Allah berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
“Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”
Dalam Surah Al-Hajj ayat 34 Allah berfirman:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ
Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).
Dan pada Surah Al-Hajj ayat 37 Allah SWT berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.”
Dan dalam Surah Al-An’am ayat 162–163 Allah berfirman:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
“Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.”
Rasulullah SAW bersabda. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan menunjukkan keutamaan ibadah kurban:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهِ وَأَشْعَارِهِ وَأَظْلَافِهِ، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah daripada menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah kurban itu akan diterima oleh Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka, berkurbanlah dengan hati yang ikhlas.”
Berkurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah bentuk cinta dan ketaatan kepada Allah.
Dalam sejarahnya, ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim as yang diperintahkan untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail as, sebagai ujian keimanan. Kesediaan mereka menerima perintah Allah menunjukkan ketulusan cinta dan kepatuhan yang luar biasa.
Beberapa hikmah dari berkurban antara lain:
- Bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah.
- Melatih keikhlasan dan ketaatan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim.
- Memperkuat kepedulian sosial, karena daging kurban dibagikan kepada yang membutuhkan.
- Meningkatkan ketakwaan, karena kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah.
Mari kita jadikan ibadah kurban sebagai wujud ketaatan dan cinta kepada Allah, bukan sekadar tradisi, tetapi sebagai bentuk pengorbanan yang penuh makna.
Rasa cinta dan ketaatan adalah dua hal yang saling berkaitan dalam kehidupan seorang Muslim. Cinta kepada Allah melahirkan ketaatan, dan ketaatan yang tulus semakin memperkuat cinta kepada-Nya.
Dalam Islam, cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Beberapa bentuk cinta dan ketaatan dalam Islam:
- Cinta kepada Allah: diwujudkan dengan ibadah dan kepatuhan terhadap ajaran-Nya.
- Cinta kepada Rasulullah: ditunjukkan dengan mengikuti sunnah dan ajaran beliau.
- Cinta kepada sesama manusia: diwujudkan dengan sikap kasih sayang, keadilan, dan kepedulian sosial.
- Cinta kepada Allah adalah bentuk mahabbah yang paling tinggi dan hakiki dalam kehidupan seorang Muslim.
Cinta ini bukan sekadar perasaan, tetapi diwujudkan dalam ketaatan, ibadah, dan kepatuhan terhadap perintah-Nya.
Tanda-Tanda Cinta kepada Allah:
- Mencintai Rasulullah dan mengikuti sunnahnya.
- Mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.
- Menjauhi perbuatan dosa dan berusaha selalu dalam kebaikan.
- Mendahulukan perkara yang dicintai Allah di atas kepentingan duniawi.
- Tak gentar menghadapi ujian karena yakin bahwa semua datang dari Allah.
Cara Meningkatkan Cinta kepada Allah:
- Memahami besarnya cinta Allah kepada hamba-Nya.
- Senantiasa membersihkan hati dari sifat buruk.
- Mempelajari ilmu agama secara mendalam.
- Memperbanyak ibadah seperti shalat, dzikir, dan doa.
- Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an dan kebesaran ciptaan-Nya.
Cinta kepada Rasulullah saw adalah bagian penting dari keimanan seorang Muslim. Beliau adalah teladan utama dalam kehidupan, dan mencintai beliau berarti mengikuti ajaran serta sunnahnya dengan penuh kesungguhan.
Tanda-Tanda Cinta kepada Rasulullah saw:
- Mengikuti Sunnahnya – Menjalankan ajaran dan kebiasaan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
- Memperbanyak Shalawat – Bershalawat kepada Rasulullah ﷺ sebagai bentuk penghormatan dan doa.
- Mempelajari Sirah Nabi – Mengenal perjalanan hidup beliau agar semakin memahami perjuangannya.
- Meneladani Akhlaknya – Bersikap jujur, amanah, penyayang, dan penuh kasih seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.
- Menyebarkan Dakwahnya – Mengajak orang lain kepada kebaikan dan ajaran Islam.
Cinta kepada Sesama Manusia
Cinta kepada sesama manusia adalah nilai fundamental dalam kehidupan yang mencerminkan kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam Islam, cinta ini diwujudkan dalam tindakan nyata seperti tolong-menolong, saling menghormati, dan menjaga hubungan baik.
Makna Cinta kepada Sesama:
- Menjalin persaudaraan tanpa memandang suku, ras, atau status sosial.
- Membantu orang lain dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan.
- Menjaga kehormatan dan hak sesama manusia sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan Allah.
Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)
Makna Ketaatan
Ketaatan adalah sikap patuh dan tunduk terhadap aturan, perintah, atau prinsip yang diyakini. Dalam Islam, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan keimanan seseorang.
Bentuk Ketaatan:
- Ketaatan kepada Allah: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Ketaatan kepada Rasulullah: mengikuti sunnah dan ajaran beliau.
- Ketaatan dalam kehidupan sosial: mematuhi aturan yang berlaku demi kebaikan bersama.
Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa taat kepadaku, maka ia telah taat kepada Allah…” (*)
