Sungguh, ketetapan Allah itu jauh lebih indah dari setiap rencanamu. Percayalah!
Pernah ngga sih rencana kita sudah matang ternyata hasilnya ngga sesuai yang kita inginkan. Pernah nggak sih hal yang tidak terencana justru hasilnya lebih baik. Disitulah menandakan bahwa Allah Maha Besar dan Perencana Terbaik
Kita punya rencana tapi sebaik-baik rencana adalah rencana Allah.
Kita menginginkan yang terlihat baik tapi Allah memberikan yang benar-benar terbaik untuk kita. Percaya saja dengan Allah sebab Dia yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
Allah punya rencana indah di atas rencana. Apa yang kita alami sudah menjadi Rencana-Nya, dan di atas Rencana-Nya, Allah mempunyai Rencana lain untuk kita. Sadarilah bahwa Allah Subhaanahu wa ta’ala adalah sebaik-baiknya Dzat Perencana.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
kutiba ‘alaikumul-qitaalu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asaaa ang takrohuu syai-aw wa huwa khoirul lakum, wa ‘asaaa ang tuhibbuu syai-aw wa huwa syarrul lakum, wallohu ya’lamu wa angtum laa ta’lamuun
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa terkadang apa yang kita benci atau tidak sukai justru membawa kebaikan bagi kita, dan sebaliknya, apa yang kita sukai bisa jadi buruk bagi kita. Allah SWT, sebagai Sang Pencipta, memiliki pengetahuan yang lebih luas dan mendalam tentang segala sesuatu, termasuk apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Jadi, kalimat tersebut mengandung makna bahwa kita sebaiknya tidak terburu-buru dalam menilai sesuatu berdasarkan suka atau tidak suka, karena bisa jadi ada hikmah atau kebaikan yang tersembunyi di balik apa yang kita benci atau tidak sukai.
Seorang hamba harus berprasangka baik kepada Allah saat menerima ujian. Ia mengingatkan Allah telah banyak memberikan nikmat dan karunia kepada manusia.
“Jika engkau tidak berprasangka baik terhadap Allah Ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik, maka berprasangka baiklah kepada Allah karena karunia dan pemberian-Nya kepadamu. Bukankah Dia senantiasa memberimu segala kenikmatan?” (Al-Hikam).
Apabila kita tidak dapat berbaik sangka terhadap Allah karena Allah bersifat Rabbul Alamien, yaitu Allah yang mencipta, melengkapi, memelihara dan menjamin seisi alam. Allah juga Yang Maha Pemurah dan Penyayang.
Maka sudah seharusnya kita berbaik sangka kepada Allah karena nikmat dan karunia Allah kepada kita dan keluarga kita terus mengalir. Nikmat dan karunia Allah mengalir sejak kita masih berupa air mani hingga kita wafat. (*)
