*)Oleh: M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd
Anggota MTT PDM Lamongan
Dalam beberapa pekan terakhir, jalan-jalan di berbagai kota ramai oleh aksi solidaritas untuk Palestina. Spanduk, orasi, doa bersama dan lantunan takbir mewarnai suasana. Masyarakat dari berbagai lapisan turun ke jalan menyuarakan dukungan bagi saudara-saudara kita yang menderita akibat genosida Zionis Israel. Namun, di tengah semangat yang membuncah itu, sebuah pertanyaan mengusik nurani: sejauh mana aksi ini mencerminkan keseriusan kita dalam membela Palestina?
Aksi Simbolik atau Kesadaran autentik?
Banyak dari kita yang berteriak lantang membela Palestina, namun saat kembali ke rumah, tanpa sadar atau bahkan dengan sadar menggunakan sabun, sampo, makanan instan atau air mineral yang berasal dari perusahaan yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung Israel. Bahkan ironisnya, ada yang menjadikan produk-produk itu sebagai konsumsi utama harian dengan dalih harga yang lebih terjangkau, meskipun secara finansial mampu membeli produk alternatif lainnya, atau lebih etis memilih menggunakan produk lokal.
Pertanyaannya bukan lagi soal tahu atau tidak tahu. Banyak dari kita sudah memiliki informasi mengenai produk-produk yang terafiliasi dengan Zionis Israel, baik melalui media sosial, daftar boikot resmi, maupun dari diskusi-diskusi publik. Namun, informasi itu seringkali tidak berdampak pada perilaku konsumsi kita. Rupanya ini bukan sekadar inkonsistensi, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap nilai yang kita serukan sendiri, ironi.
Manipulasi Empati oleh Korporasi
Korporasi-korporasi yang berafiliasi dengan Israel tidak tinggal diam menghadapi gelombang boikot global. Mereka mulai menjalankan strategi baru: menyusup lewat “kebaikan sosial.” Mereka mendonasikan produk ke panti asuhan, rumah dhuafa dan lembaga sosial lainnya, apalagi ketika bulan Ramadhan. Mereka merangkul publik melalui kampanye kemanusiaan, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari solusi dan bukan menjadi masalah.
Strategi ini berhasil, terutama karena banyak lembaga sosial yang akhirnya justru menjalin kerja sama dengan mereka atas dasar efisiensi dan harga murah. Padahal, jika ditilik lebih dalam, bantuan tersebut bukan bentuk amal murni, melainkan strategi memperluas pengaruh dan menjaga keberlangsungan pasar.
Kita Terjebak dalam Dilema Etik
Mengonsumsi produk Israel sambil menyuarakan pembelaan terhadap Palestina adalah kontradiksi moral yang nyata. Bahkan ketika kita berdalih bahwa satu orang tidak mampu mengubah keadaan global, kita melupakan kekuatan dari gerakan kolektif. Jika ratusan juta Muslim berhenti membeli produk-produk tersebut, akankah itu tidak berdampak? Tentu saja berdampak, silahkan cek datanya!
Apalagi jika kita berbicara tentang keberkahan hidup. Mungkin kita tidak sadar, bahwa di balik sabun yang kita gunakan, ada darah dan air mata anak-anak Gaza. Di balik makanan dan minuman cepat saji yang kita konsumsi, ada jejak dolar yang mengalir ke pabrik senjata yang menewaskan warga sipil tak berdosa.
Mengapa Hidup Kita Terasa Gundah?
Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa hidup terasa berat, hati terasa sempit, dan masalah datang bertubi-tubi? Mungkin bukan semata-mata karena ujian hidup, tapi karena keberkahan yang hilang. Ketika doa kita di aksi bela Palestina hanya menjadi ritual seremonial, sementara perbuatan kita justru mendukung ekonomi penindas, mungkinkah itulah sebab hidup kita tidak tenang?
Sebagaimana dalam firman Allah:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…”
(QS. Hud: 113)
Kita tidak perlu menjadi tentara untuk berperang. Di era ini, konsumen adalah pejuang. Uang yang kita belanjakan adalah peluru. Dan pilihan kita dalam berbelanja bisa menjadi bentuk jihad kecil yang bernilai besar.
Membela Palestina bukan hanya soal turun ke jalan, bukan hanya tentang menggenggam poster dan meneriakkan semangat. Pembelaan sejati adalah refleksi mendalam yang termanifestasi dalam setiap aspek hidup kita, termasuk keputusan-keputusan konsumsi sehari-hari.
Mulailah dengan langkah kecil: cek ulang produk yang kita gunakan, cari alternatif yang lebih etis, dukung produk lokal yang berkualitas dan bebas dari jejaring Zionis Israel. Karena setiap rupiah yang kita keluarkan adalah suara. Dan suara itu, jika disatukan bisa mengguncang dunia. (*)
