“Bu, aku main Roblox ya, sebentar aja!”
Kalimat seperti ini sudah jadi hal biasa di rumah-rumah kita hari ini. Roblox — platform game online yang terlihat warna-warni, lucu, dan penuh imajinasi — sudah seperti teman setia anak-anak zaman sekarang.
Tapi, tahukah kita, di balik gemerlap dunia digital itu, ada sisi gelap yang kadang tak kita sadari?
Beberapa waktu lalu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti sempat mengeluarkan pernyataan keras tentang Roblox. Katanya, game ini mengandung unsur kekerasan.
KPAI pun menimpali bahwa pemerintah sebenarnya punya wewenang untuk memblokir akses game jika terbukti melanggar aturan.
Bagi sebagian orang, mungkin terdengar berlebihan. Tapi, kalau kita mau jujur, pernahkah kita benar-benar menengok apa yang sebenarnya dimainkan anak-anak kita di balik layar itu?
Ketika Anak Belajar dari Layar, Bukan Lagi dari Kehidupan
Anak-anak itu seperti spons. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan — semua terserap begitu saja. Dalam psikologi, ini disebut dengan teori belajar sosial.
Singkatnya, anak cenderung meniru. Kalau yang ditonton dan dimainkan penuh kekerasan, ya… jangan heran kalau mereka jadi lebih agresif, suka marah-marah, atau bicara kasar.
Saya pernah bertemu dengan seorang guru SD di Surabaya. Ia bercerita bahwa beberapa siswanya sering menirukan adegan tembak-tembakan dari Roblox saat istirahat. Lucu?
Mungkin. Tapi ketika ditanya soal nilai PPKn atau ajaran agama, mereka kebingungan. Dunia digital ini perlahan-lahan menggeser nilai-nilai yang dulu ditanamkan lewat dongeng, nasihat nenek, atau pengalaman di lapangan.
Islam tidak melarang hiburan. Bahkan Rasulullah ﷺ pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tapi semua ada batas. Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Artinya jelas. Tugas kita bukan hanya memberi makan, menyekolahkan, atau membelikan gawai. Tapi juga mengawal jiwa dan pikiran mereka agar tetap dalam jalan yang benar.
Rasulullah saw bahkan bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
Masalahnya bukan semata-mata pada game-nya. Tapi pada siapa yang mendampingi. Anak-anak boleh main Roblox, asal tahu batas, tahu nilai, dan tahu mana yang baik atau buruk.
Masalah muncul ketika mereka bermain sendiri, tanpa arahan, tanpa kontrol, dan tanpa komunikasi yang hangat dari orang tua.
Kita, para orang tua dan pendidik, perlu kembali merebut ruang dalam dunia anak. Bukan dengan memarahi atau melarang tanpa sebab, tapi dengan mengenal apa yang mereka sukai, ikut masuk dalam dunia mereka, lalu pelan-pelan mengarahkan. Bukan membentak, tapi merangkul.
Zaman sekarang memang serba digital. Kita tak bisa melarang internet, game, atau teknologi. Tapi kita bisa menyaring, mengawasi, dan mendampingi.
Karena akhirnya, bukan soal Roblox atau bukan. Tapi soal apakah anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang kuat mental, jernih akal, dan baik budi pekertinya.
Jadi, yuk, kita lebih dekat dengan anak. Tanyakan apa yang mereka mainkan. Dengarkan cerita mereka.
Lalu, bersama-sama kita arahkan agar teknologi jadi alat pembangun karakter — bukan perusak generasi. (*)
