Upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas kembali mendapatkan penguatan signifikan dengan dimulainya Program Karang Tangguh 2 di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Program ini merupakan inisiatif strategis yang digagas oleh Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah Disaster Management Center (LRB/MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bekerja sama erat dengan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat Aisyiyah.
Peluncuran resmi program ditandai melalui seremoni kick-off yang diresmikan langsung oleh Wakil Bupati Sumbawa dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, pada Rabu (11/6/2025).
Hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan dari instansi nasional seperti BNPB, Kedutaan Besar Australia, dan Program SIAP SIAGA Nasional, serta unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baik dari tingkat Provinsi NTB maupun Kabupaten Sumbawa.
Lebih dari 70 peserta yang terdiri dari perwakilan masyarakat sipil, akademisi, dan anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) juga turut menyemarakkan kegiatan tersebut.
Program Karang Tangguh 2 merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yang telah sukses membangun fondasi ketangguhan desa. Kali ini, pendekatannya menjadi lebih luas dan mendalam, dengan fokus pada adaptasi perubahan iklim serta penguatan ketahanan pangan. Dalam sambutannya,
Budi Setiawan, Ketua LRB/MDMC PP Muhammadiyah, menegaskan bahwa program ini membawa semangat kolaboratif untuk menghadapi dampak krisis iklim yang semakin nyata dan mendesak.
“Di Sumbawa ini, hari ini kita melaksanakan dua agenda besar. Pertama, peresmian Program Karang Tangguh 2 oleh Bapak Wakil Bupati, dan kedua adalah keterlibatan aktif dari berbagai pihak, baik lokal maupun internasional. Ciri khas dari Karang Tangguh 2 adalah penekanannya pada isu adaptasi perubahan iklim, di mana kita ingin membangun kesadaran bersama masyarakat untuk merespons tantangan yang ada,” ujar Budi.
Budi menuturkan bahwa Muhammadiyah dan Aisyiyah melalui program ini tidak hanya bekerja untuk kepentingan internal organisasi, tetapi lebih dari itu, mereka hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan yang mengutamakan kepentingan publik.
Peran LLHPB Aisyiyah, menurutnya, sangat strategis dalam menjangkau kelompok masyarakat, khususnya kaum perempuan.
“LLHPB berperan penting dalam menggerakkan masyarakat, terutama para ibu-ibu, untuk berdaya menghadapi ancaman bencana dan perubahan iklim. Kegiatan mereka akan disinergikan dengan PKK dan Dasawisma, sehingga gerakannya menjadi masif dan menjangkau akar rumput,” tambahnya.
Indrayanto, Wakil Ketua LRB/MDMC PP Muhammadiyah, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas komunitas lokal, terutama kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, agar lebih siap menghadapi potensi bencana.
Dia juga mengajak seluruh jaringan Muhammadiyah di Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam mewujudkan resiliensi berbasis komunitas.
“Kami ingin menciptakan komunitas desa yang mandiri dan mampu bertahan dalam kondisi bencana. Selain itu, kami ingin dorong partisipasi lebih luas dari jaringan Muhammadiyah di berbagai daerah, agar menjadi bagian dari solusi yang nyata dan berbasis kearifan lokal,” ujar Indrayanto.
Ketua LLHPB PP Aisyiyah, Rahmawati Husein, turut menyampaikan pentingnya peran perempuan dalam membangun ketangguhan desa.
Dia menegaskan bahwa perempuan tidak boleh hanya diposisikan sebagai korban bencana, melainkan harus dilibatkan sebagai aktor utama dalam setiap proses adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Perempuan memiliki kekuatan dalam menjaga lingkungan dan membangun ketahanan komunitas. Di Karang Tangguh 2 ini, kami akan menggerakkan kegiatan seperti penanaman mangrove dan pengembangan ketahanan pangan berbasis kelautan, yang langsung menyasar kebutuhan dan potensi lokal,” jelas Rahmawati.
Program Karang Tangguh 2 juga bersinergi dengan Program SIAP SIAGA, sebuah program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia yang berfokus pada penguatan sistem manajemen kebencanaan nasional dan daerah.
Dalam kesempatan kick-off ini, turut dilakukan sosialisasi Rencana Kerja Tahunan SIAP SIAGA, sebagai bentuk dukungan terhadap tata kelola pengurangan risiko bencana yang lebih terintegrasi, partisipatif, dan berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi lintas sektor, Karang Tangguh 2 diharapkan menjadi model praktik baik dalam membangun desa tangguh bencana sekaligus desa yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Inisiatif ini juga menjadi contoh nyata dari sinergi antara organisasi keagamaan, pemerintah, dan mitra pembangunan internasional dalam membangun Indonesia yang lebih siap, tangguh, dan inklusif menghadapi krisis masa depan. (*/wh)
