*)Oleh: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin
Humas Universitas Negeri Malang (UM) dan Wakil Ketua PCPM Klojen Kota Malang
Di tengah arus modernitas yang kian menyoroti kemajuan teknologi dan material, krisis karakter manusia sering kali terabaikan. Surat Al‑Ma‘ūn menjadi salah satu rujukan panggilan revolusi karakter bagi Bangsa Indonesia untuk menata ulang watak: dari sikap acuh tak acuh hingga ketidakpedulian sosial.
Allah SWT melalui Surat Al-Ma’un telah menegur keras bagi mereka yang: 1) mengingkari agama, 2) tak peduli pada anak yatim, 3) tak menganjurkan memberi makan orang miskin, 4) lalai dalam salat, dan 5) munafik dalam ibadah hingga menolak pertolongan kecil kepada sesama (QS 107:1–7).
Di balik teguran tersebut, Allah SWT dalam Surat Al‑Ma’un mengingatkan bahwa ibadah ritual semata—tanpa kepekaan terhadap kaum dhuafa—adalah kosong makna. KH Ahmad Dahlan—pendiri Muhammadiyah—mengembangkan tafsir kontekstual yang mempersatukan ibadah mahdhah (ritual) dan ghairu mahdhah (amal sosial) dalam satu kesatuan praksis. Bagi beliau, menjunjung tinggi integritas (jujur dalam niat dan tindakan) dan empati sosial (peduli terhadap sesama) adalah pilar revolusi karakter yang harus diinternalisasi oleh setiap warga negara Indonesia.
KH Ahmad Dahlan melalui tafsir Surat Al‑Ma’un tersebut tidak hanya menegaskan kesejajaran ritual dan amal sosial, melainkan menjadi landasan strategis untuk mewujudkan revolusi karakter bangsa Indonesia yang jujur, peduli, dan tangguh.
Dalam konteks kebangsaan, teologi Al‑Ma’un menawarkan kerangka normatif dan praktis untuk menjawab tantangan moral di era globalisasi, mulai dari maraknya korupsi hingga renggangnya solidaritas antarkelompok. Sehingga menjaga nilai integritas hingga peduli terhadap sesama terutama kepada kaum mustadha’fin menjadi semangat untuk meruntuhkan dominasi krisis karakter yang dialami oleh suatu bangsa.
Revolusi karakter ala Al‑Ma’un yang ditawarkan oleh Muhammadiyah diimplementasikan melalui pembangunan jaringan sekolah, klinik, dan lembaga sosial sehingga dengan demikian menjadi model pelibatan masyarakat dalam aksi nyata. Namun, untuk skala nasional, perlu ada sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi keagamaan. Misalnya, kurikulum pendidikan kebangsaan dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai Al‑Ma’un: siswa diajak tidak hanya membaca ayatnya saja, tetapi juga memperdalam kandungan maknanya hingga asbabun nuzulnya. Selain itu siswa juga diajarkan dalam penerapan isi kandungan Surat Al-Ma’un tersebut dimana mereka dilibatkan langsung dalam kegiatan sosial—zakat, wakaf, dan bakti kemanusiaan—sebagai wujud nasionalisme moral.
Kemudian di tingkat birokrasi pemerintahan, prinsip Al‑Ma’un menuntut penyelenggaraan publik yang transparan dan berkeadilan. Aparatur negara diharapkan tidak hanya “menunaikan tugas” administratif, tetapi juga membela hak kelompok rentan—petani, nelayan, dan masyarakat terpencil. Model ini sejalan dengan amanah konstitusi yang menempatkan kesejahteraan sosial sebagai tujuan negara (Pembukaan UUD 1945 alinea keempat). Dengan menanamkan spirit Al‑Ma’un, reformasi birokrasi tidak sekadar soal efisiensi, tetapi juga etika dalam melayani.
Tidak cukup sampai disitu, tafsir Surat Al-Ma’un oleh KH Ahmad Dahlan tersebut perlu untuk diperjuangkan dan diterapkan penuh dengan komitmen yang tinggi dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Sebab tanpa keduanya, nilai-nilai Al-Ma’un hanya akan berhenti di meja forum diskusi dan dianggap sebagai formalitas saja sehingga sulit memasuki relung qalbu setiap umat Muslim khususnya di Indonesia.
Lalu dari tafsir Surat Al-Ma’un oleh KH Ahmad Dahlan tersebut dapat diambil benang merahnya, bahwa sangat penting nilai-nilai ibadah ritual menyatu dengan kepribadian seorang Muslim. Sebab nilai di dalamnya menyadarkan dan mengingatkan kita sebagai manusia (hamba) yang sangat perlu untuk memiliki sandaran tempat meminta, memohon pertolongan, ampunan dan keridhaan kepada Dzat yang Maha Agung yaitu Allah SWT.
Pertolongan, ampunan hingga Ridha Allah SWT tersebut dapat kita raih dengan adanya aksi nyata yaitu dengan cara menampilkan akhlakul karimah disetiap aspek kehidupan, memberikan manfaat atau ilmu kepada orang lain dan saling tolong menolong dalam kebaikan.
Maka dengan demikian terciptalah karakter seseorang yang selain religius juga peka dan peduli terhadap tatanan masyarakat sosial di sekitarnya. Kemudian, supaya lebih terukur terhadap ketercapaian karakter tersebut diperlukan pendidikan karakter yang menitikberatkan dalam pembinaan niat (ikhlas) dan kontrol akhlak, sehingga setiap program revolusi karakter bersumber dari keyakinan yang mendalam.
Di era digital ini telah membuka peluang dan tantangan baru bagi revolusi karakter bangsa sehingga diperlukan kontrol akhlak yang kuat terhadap umat Muslim. Kontrol akhlak tersebut dapat diterapkan dengan cara jujur dalam berbagi informasi, keberanian menolak ujaran kebencian, dan kepedulian terhadap penyebaran konten positif didunia maya atau digital. Organisasi masyarakat dan pemerintah dapat memanfaatkan platform digital untuk kampanye literasi media dan etik berinternet, mengintegrasikan ayat Al‑Ma’un sebagai referensi moral—bahwa kecanggihan teknologi tanpa jiwa kemanusiaan justru berbahaya.
Pentingnya revolusi karakter bukan hanya sekadar slogan, melainkan syarat mutlak bagi ketahanan nasional. Karakter jujur mengurangi korupsi, karakter peduli mempererat solidaritas sosial, dan karakter bertanggung jawab menjaga keberlanjutan pembangunan. Teologi Al‑Ma’un yang ditafsirkan KH Ahmad Dahlan menjadi salah satu pijakan bagi bangsa Indonesia untuk dapat menumbuhkan generasi yang berintegritas dan berempati sebagai modal utama untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045.
Revolusi karakter ala teologi Al-Ma’un menawarkan peta jalan pembaruan moral dan sosial yang relevan bagi bangsa Indonesia. Dengan menyelaraskan ritualitas keagamaan dan aksi kemanusiaan dalam semangat Al‑Ma’un, kita menanam benih karakter unggul—jujur, peduli, dan bertanggung jawab—yang akan membimbing Indonesia menuju masa depan gemilang. (*)
