Rida Allah Tergantung Rida Kedua Orang Tua

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Rida orang tua adalah kunci pintu keberkahan dan rida Allah. Rida orang tua adalah kunci utama meraih rida Allah dan keberkahan hidup. Berbakti dan membahagiakan mereka adalah bentuk jihad dan jalan tercepat menuju surga. Mendapatkan restu orang tua sebelum melangkah—seperti menuntut ilmu, bekerja, atau bepergian—dapat mendatangkan keberkahan dan melindungi dari kesulitan hidup.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: رِضَا اللهِ فِى رِضَا اْلوَالِدِ وَ سُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ اْلوَالِدِ. الترمذى و ابن حبان و الحاكم

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr RA, ia berkata : Rasulullah saw telah bersabda: “Rida Allah itu tergantung ridanya ayah, dan kemarahan Allah itu tergantung kemarahan ayah”. [HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim]

Kandungan Utama Hadis

  • Rida Allah Melalui Rida Orang Tua: Seseorang dapat meraih keridaan Allah (kesuksesan dunia-akhirat) dengan cara memastikan orang tuanya (ayah dan ibu) rida, senang, puas, dan bahagia terhadap perilaku anak tersebut.
  • Murka Allah Melalui Murka Orang Tua: Sebaliknya, membuat orang tua kecewa, marah, jengkel, atau murka adalah cara tercepat mendapatkan murka Allah, yang menyebabkan hilangnya keberkahan hidup.
  • Pintu Surga dan Neraka: Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Menaati dan membahagiakan mereka adalah bentuk ketaatan tertinggi kepada Allah setelah ibadah wajib.

Makna Kontekstual

  • Ketaatan Beriringan: Allah menggandengkan perintah menyembah-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa rida Allah sejalan dengan perilaku anak kepada orang tuanya.
  • Rezeki dan Umur: Bakti kepada orang tua (rida mereka) berkorelasi langsung dengan keberkahan, kemudahan rezeki, dan dipanjangkannya umur (keberkahan umur).
  • Pentingnya Membahagiakan: Rida orang tua diperoleh dengan cara melayani mereka dengan penuh hormat, tidak membentak, tidak mengucapkan perkataan kasar (seperti “ah”), dan memenuhi kebutuhan mereka dengan kasih sayang.

Rida orang tua yang dimaksud adalah dalam hal-hal kebaikan dan ketaatan. Jika orang tua memerintahkan kemaksiatan atau menyekutukan Allah, maka anak wajib menolak dengan cara yang halus.

Ketaatan kepada orang tua hukumnya wajib (fardhu ain) selama perintah mereka berada dalam koridor kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Jika orang tua memerintahkan kemaksiatan, kesyirikan, atau hal yang melanggar syariat, anak wajib menolak. Dasar hukumnya adalah hadis: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”

Meskipun wajib menolak, anak harus menyampaikannya dengan cara yang halus, sopan, dan penuh kasih sayang, tidak boleh kasar atau membentak. Penolakan terhadap maksiat tidak menggugurkan kewajiban untuk tetap berbuat baik dan menjaga silaturahmi dengan orang tua.

Hal ini ditegaskan dalam Surat Luqman ayat 15, bahwa meskipun orang tua memaksa untuk berbuat syirik (menyekutukan Allah), anak wajib menolak perintah tersebut namun tetap menemani dan memperlakukan mereka dengan baik (berbakti) dalam urusan duniawi. Ayat ini membatasi ketaatan hanya pada hal kebaikan, bukan maksiat.

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman ayat 15).

Tafsir dan Poin Penting Surat Lukman Ayat 15:

  • Pengecualian Ketaatan: Jika orang tua memaksa untuk melakukan perbuatan syirik atau kemaksiatan, anak tidak boleh mematuhi mereka.
  • Tetap Berbakti (Ma’ruf): Larangan mematuhi perintah maksiat tidak menggugurkan kewajiban berbuat baik. Anak tetap wajib menemani, menghormati, dan bersikap santun kepada orang tua di dunia, terutama dalam urusan materi/fisik.
  • Toleransi Keluarga: Islam mengajarkan toleransi dan tetap menjaga hubungan silaturahim dengan orang tua meski berbeda keyakinan, selama tidak mencampuri urusan akidah.
  • Fokus pada Tauhid: Anak harus mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah (tauhid) dan tidak mengikuti jalan orang yang menyekutukan-Nya.
  • Tanggung Jawab Akhir: Akhir dari segala urusan adalah kembali kepada Allah, di mana setiap perbuatan akan dihisab.

Ayat ini merupakan panduan moderat dalam hubungan orang tua-anak, menjunjung tinggi bakti namun tetap memprioritaskan tauhid pengesaan kepada Allah Ta’ala dalam keyakinan, perkataan dan amal perbuatan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search