Rendah Hati, Akhlak Mulia yang Membawa Kemuliaan

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Sikap rendah hati, atau dalam istilah Islam disebut tawadhu’, merupakan salah satu akhlak terpuji yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam.

Tawaduk bermakna seseorang tidak merasa lebih tinggi atau lebih mulia dari orang lain, dan senantiasa menempatkan dirinya dalam posisi yang rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sikap ini mencerminkan kesadaran penuh akan hakikat seorang hamba yang lemah dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan-nya.

Seseorang yang tawaduk akan menjauhkan diri dari sifat sombong, angkuh, atau merasa lebih baik dari orang lain. Dia menyadari bahwa semua yang dimilikinya—harta, ilmu, jabatan, maupun keturunan—semuanya adalah titipan Allah SWT dan bisa diambil kapan saja oleh-Nya.

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menyombongkan diri, apalagi meremehkan sesama.

Namun, sebagian ulama menyampaikan bahwa dalam keadaan tertentu, menunjukkan sikap tegas kepada orang yang sombong atau fasik juga dibenarkan. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa “menyombongi orang yang sombong” bisa bernilai sedekah, karena bertujuan menyadarkan mereka dari kesalahan dan keangkuhannya.

Sikap ini tentu bukan lahir dari kesombongan pribadi, melainkan sebagai upaya amar ma’ruf nahi munkar, agar mereka segera kembali ke jalan yang benar.

Rasulullah saw telah memberikan peringatan keras tentang bahaya sifat sombong. Beliau bersabda:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa bahayanya kesombongan dalam Islam. Untuk bisa memiliki sikap tawadhu’, seseorang harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari kesombongan.

Ini bukan hal mudah, sebab nafsu manusia cenderung ingin dipuji, diakui, dan dihormati. Tetapi, hanya dengan membersihkan diri dari kesombonganlah, sikap tawadhu’ bisa tumbuh dan berkembang dalam jiwa.

Sebaliknya, Allah menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang rendah hati. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya (derajatnya).”
(HR. Muslim)

Janji ini menegaskan bahwa kemuliaan sejati di sisi Allah bukan terletak pada pangkat atau kekuasaan duniawi, melainkan pada kerendahan hati dan keikhlasan dalam beramal.

Al-Qur’an pun secara tegas melarang umat manusia untuk bersikap sombong. Dalam Surah Luqman ayat 18, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Ayat ini mengajarkan kita agar senantiasa bersikap ramah, bersahaja, dan tidak memandang orang lain dengan sebelah mata. Islam mendorong kita untuk bersikap inklusif, merangkul sesama, dan menjauhi perilaku yang menyinggung atau merendahkan.

Marilah kita senantiasa berdoa dan bertobat kepada Allah SWT. Semoga dengan ketulusan doa dan kerendahan hati kita, Allah SWT memberikan:

  • Kelancaran dalam segala urusan kita,
  • Keberkahan dalam rezeki yang kita peroleh,
  • Perlindungan dari segala mara bahaya dan keburukan,
  • Keluasan dan kecukupan rezeki untuk keluarga dan keturunan kita,
  • Penjagaan aqidah kita dari segala bentuk ajaran yang menyimpang,

Dan semoga Allah SWT menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search