Sebagai gerakan Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) kembali menunjukkan kiprahnya dalam kancah internasional dengan turut serta dalam upaya pemulihan pascagempa di Myanmar.
Respons ini menjadi bagian dari komitmen Muhammadiyah dalam membantu masyarakat lintas negara yang mengalami krisis kemanusiaan akibat bencana alam.
Gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Myanmar pada awal tahun 2025 telah menyebabkan kerusakan parah pada berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk fasilitas pendidikan, tempat ibadah, dan sumber penghidupan ekonomi warga.
Menyikapi hal tersebut, MDMC mengirimkan tim untuk melakukan asesmen lanjutan di beberapa wilayah terdampak guna memetakan kebutuhan serta merancang strategi pemulihan jangka menengah yang kontekstual dan berkelanjutan.
Dari hasil asesmen tersebut, ditemukan bahwa sektor pendidikan dan keagamaan menjadi yang paling terdampak. Setidaknya 15 masjid dan sejumlah madrasah dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat digunakan.
Sarana prasarana pendidikan dan keagamaan yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat kini memerlukan dukungan untuk dapat dibangun kembali dan difungsikan secara optimal.
Selain itu, pemulihan aspek ekonomi warga juga menjadi prioritas penting. Banyak keluarga kehilangan mata pencaharian akibat rusaknya infrastruktur dan terhentinya aktivitas usaha rumah tangga.
Oleh karena itu, MDMC merancang program livelihood recovery dengan memberikan bantuan dan pelatihan kepada warga agar dapat kembali menjalankan usaha dan membangun ketahanan ekonomi secara mandiri.
Sebagai bagian dari strategi pelaksanaan di lapangan, MDMC menggandeng Phoenix Association—sebuah organisasi lokal di Myanmar yang memiliki rekam jejak dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Kemitraan ini memainkan peran vital, mulai dari proses asesmen, pengurusan perizinan resmi dari otoritas setempat, hingga menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat terdampak. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam memahami dinamika sosial, budaya, serta kondisi keamanan wilayah yang tidak selalu mudah.
Namun demikian, tantangan tidak sedikit dihadapi oleh tim di lapangan. Kendala teknis seperti terbatasnya jaringan komunikasi dan internet menjadi hambatan serius.

Sistem komunikasi berbasis nomor Indonesia tidak dapat digunakan karena tidak adanya layanan roaming internasional.
Untuk mengakses informasi dan berkoordinasi secara digital, tim harus menggunakan layanan Virtual Private Network (VPN). Selain itu, aturan ketat dari pemerintah setempat mewajibkan pengajuan izin resmi untuk setiap agenda kunjungan minimal satu bulan sebelum pelaksanaan.
Menghadapi kompleksitas ini, MDMC menekankan pentingnya membangun kemitraan dengan lembaga lokal yang memiliki legalitas formal serta tata kelola organisasi yang baik.
Pendekatan ini tidak hanya untuk memperlancar proses pelaksanaan program, tetapi juga untuk memastikan akuntabilitas serta keberlanjutan respons kemanusiaan di wilayah yang rentan konflik.
“Kami sangat menghargai peran mitra lokal dalam setiap upaya respons kami. Mereka adalah jembatan penting yang memungkinkan kami memahami karakteristik sosial dan budaya setempat, sekaligus memperkuat koordinasi dengan warga,” ujar Syahri Ramadhan, perwakilan MDMC.
“Ke depan, Muhammadiyah akan terus menguatkan jejaring kolaborasi dengan lembaga-lembaga lokal agar misi kemanusiaan yang kami jalankan lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.”
MDMC juga menegaskan bahwa kebutuhan warga terdampak masih sangat besar dan memerlukan perhatian luas dari berbagai elemen.
Untuk itu, Muhammadiyah mendorong keterlibatan para pihak, baik lembaga donor, institusi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, maupun masyarakat umum untuk turut serta dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi di Myanmar.
Inisiatif kemanusiaan di Myanmar ini merupakan bagian dari visi besar Muhammadiyah dalam menginternasionalkan nilai-nilai Islam Berkemajuan melalui aksi nyata dalam kerja-kerja kemanusiaan global.
Hal ini sekaligus menjadi implementasi dari mandat Muktamar Muhammadiyah, yang mengamanahkan pentingnya memperluas peran dan kontribusi organisasi dalam membangun solidaritas global dan memperkuat ketangguhan masyarakat dunia terhadap bencana. (*/wh)
