Rindu yang Tumpah di Pelukan Ustazah Diyah

www.majelistabligh.id -

Suasana halaman Sekolah Dasar Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya siang itu dipenuhi tawa ceria.

Aroma ayam goreng dan sayur sop yang mengepul dari panci besar mengundang selera.

Seperti biasa, setiap Jumat menjadi hari istimewa bagi siswa-siswi Musix. Tak ada bekal dari rumah, karena para orang tua telah menyiapkan Jumat Berkah, sajian makan siang penuh cinta, hasil donasi para mama-mama hebat.

“Anak-anak, harus makan sayur lho, supaya kalian sehat!” seru Oktagiana, SE, Ketua Paguyuban Kelas, sambil membagikan piring.

Arahan itu langsung nyambung dengan pelajaran pagi tadi. “Betul! Kita belajar tentang fotosintesis,” sahut para siswa.

Obrolan pun bergeser pada klorofil, serat sayuran, hingga manfaatnya bagi pencernaan. Pendidikan di Musix memang tak pernah berhenti, bahkan di sela makan siang.

Semua berjalan seperti biasa. Anak-anak duduk melingkar, makan sambil bercanda. Hingga sebuah suara kecil memecah suasana.

“Ustazah Diaaaah…!” teriak salah seorang siswa, diikuti teriakan lain yang makin riuh.

Langkah seorang perempuan paruh baya terlihat memasuki halaman. Matanya teduh. Bibirnya tersenyum.

Dialah Badriyah, S.Pd, guru yang akrab disapa Ustazah Diyah, sosok yang telah mengabdikan hidupnya di Musix selama lebih dari 40 tahun, sebelum purna tugas beberapa waktu lalu.

Tanpa komando, puluhan anak kelas empat berhamburan menghampiri. Ada yang langsung memeluk pinggangnya erat, ada yang meraih tangannya, ada yang hanya berdiri sambil menangis.

Isak tangis pun pecah di antara aroma ayam goreng yang masih menggantung di udara.

“Kami kangen sekali, Ustazah…,” lirih salah satu murid dengan mata berkaca-kaca.
“Ustadzah juga kangen kalian,” balas Diyah, sambil membelai kepala mereka satu per satu.

Di tengah pelukan, ia menyelipkan nasihat yang sederhana namun penuh makna,
“Rajinlah belajar, taat kepada orang tua dan guru, ya…”

Kata-kata itu disambut anggukan serius dari wajah-wajah mungil yang belum rela melepasnya.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk bersama, bercerita, menertawakan kenangan lama. Sebelum berpamitan, anak-anak berdesakan untuk berfoto, seolah ingin mengabadikan setiap detik pertemuan.

“Kapan-kapan ke sini lagi ya, Ustazah…” pinta mereka. Diyah tersenyum, mengangguk, lalu melambaikan tangan.

Siang itu, Jumat Berkah di Musix tak hanya mengenyangkan perut. Ia juga mengenyangkan hati.

Menu ayam goreng dan sayur sop menjadi saksi bahwa kerinduan tak mengenal jarak atau waktu. Sebab bagi seorang guru dan murid, ikatan yang dibangun dari kasih sayang akan selalu hidup. Bahkan setelah bel terakhir berbunyi. (basirun)

Tinggalkan Balasan

Search