Di tengah hamparan lumpur yang masih menyelimuti Desa Sunting, sekelompok relawan dari Jawa Timur tampak sibuk menghidupkan suasana di bawah tenda sederhana. Mereka adalah gabungan relawan kemanusiaan dari MDMC Jawa Timur, Lazismu Jatim, hingga para akademisi dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Kehadiran mereka di garis depan bencana banjir bandang Kabupaten Aceh Tamiang ini mendapat apresiasi menyentuh dari Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Suswati Tito Karnavian. “Terima kasih MDMC Jawa Timur sudah mendidik anak-anak di tempat korban bencana alam di Desa Sunting,” ungkap Tri Suswati dengan haru saat meninjau langsung sekolah darurat tersebut, Jumat (23/1/2026).
Urgensi kehadiran para relawan ini diperkuat oleh data riset lapangan yang menunjukkan skala dampak bencana yang sangat luas, di mana tercatat 438 KK terdampak di dua desa dampingan dengan rincian 203 KK di Desa Serba dan 235 KK di Desa Sunting. Di antara ribuan penyintas tersebut, terdapat kelompok rentan yang membutuhkan pendampingan ekstra, yakni 96 jiwa balita dan 108 jiwa lansia.
Dukungan moril juga datang dari Sekretaris II TP PKK Pusat, Susana Harijani, S.H., M.Si., yang turut mendampingi kunjungan tersebut. “Dari kami tentu saja menyemangati kerja baik, kerja amalnya, semoga mendapat balasan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. Terima kasih semangatnya!” ujar Susana saat berbincang dengan para relawan di lokasi posko.
Sektor pendidikan menjadi titik paling kritis yang disentuh oleh para relawan asal Jawa Timur ini. Riset lapangan mencatat kerusakan masif pada 5 unit fasilitas pendidikan, di mana 1 unit MI Swasta di Dusun Tanjung mengalami rusak berat dengan kondisi atap roboh total. Sementara fasilitas pendidikan lainnya mengalami rusak sedang hingga sarana belajarnya hanyut.
Mengingat gedung sekolah yang ada saat ini tertutup material lumpur tebal, kehadiran 7 tenaga pendidik sukarela dari Muhammadiyah menjadi jaminan bahwa anak-anak tidak kehilangan waktu belajar. Walaupun kondisi cuaca ekstrem dan debu pekat membatasi waktu belajar hanya dua jam sehari, keberadaan sekolah darurat ini memastikan rutinitas anak-anak tetap terjaga di tengah masa pemulihan.
Komitmen kolektif ini terus diperkuat melalui pemenuhan infrastruktur darurat yang berbasis pada kebutuhan nyata siswa, seperti pengadaan 200 paket school kit, meja lipat, dan tikar guna menunjang kelayakan aktivitas belajar.
Selain pendidikan, sinergi ini juga mencakup layanan kesehatan rutin untuk mengantisipasi meluasnya penyakit ISPA dan penyakit kulit yang mulai melanda pengungsi. Melalui kolaborasi antara Lazismu Jatim, MDMC, dan unsur PTMA, para relawan membuktikan bahwa pendekatan kemanusiaan yang tulus dan berbasis data mampu menjadi energi baru bagi masyarakat Aceh Tamiang untuk bangkit dan merajut kembali mimpi mereka yang sempat terendam banjir. (*/tim)
