamnya juga ada transfer nilai-nilai (values) dan kompetensi (competence). Ketiganya harus berjalan seiring agar peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual,” ungkapnya.
Sebagai tokoh pendidikan yang pernah menjabat sebagai kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo selama dua periode, Hidayatulloh memiliki pandangan luas tentang pentingnya membentuk karakter dalam proses pembelajaran.
Dia berkeyakinan bahwa pendidikan yang ideal harus memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara proporsional.
Di sisi lain, ia memberikan apresiasi atas langkah progresif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang telah memasukkan materi Coding dan Artificial Intelligence (AI) ke dalam kurikulum dasar dan menengah.
“Ini adalah kebijakan yang sangat strategis. Di era digital seperti sekarang, anak-anak kita harus dibekali dengan kemampuan teknologi sejak dini. Namun kita juga tidak boleh lupa, kecanggihan teknologi itu harus diimbangi dengan akhlak mulia, keimanan yang kokoh, dan kepatuhan dalam beribadah,” tegasnya.
Peringatan Hardiknas, menurutnya, juga harus menjadi momentum memperkuat semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membentuk pribadi unggul, sekaligus cinta bangsa dan siap berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.
Akhirnya, Hidayatulloh menyerukan agar seluruh elemen bangsa tidak hanya memperingati Hardiknas secara seremonial, tetapi menjadikannya sebagai panggilan moral untuk bergerak bersama, bersinergi, dan berkontribusi nyata demi menciptakan sistem pendidikan nasional yang lebih adil, berkualitas, dan merata bagi seluruh anak bangsa. (*/wh)
