Relawan Muhammadiyah, Relawan Luar Biasa!

Para relawan Muhammadiyah yang luar biasa. (ist)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Saat bencana banjir menghampiri Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, November 2025 lalu, hampir semua warga terhentak. Melihat tayangan TV maupun media sosial, menunjukkan betapa dahsyatnya banjir tersebut. Pemerintah langsung menggelar rapat, para menteri dipanggil, dan ditugaskan membuat perencanaan menangani bencana ini.

Di sela-sela gemuruh membicarakan soal bencana dengan berbagai narasi, ada warga korban bencana yang menangis, sanak saudara meregang nyawa, kehilangan tempat tinggal, kelaparan, dan berbagai kesedihan lain yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Di saat itulah, Muhammadiyah mengambil sikap. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan sikap resmi organisasi serta menyerukan persatuan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi bencana. Sikap ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Haedar Nashir menyampaikan tiga poin utama sikap dan langkah Muhammadiyah. Pertama, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas nama seluruh persyarikatan Muhammadiyah. Kedua, Muhammadiyah mengajak seluruh keluarga bangsa, termasuk warga persyarikatan, untuk menunjukkan kepedulian dengan berbagi dan merasakan penderitaan saudara yang terdampak.

Dan Ketiga, secara kelembagaan Muhammadiyah mengkonsolidasikan seluruh gerakan bantuan melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu), serta Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU). Seluruh sumber daya berupa dana, tenaga, sukarelawan, dan tenaga medis dikerahkan untuk penanggulangan kedaruratan, yang akan dilanjutkan dengan proses rehabilitasi jangka panjang.

Sikap persyarikatan bak sebuah perintah. Semua unsur yang ada di Muhammadiyah langsung merespon cepat, karena ini adalah urusan kemanusiaan. Relawan hari itu juga diterjunkan, kampus-kampus di bawah muhammadiyah yang memiliki Fakultas Kedokteran, menerjunkan para dokter, mahasiswa Koas dan perawat ke lapangan. Tenda-tenda dididirkan di lokasi bencana. Dapur umum mulai mengepul.

Saat kedatangan ratusan, bahkan ribuah relawan Muhammadiyah, para korban pun merasa lega. Mereka merasa tidak sendiri. Yang sakit mulai dirawat. Yang lapar mulai menikmati lezatnya makanan. Yang tidak bisa sekolah mulai ada sekolah darurat. Juga ada kelompok psikolog yang mendampingi psikososial warga terdampak, khususnya anak-anak. Juga ada relawan Muhammadiyah yang menciptakan sumur-sumur sementara dan sistem penjernian air untuk memenuhi kebutuhan di lokasi pengungsian.

Dana pun dikumpulkan. Bahkan Haedar Nashir menginstruksikan agar seluruh masjid Muhammadiyah di Indonesia, menyumbangkan seluruh hasil infak Jumat pada 3 kali Jumat di Bulan Desember 2025 untuk kebutuhan bencana. Tidak penting memikirkan wacana status bencana lokal atau bencana nasional. Yang terpenting adalah menolong korban, kemanusiaan, dan tidak ada tendensi apapun. Muhammadiyah juga diberi amanah menyalurkan puluhan ton beras dari organisasi amal Uni Emirat Arab.

Relawan di lapangan pun tak kenal lelah. Dari beberapa unggahan di media sosial, ada para dokter dari berbagai rumah sakit Muhammadiyah yang menjadi relawan harus berjalan 2 km sambil membawa peralatan medis dan obat-obatan yang cukup berat, karena lokasinya tidak dapat diakses melalui kendaraan darat. Ada relawan yang membawa bahan makanan untuk membantu warga yang terisolir dengan menggunakan dua rakit, dan salah satu rakit terbaik karena arus sungai yang deras. Ini pun tak membuat jera.

Tidak heran, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan apresiasi terhadap kontribusi Muhammadiyah dalam bidang kerelawanan, khususnya dalam penanganan kebencanaan khususnya di Sumatra. Berdasarkan pengamatannya secara langsung di berbagai lokasi bencana, relawan Muhammadiyah memiliki karakter dan kapasitas yang berbeda dari relawan lainnya.

“Teman-teman Muhammadiyah ini berbeda. Ketika saya melihat relawan Muhammadiyah di kawasan bencana, mereka sangat tangguh, mandiri, dan memiliki standar kerja yang tinggi,” kata Menkes

Semangat PKO Tak Pernah Padam

Dalam sejarahnya, ada empat departemen atau bagian yang pertama kali dibentuk dalam sejarah Muhammadiyah, yakni Bagian Sekolahan, Bagian Taman Poestaka, Bagian Tabligh dan Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Keempat bagian tersebut menjadi unsur pembantu pimpinan pusat (hoofdbestuur) Muhammadiyah.

Bagian PKO berdiri pada 17 Juni 1920 dalam Rapat Umum Terbuka (Openbare Vergadering) Muhammadiyah tahun 1920 pada masa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan. Kiai Syujak, santri dari KH Ahmad Dahlan, Ketua Pertama Bagian PKO. Cita-cita Kiai Syujak mendirikan rumah sakit dan armhuis (rumah miskin) terwujud pada bulan Februari 1923. Saat itu klinik dan poliklinik yang dirikan dipimpin oleh seorang dokter pribumi bernama Somowidagdo.

Dari sini sudah jelas, semangat membantu, menolong orang yang sengsara, apalagi korban bencana, sudah ada sejak jauh sebelum Indonesia merdeka. Semangat membantu sesama tidak pernah luntur hingga saat ini. Meski banyak mendapatkan apesiasi, bukan itu tujuan utamanya. Tetapi menolong sesama, mewujudkan peri kemanusiaan yang adil dan beradab, lebih penting dari sekedar sebuah penghargaan. Relawan Muhammadiyah memang luar biasa. (*)

Temukan lebih banyak informasi. Follow Instagram kami di @majelistablighmedia

Tinggalkan Balasan

Search