Dalam menjalani kehidupan ini, setiap Muslim dituntut untuk senantiasa berhati-hati dalam setiap langkah yang diambil, terutama dalam hal memilih antara yang halal dan haram.
Ketika hati mulai merasakan keraguan terhadap suatu perkara—apakah ia halal, haram, atau berada di antara keduanya, maka langkah yang paling selamat adalah meninggalkannya.
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam telah memberikan bimbingan yang sangat indah dan mendalam dalam sabda beliau:
Dari An-Nu’man bin Basyir RA, ia berkata:
“Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Yang halal itu jelas, dan yang haram pun jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar, yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjerumus ke dalam hal-hal syubhat, maka ia seperti penggembala yang menggembala di sekitar kawasan terlarang, dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja memiliki kawasan larangan, dan ketahuilah bahwa kawasan larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan. Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik; namun jika ia rusak, maka seluruh tubuh pun akan rusak. Ketahuilah, itulah hati.'” (HR. Bukhari)
Hadis ini memberikan pedoman yang kuat bahwa ketika kita mendapati suatu perkara yang belum jelas status hukumnya, apakah termasuk halal atau haram.
Maka, sebaiknya kita meninggalkannya. Sikap ini merupakan bentuk ketakwaan, kehati-hatian, serta tanda keinginan kuat untuk menjaga diri dari perkara yang dapat menyeret kita ke dalam dosa.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
“Dan kamu menganggapnya perkara yang ringan, padahal di sisi Allah ia adalah perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)
Betapa seringnya manusia memandang remeh perbuatan-perbuatan yang sejatinya merupakan pelanggaran di mata Allah. Padahal, Allah Maha Mengetahui dan selalu mengawasi setiap perbuatan hamba-Nya.
“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar selalu mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)
Maka dari itu, marilah kita berusaha mencari rezeki yang halal, rezeki yang tidak hanya mengenyangkan tetapi juga penuh berkah dan mendatangkan ridha Allah. Janganlah kita tergiur untuk menempuh jalan yang syubhat atau bahkan haram demi mendapatkan dunia yang fana.
Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)
Mengejar dunia dengan menghalalkan segala cara adalah tindakan yang keliru. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, bukan tempat tinggal abadi. Sungguh merugi jika kita rela menggadaikan akhirat kita yang kekal demi dunia yang sesaat.
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lalu hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita agar mampu membedakan mana yang halal dan mana yang haram, serta diberi kekuatan untuk meninggalkan perkara-perkara yang syubhat.
Semoga kita semua diselamatkan dari perbuatan yang dilarang oleh-Nya, dan diberikan keistiqamahan untuk menempuh jalan yang diridhai.
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan menjadikannya faham dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Segala kebenaran datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan jika ada kesalahan dalam tulisan ini, itu adalah karena kelemahan dan kekurangan manusia. Mohon dimaafkan atas segala kekeliruan.
Barakallahu fiikum. Semoga Allah memberkahi kita semua. (*)
