*) Oleh: Agus Priyadi, S.Pd.I.
Anggota KMM PDM Banjarnegara dan Santri Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah di Banjarnegara
Siapa bilang kata – kata tidak memiliki kekuatan. Memang, pada dasarnya kata-kata bersifat netral. Namun bila kata-kata tersebut diucapkan dengan niat, tujuan dan cara tertentu, dapat menjadi sebuah kekuatan. Bahkan kata – kata dapat menggerakkan dan mempengaruhi hati dan pikiran seseorang.
Sebagai contoh, adanya demonstrasi yang terjadi di kota – kota besar atas ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, adalah bukti bahwa kata-kata mempunyai kekuatan untuk menggerakkan massa.
Mereka berbondong-bondong, kemudian berkumpul di suatu tempat sambil meneriakkan yel yel serta mengikuti arahan orator yang membakar semangat untuk melakukan aksi tersebut atas nama solidaritas dan keadilan.
Oleh karena itu, kita harus hati – hati dalam menggunakan kata-kata. Kita mesti selektif dan pastikan kata -kata yang kita gunakan adalah kata – kata yang baik serta untuk suatu tujuan yang baik pula.
Kata-kata yang baik akan membawa kebaikan. Dan kata – kata yang tidak baik akan membawa keburukan, baik bagi diri si pengucap maupun bagi orang lain. Untuk itu, gunakanlah kata atau kalimat yang sekiranya membawa manfaat. Jangan sampai kata-kata yang kita ucapkan adalah kata-kata kotor yang membawa mudhorot atau bahkan petaka, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Setiap kata yang disampaikan oleh orang baik dan untuk tujuan yang benar, tentu akan menjadi kebaikan pula. Sebagai contoh kata-kata yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Apa yang disampaikan oleh beliau bukanlah kata – kata biasa. Namun kata – kata yang didasari oleh kebaikan itu sendiri.
Beliau adalah orang yang maksum, artinya terjaga dari dosa sehingga hati, pikiran dan perkataannya bersih dari dosa. Oleh karenanya, setiap kata yang diucapkan oleh beliau adalah kata – kata yang benar (shohih). Terhindar dari maksiat dan dosa sehingga dapat menjadi pedoman hidup bagi ummatnya.
Kata-kata yang dirangkai dengan apik, untuk maksud yang baik, juga memiliki magic. Berbeda dengan kata-kata kotor, terlebih disampaikan dengan cara kasar. tentu kata – kata tersebut dapat menyakiti orang lain. Bukan hanya itu, bahkan dapat memicu permusuhan. Mengapa? Karena kata – kata tersebut terasa sengak di telinga pendengarnya yang pada akhirnya menyulut emosi orang tersebut.
Penjelasan di atas merupakan gambaran bahwa kata – kata bukan sekedar rangkaian huruf. Lebih dari itu, bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang mampu menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan sesuai perkataan tersebut. Apakah positif atau negatif tergantung siapa yang mengucapkan kata tersebut, bagaimana cara menyampaikannya dan apa tujuan yang ingin dicapainya.
Dalam konteks dakwah, seorang dai mesti harus belajar banyak tentang dunia kata – kata. Mulai dari struktur, bagaimana penggunaannya, intonasi, aksesntuasi, gestur dan lain sebagainya. Dengan demikian kata-kata yang disampaikannya kelak, bukan sekedar kata-kata biasa, akan tetapi kata – kata yang memiliki makna untuk diikuti sehingga apa yang disampaikannya menjadi “magnet” yang menarik bagi jama`ah.
Seorang dai yang baik adalah mereka yang dapat mengolah kata-kata menjadi pesan baik yang dapat diterima oleh audien dakwah (jama`ah). Dai juga mesti paham karakteristik jama`ah sehingga ia dapat mengajak mereka dengan kalimat yang tepat sesuai dengan tingkat pendidikan, situasi sosial, umur dan lain sebagainya. Dengan kata lain, kalimat yang digunakan oleh sang dai kongruen dengan kondisi jama`ah.
Untuk itu, dai, di samping menguasai materi dakwah seperti al Qur`an hadis, fikih, akidah, dan lain-lain, juga harus menguasai ilmu lain untuk mendukung kompetensi dirinya dalam berdakwah diantaranya adalah ilmu linguistik. Mengapa? Karena bekal kemampuan linguistik itu dapat memberikan banyak manfaat dalam mengemban tugas dakwahnya. Dai yang menguasai linguistik serta komunikasi masa, kelak akan dapat menyampaikan pesan dakwah dengan kata-kata yang tepat dan efisien.
Dai yang baik bukanlah dai yang menjelaskan materi dakwah dengan bertele tele karena hal tersebut membosankan bagi jama`ah. Namun justru sebaliknya, ia menyampaikan materi dakwahnya dengan bahasa sederhana dan efektif sehingga mudah diterima oleh jama`ah bahkan oleh kalangan awam sekalipun. Di sinilah problemnya, kerap kali dai menguasai materi dakwah, akan tetapi kurang sensitif terhadap kondisi jama`ah sehingga pola dakwahnya monoton.
Oleh karenanya, para dai yang akan terjun ke medan dakwah harus dibekali dengan dasar – dasar retorika dakwah. Diharapkan dengan bekal tersebut dakwahnya berlangsung menarik, indah, menggembirakan serta memiliki daya pikat. Untuk mewujudkan dakwah seperti ini, memang tidak cukup hanya belajar teori belaka, akan tetapi perlu jam terbang dan pengalaman yang panjang. Pengalaman yang diperoleh melalui pergulatan dakwah di lapangan seperti inilah yang akan menjadi input penting bagi seorang dai untuk terus belajar dan membenahi kekurangannya. Tanpa belajar dan pengalaman, rasanya sulit mewujudkan dakwah yang ideal.
Zainudin M Z, atau yang lebih dikenal dengan julukan dai sejuta ummat, adalah contoh nyata bagaimana retorika dakwah yang dikuasainya mampu menggerakkan ummat untuk mengaji, menyimak dan selanjutnya mengamalkan apa yang disampaikannya.
Ummat rela berbondong – bondong menghadiri ceramah beliau lantaran bahasa yang digunakannya ringan, indah dan menarik. Intonasi yang dimainkan juga bagus. Ada kalanya menggunakan tempo cepat. Adakalanya lambat. Adakalanya tinggi dan adakalanya rendah. Semua itu diorkestra dengan apik sehingga menjadikan dakwah itu menarik. Ditambah lagi dengan joke – joke dan humor tentu semakin menyegarkan suasana dakwah.
Setiap ada dakwah KH. Zainudin M.Z, jemaah terpukau dengan ceramah beliau. Karena beliau “masuk” dalam pikiran dan hati jama`ah. Beliau benar – benar ada di hati pendengar. KH. Zainudin MZ. bukan hanya bicara di atas mimbar, namun juga berinteraksi dengan jemaah baik secara mental maupun spiritual. (*)
